WORLD BATAK COMMUNITY

*Horas Jala Gabe ma Dihita Saluhutna *Horas Tondi Mandingin Pir ma Tondi Matogu,Sayur Matua Bulung *Horas Banta Haganupan,Habonaran do Bona *Majuah-juah Kita Krina *Njuah-juah Mo Banta Karina*

Jumat, 07 Agustus 2015

SEKILAS TENTANG SUKU BATAK

Suku Batak terdiri dari  enam sub etnis yaitu Toba,Simalungun,Mandailing, Angkola,Karo dan Pak-pak.
Untuk mengetahui tentang suku Batak, tentunya kita harus mengenal bebarapa aspek tentang suku batak itu sendiri yaitu :

- Sejarah suku Batak
- Identitas suku Batak
- Agama yang dianut suku Batak
- Kepercayaan suku Batak
- Salam khas suku Batak
- System kekerabatan suku Batak
- Falsafah suku Batak

SEJARAH SUKU BATAK

Orang Batak adalah penutur bahasa Austronesia namun tidak diketahui kapan nenek moyang orang Batak pertama kali bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke wilayah Filipina dan Indonesia sekitar 2.500 tahun lalu, yaitu pada zaman batu muda (Neolitikum). Karena hingga sekarang belum ada artefak Neolitikum (Zaman Batu Muda) yang ditemukan di wilayah Batak maka dapat diduga bahwa nenek
moyang Batak baru bermigrasi ke Sumatera Utara pada zaman logam.Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kapur Barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur Barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera.

Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kapur Barus mulai banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah: Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing.

IDENTITAS SUKU BATAK

R.W Liddle mengatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatra bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar. Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang istri dari putra pendeta Batak Toba menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah cerita sejarah Batak yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Buhit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.

Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pustaka Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal
ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.

AGAMA YANG DIANUT SUKU BATAK

Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, dan Islam. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tadisional yakni: tradisi Malim / Parmalim.

- Islam
Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Battuta,
mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak. Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Kristen Protestan dan Kristen Katolik.Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat Melayu di pesisir Sumatera Timur.

- Kristen Protestan
Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak. Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan
pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks
terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak

- Kristen Katolik
Misi Katolik masuk ke Tanah Batak setelah Zending Protestan berada di sana selama 73 tahun. Daerah-daerah yang padat penduduknya serta daerah-daerah yang subur sudah menjadi “milik” Protestan. Menurut Sybrandus van Rossum dalam tulisannya berjudul “Matahari Terbit di Balige” bahwa pada tahun 1935 orang
Batak yang sudah dibaptis di Protestan mencapai lebih kurang 450.000 orang. Lembaga pendidikan dan kesehatan sudah berada di tangan Zending. Zending juga sudah mempunyai kader-kader yang tangguh baik dalam masyarakat maupun dalam pemerintahan. Dalam situasi seperti itulah Misi Katolik masuk ke Tanah Batak

KEPERCAYAAN SUKU BATAK

Sebelum suku Batak Toba menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi na Bolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep,
yaitu:
-Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia.Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
- Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula. 
- Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.

SALAM KHAS SUKU BATAK

Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni Mejuah juah
dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya.

1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

SYTEM KEKERABATAN SUKU BATAK

Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan
sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.
Didalam suku Batak ada yang dinamakan Silsilah atau Tarombo yang merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga.

FALSAFAH SUKU BATAK

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak

1. Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru
2. Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru
3. Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei.
4. Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru
5. Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek marberru.

- Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

- Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun, pertikaian tidak membuat
hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

- Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti
bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi
Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik
sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.


sumber : id.wikipedia.org

KEUNIKAN YANG DIMILIKI SUKU BATAK

Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak Suku Budaya. Bila kita runut dari Sabang sampai Merauke lebih dari ratusan suku dan budaya. Tentunya salah satu suku yang besar di NKRI ini adalah Suku Batak. Orang Batak menyebut Suku Batak ini adalah Bangso Batak.

Penyebutan Bangso Batak pada orang Batak juga merupakan salah satu yang unik. Karena sebutan Bangso (Bansgo bahasa Indonesia artinya Bangsa) hanya ditemukan pada suku Batak. Bila kita kaji lebih jauh, bahwa Suku Batak merupakan sebuah Bangsa (Bangso) yang ada di muka bumi ini, selain bangsa-bangsa lainnya.

Berikut  beberapa keunikan yang dimiliki suku Batak :

1. Orang Batak berdaya juang tinggi dan pantang menyerah (strugle)
Orang Batak terutama kaum prianya, begitu lulus SMA kebanyakan tidak mau menjadi petani dengan turun ke sawah dan ladang. Mereka akan merantau ke daerah lain, bisa ke aceh, pekanbaru, batam, palembang, jawa, kalimantan, sulawesi bahkan papua demi kehidupan yang lebih baik. Mereka rela menumpang di rumah kerabat dimana saja, rela kerja apa saja (sopir, kenek, tambal ban, warung makan, pengamen, kuli panggul, timer angkot dll) yang penting halal. Prinsip Orang Batak tegas : “pantang pulang kampung sebelum menjadi orang (berhasil).” Contoh paling nyata, orang batak paling berhasil saat ini, Chairul Tanjung, dari anak singkong jadi anak kingkong (kerajaan bisnis dimana-mana).

2. Orang Batak Persaudaraannya Kuat
Garis keturunan suku batak yang patrilineal membuat para pria membawa garis keturunan keluarga dan mendapat marga sejak dilahirkan. Dimanapun orang Batak berada, baik di Amerika utara maupun di australia selatan, baik di barat afrika maupun di eropa timur, apabila dua orang batak bertemu, dan masih dalam marga yang sama (atau satu rumpun misal Silalahi dengan Sinurat) maka kehangatan sebagai saudara langsung tercipta, karena memang mereka bersaudara. Jika di runut silsilah keluarganya, maka akan ketemu di keturunan keberapa orang-orang tua mereka kakak beradik. Yang lebih mampu membantu yang kurang mampu sudah menjadi hal biasa di kalangan orang batak satu marga. Hal yang sangat sulit di temui di suku lain yang tidak mempunyai marga di batak atau fam di menado.

3. Orang Batak Pantang Untuk Bercerai dan Menganut Paham Monogami
Ketika orang Batak sudah berkeluarga, sebuah perceraian merupakan sesuatu yang sangat tabu dan pantang. Karena perkawinan bagi orang Batak adalah sakral dan amanah dari Tuhan dan leluhur. Permasalahan apapun yang dihadapi oleh keluarga Orang Batak, maka perkawinan akan tetap dipertahankan. Karena pernikahan bukan hanya sekedar mempersatukan dua orang saja, melainkan merpesatukan kedua keluarga besar dari masing-masing mempelai.
Orang Batak menganut paham monogami. Tidak dibenarkan adanya paham poligami bagi orang Batak. Ketika orang batak sudah menikah, maka pernikahan ini akan dijaga sebaik-baiknya. Apabila seorang suami memiliki lebih dari 1 istri, maka akan terjadi perang keluarga di keluarga tersebut.

4. Orang Batak Pintar dan Banyak Taktik (BATAK)
Bila kita lihat di berbagai instansi (dunia pekerjaan) di republik ini, maka kita pasti akan menemukan orang Batak di dalamnya. Baik di dunia bisnis (swasta) maupun pemerintahan. Orang Batak juga mempunyai Taktik (pola pikir yang maju). Salah satu contohnya adalah Lagu Batak yang berjudul Anak Medan. Bila kita simak lirik lagunya itu menggambarkan bagaimana Orang Batak hidup di perantauan. Seperti "Modal Pergaulan Bisa Hidup di Mana pun (perantauan)". Orang Batak pintar bergaul dan banyak akal untuk hidupnya agar survive.

5. Orang Batak Punya Sentuhan Midas
Sentuhan midas bermakna mampu merubah apapun yang biasa-biasa bahkan yang dibuang orang menjadi emas. Beberapa Orang Batak mempunyai sentuhan midas ini, dalam ruang lingkup yang bersesuaian.

 sumber : batak-network.blogspot.com

Jumat, 31 Juli 2015

WARISAN SIRAJA BATAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP ORANG BATAK

Ada 12 hukum  yang dibuat masyarakat batak sebagai tatanan hidup sehari-hari agar menjadi masyarakat yang bersih dan berwibawa sebagai keturunan Raja, karena yang merancang hukum ini adalah seorang Raja yang bernama si Raja Batak. Inilah faktor penyebab setiap orang batak disebut anak raja.

1. Sukkun mula ni hata, sise mula ni Uhum,
Artinya:
Untuk mengambil suatu keputusan harus dengan musyawarah,

2. Jongjong adat nasotupa tabaon, nahot naso jadi husoron,
Artinya;
Adat yang telah dirancang moyang dari dulu, walaupun tidak tertulis tapi tak boleh dirubah,

3. Boni naso jadi dudaon,
Artinya;
Seseorang tidak boleh mengganggu kehidupan dan mata pencaharian orang lain,

4. Parinaan ni manuk naso jadi siseaton,
Artinya;
Segala sesuatu yang telah dirancang oleh nenek-moyang tidak boleh kita hilangkan atau ditiadakan,

5. Tokka do dohonon Goar ni Inang Bao, tung pe binoto,
Artinya;
Tidak akan membeberkan suatu rahasia walau sudah jelas ada bukti, kalau nanti itu akan membawa/mengakibatkan kekacauan dan perpecahan,

6. Somba marhula-hula elek marboru manat mardongan tubu,
Artinya;
Falsafah Dalihan na Tolu adalah pondasi kehidupan masyarakat Batak yang harus di junjung tinggi,

7. Jeppek Abor naso silakkaon, na ni handing sosirasrason napinarik pe sotolbakon,
Artinya;
Sekecil apapun hukum tatanan yang telah disepakati, karena itu adalah hasil musyawarah maka tidak boleh dilanggar,

8. Dang sitodo turpuk siahut lomo ni roha,
Artinya;
Kita harus tabah akan apa yang telah kita terima dan nikmati, karena segala kehidupan manusia ada ditangan Tuhan (Mulajadi Nabolon),

9. Pattun hangoluan, tois hamagoan, unang pesalihon nalonga, jala unang ho makkilang,
Artinya;
Kita harus lemah lembut dan sopan santun diharapkan juga tidak akan mengambil riba/keuntungan dari orang miskin,

10. Nasojadi paboaon nasopatut tu ina-ina, alai muba do molo tu ina,
Artinya;
Jangan memberi informasi yang bersifat rahasia kepada orang yang suka atau sering menggosip,

11. Mar-Bo lao tu Tapian, ehem laho tu jabu,
Artinya;
Harus membiasakan diri dalam tata karma yang sangat hati-hati agar tak terjerumus dalam perbuatan amoral,

12. Alai li alai lio, singir gabe utang molo so malo,
Artinya;
Berusahalah jadi orang yang pintar dan bijak, karena orang bodoh akan selalu jadi santapan orang pintar.




Senin, 20 Juli 2015

MAKNA DAN FUNGSI TAROMBO (UNANG HO GABE "DALLE")

Tarombo adalah silsilah batak keturunan atau marga batak yang turun temurun diwariskan bagi orang batak. Dan sangatlah baik untuk mengetahui sejarah setiap marga yang ada di suku batak. Dan ini dapat memberikan informasi untuk kaum muda agar mengetahui siapa dia dan siapa teman, atau orang2 disekitarnya.Tarombo dan silsilah bagi orang Batak merupakan sesuatu yang sangat penting untuk mereka bersosial dan memaknai marga bukan sekedar tempelan akhir sebuah nama.

Marga memiliki makna yang dalam dan luas. Mempertahankan nilai budaya, memelihara kasih antar sesama keturunan, menjaga pengrusakan tutur karena tutur merupakan sebuah esensi dalam budaya Batak, mengeratkan kasih antar sesama terlebih satu kakek buyut, sebuah cara pandang terhadap suatu marga karena suatu marga merupakan sebuah representasi historis dan kebesaran, dan makna-makna penting dalam kehidupan lainnya. Secara garis besar, martarombo atau melihat silsilah merupakan sebuah upaya untuk kehidupan yang lebih bermakna. Itulah sebabnya, bagi orang Batak ada istilah ‘halak hita’ dan ‘halak sileban’. Halak hita mengacu pada kemurnian keturunan orang Batak, sementara halak sileban secara acuan untuk orang non Batak. Jika halak hita tersebut tidak memelihara tarombo dan silsilahnya maka label yang disandangkan menjadi ‘dalle’, yaitu orang Batak yang tidak mengindahkan budayanya. Label dalle sangat dibenci orang Batak, namun faktanya banyak orang secara tidak sadar men-dalle-kan diri dengan tidak mengajarkan budaya Batak didalam keluarganya, hal ini disebabkan alasan jauh dari kampung halaman (luar
Tapanuli dan Medan).

Dahulu, orang Batak dilarang menikah dengan halak sileban, hal ini untuk menjaga kemurnian keturunan. Mungkin dengan kawin campur akan membuat keturunan abai mengenai adat dan silsilahnya. Jika seorang laki menikah dengan non Batak, otomatis mengikuti garis ayah dan marga tetap eksis, sehingga garis keturunan terpelihara. Namun jika seorang perempuan menikah dengan non Batak maka otomatis perempuan tersebut tidak menggariskan marga dan secara silsilah akan hilang. Garis silsilah memang mengikuti marga laki-laki, namun jika seorang perempuan tidak melahirkan seorang yang bermarga maka hal tersebut merupakan sebuah ketidakberuntungan hidup bagi orang Batak. Selain itu, jika orang Batak memiliki ibu boru Batak, maka mereka memiliki Tulang, dimana posisi Tulang sangat sentral dalam adat dan budaya Batak. Sehingga jika seseorang yang ‘Tulangnya’ bukan orang Batak maka akan sangat riskan dan sulit dalam adat.Pernikahan laki Batak dengan perempuan asing akan mempersulit tutur Tulang yang tidak ‘afdol’, misalnya orang Batak riskan memanggil Tulang yang tidak bermarga.Namun hal ini masih dapat
diterima karena masih memiliki marga anak laki tersebut. Sementara pernikahan perempuan Batak dengan laki asing akan jauh lebih sulit dan kurang diterima, karena keturunan tersebut otomatis akan hilang dari silsilah marga (keturunan tersebut tidak bermarga). Maka sering kali orang Batak menyematkan marga terhadap orang yang non Batak, baik mantu Laki atau mantu Perempuan. Pertama untuk menghindari malu,  karena kawin campur tersebut memiliki banyak efek kurang dalam adat. Kedua untuk menjaga garis keturunan tetap terpelihara (tidak putus dan hilang). Hal ini mengacu pada kebesaran marga mereka (keagungan).Sangat dapat diterima jika orang tua Batak menganjurkan anak-anak mereka menikah dengan orang Batak juga. Hal ini disebabkan upaya pelestarian budaya marga dan silsilah tersebut. Kemudian, Rasa terima beradat sangat kental dalam kehidupan orang Batak, akan sangat riskan bagi orang Batak menuturkan sebuah panggilan Batak (Oppung, Amang, Inang, Lae, Pariban, Haha, Anggi, Besan, Tante, dll) kepada orang non Batak. Kebanyakan akan berkata ‘hallung do manjouhon i’ tu halak sileban, artinya sangat riskan panggilan tersebut kepada orang asing tersebut. Kenapa? karena bagi orang Batak sebuah panggilan itu dimaknai dan dihidupi.

Kembali ke tarombo dan silsilah, para leluhur kita Batak mewariskan tarombo dan silsilah untuk keturunannya hidup rukun dalam kasih. Sejauh manapun orang merantau maka dengan sematan marga
ikatan kasih persaudaraan akan tetap melekat. Hal ini terealisasi dengan kerapnya orang Batak
membentuk perkumpulan semarga, dalam bahasa majunya arisan.Namun ternyata tarombo dan silsilah ini digunakan para leluhur tidak hanya sebagai ikatan kasih persaudaraan, Fungsi utama lainnya adalah untuk tidak mengacaukan tutur (manegai partuturon) dan menjaga keturunannya tidak terjual sebagai budak bagi orang lain.Tutur dalam orang Batak sangat esensi, sebuah panggilan memiliki makna sosial baik itu posisi,
sikap hidup, tanggung jawab dan kewajiban beserta hak sosialnya. Tutur tersebut merepresentasikan makna-makna diatas.

Pada jaman dulu sering terjadi jual-beli budak antar raja raja daerah. Dengan marga maka orang akan mengetahui seseorang tersebut dalam sosialnya. Mungkin keturunan raja, penguasa, orang terhormat, pengaruh besar, famili, dan sebagainya. Maka para leluhur mewarikan marga ini menjaga keturunannya dari berbagai ancaman luar tersebut. Jika keturunan penguasa pergi merantau jauh, dengan sematan marga maka tiap-tiap daerah akan mengenalnya dan perlakuan yang tidak semena-mena. Selain mungkin karena dia itu seorang keturunan tertentu namun juga sebagai famili atau klan marga tertentu yang mana partuturan dapat dijalankan. Maka dalam hal ini prestasi besar bagi para leluhur Batak dengan mewariskan marga bagi keturunannya.Jika prestasi budaya para leluhur kita berhasil dan kita nikmati hingga saat ini, maka
seharusnya para generasi Batak mengaktualisasikannya. Tidak membuang nilai tarombo marga tersebut. Sementara dilain hal, banyak yang menghabiskan energi untuk mengurusi hal-hal yang tidak berguna karena silsilah, berdebat masalah keturunan dan marga, bahkan menghina sesama bermarga, bahkan parahnya ada yang masih dalam satu marga karena meributkan sulung siapa atau bungsu siapa. Tentu ini tidaklah elok bagi kita orang Batak yang mungkin memiliki “Silsilah Terbesar dalam peradaban Dunia”. Mengapa penulis mengatakan demikian? Karena menurut hemat saya salah satu budaya terbesar yang memiliki silsilah besar dan kompleks namun harmonis adalah budaya orang Batak. Mungkin hal ini perlu kita orang Batak perlu ajukan kepada Guinness Award sebagai Silsilah yang terbesar dalam peradaban.

Sebagai orang Batak memang selayaknya memelihara budayanya, termasuk silsilah marganya. Namun
jika pertentangan itu melarut dalam ‘pertikaian’ yang berkepanjangan, maka fungsi tarombo itu melenceng dari yang seharusnya.Leluhur orang Batak mewariskan silsilah sebagai pengikat kasih antar keturunannya, memaknainya sebagai budaya yang unik dan bernilai lintas waktu dan ruang.
Jika para leluhur kita memberi garis marga untuk menjaga keturuannya murni (dang manegai partuturan) dan tidak menjadi budak. Maka seharusnya kita diabad 21 ini memikirkan signifikansi silsilah tersebut dalam hal yang lebih berguna, bukan permusuhan yang tidak berguna.



source : fhsigiro.wordpress.com

Sabtu, 04 Juli 2015

RAGAM SENI DAN BUDAYA BATAK TOBA

Etnik Batak Toba merupakan salah satu dari banyak etnik yang bermukim di Provinsi Sumatera Utara. Etnik yang mendiami wilayah yang relatif luas, mulai dari daerah di sekitar tepian Danau Toba dan Pulau Samosir, hingga ke dataran tinggi Silindung dan Pahae ini, memiliki budaya yang unik dengan ragam kesenian yang menarik. Sehingga, budaya Batak Toba cukup banyak mendapatkan perhatian, baik oleh para akademisi maupun wisatawan.Beragam kesenian tersebut, mulai dari seni tari, seni musik, seni kerajinan, seni sastra, hingga seni rupa, hidup menyatu dalam adat istiadat dan sisi religi masyarakat Batak Toba. Semua kesenian
tradisional tersebut menjadi bagian kehidupan mereka, bahkan hingga saat ini. Meskipun dunia sudah berkembang semakin modern, ragam kesenian tradisional itu tetap bisa bertahan, bahkan malah menjadi
bagian penting dalam dunia pariwisata.Para turis yang berlibur ke Danau Toba dan daerah-daerah sekitarnya, memang tidak hanya untuk menyaksikan keindahan alam yang dimiliki wilayah tersebut. Tetapi, mereka juga tertarik untuk menikmati kebudayaan dan kesenian tradisional dalam masyarakat Batak Toba.
Untuk mengetahuinya lebih lanjut, berikut ini pembahasan mengenai lima ragam seni yang hidup dan terus bertahan dalam tatanan budaya Batak Toba tersebut.

 Seni Tari


Tari Tortor menjadi salah satu kesenian yang paling menonjol dalam kebudayaan masyarakat Batak Toba. Manortor (menari, bahasa Batak Toba) merupakan lambang bentuk syukur kepada Mulajadi Nabolon,
dewa pencipta alam semesta, dan rasa hormat kepada hula-hula dalam konsep kekeluargaan mereka. Oleh karena itu, tari ini biasanya dilakukan dalam upacara ritual, ataupun dalam upacara adat, seperti acara pernikahan.




  
  Seni Musik

Sejumlah alat musik juga menjadi bagian dalam pelaksanaan upacara ritual dan upacara adat dalam kebudayaan orang-orang Batak Toba. Dua jenis ansambel musik, gondang sabangunan dan gondang hasapi merupakan alat musik tradisional yang paling sering dimainkan. Menurut mitologi etnik Batak Toba, kedua alat musik tersebut merupakan milik Mulajadi Nabolon, sehingga harus dimainkan untuk menyampaikan permohonan kepada sang dewa.



Seni Kerajinan

Martonun, atau keterampilan dalam membuat kais ulos dengan alat tenun tradisional, merupakan salah satu seni kerajinan dalam tradisi adat Batak Toba, yang hingga saat ini masih bisa dijumpai di pedalaman Pulau Samosir dan daerah-daerah lainnya di sekitar Danau Toba. Masyarakat Batak Toba melakukan berbagai seni kerajinan sesuai dengan peran dan fungsinya dalam struktur adat dan religi yang mereka
percaya.




 Seni Sastra

Ada banyak seni sastra yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, meliputi sastra lisan dan sastra tulisan. Beragam cerita rakyat, seperti terjadinya Danau Toba dan Batu Gantung, menjadi
legenda yang sampai saat ini masih bisa kita dengar. Pantun-pantun yang disebut umpasa juga ada dalam kebudayaan Batak Toba, yang menjadi kearifan lokal etnik tersebut. Semua seni sastra itu memiliki
makna filosofis dalam kehidupan mereka.



 Seni Rupa

Seni pahat dan seni patung menjadi keterampilan utama dalam seni rupa tradisional yang hidup di Batak Toba. Ukiran-ukiran yang terdapat gorga atau ornamen rumah adat mereka, menjadi bukti keindahan dari seni pahat masyarakat Batak Toba. Sedangkan, seni patung bisa dilihat dari banyak peralatan tradisional, seperti sior dan hujur (panah), losung gaja (lesung besar), serta parpagaran dan sigale-gale (alat untuk memanggil kekuatan gaib).Semua jenis kesenian tradisional dalam budaya Batak Toba itulah yang
hingga sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Mereka terus menjaganya agar tetap hidup dalam tatanan adat istiadat dan kehidupan religi masyarakat tersebut. Itu pula yang
kemudian menjadi daya tarik dalam dunia pariwisata, yakni sebagai hiburan bagi para turis asing, yang selama ini mungkin belum pernah melihatnya.




                                                                                                              Sumber : pusakapusaka.com

Rabu, 01 Juli 2015

PENCIPTA LAGU NASIONAL DARI SUKU BATAK

Orang Batak suka menyanyi?, hal ini tidah terbantahkan lagi, boleh kita lihat di setiap tempat bahwa jika sesama orang Batak itu berkumpul akan gemar bermain gitar sambil bernyanyi bersama. Ternyata  bukan hanya gemar menyanyi, namun juga menciptakan lagu dari lagu daerah sendiri sampai lagu-lagu nasional.
Berikut beberapa tokoh pencipta lagu Nasional yang berasal dari suku Batak yang mana ciptaannya dapat kita dengarkan sampai sekarang  dan yang paling membanggakan, lagu- lagu ciptaan mereka  juga bertemakan semangat dan cinta tanah air dan bangsa, bukan hanya cinta daerah atau suku sendiri..he...he..he...


1. Liberty Manik (1924-1993)




 Liberty Manik yang kita selalu kenal dengan L. Manik lahir tahun 1924 di Sidikalang, Sumatra Utara.
Beliau adalah Doktor Musik dari Jerman, Beliau orang yang bisa melakukan apa saja, seperti; Pemain biola, penyanyi, penyiar radio RRI Yogyakarta, penulis buku, jurnalis majalah, dan yang terakhir sebagai pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Lagu ini diciptakan oleh Manik setelah dirinya melihat sendiri semangat perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Satu Nusa Satu Bangsa pertama kali diputar melalui siaran radio di tahun 1947, ketika terjadinya agresi Belanda pertama. Beliau akhirnya mendapat anugerah bintang Budaya Paramadharma di tahun 2007. Dan Beliau meninggal dunia di tahun 1993, dalam usianya 69 tahun.


2. Cornel Simanjuntak (1921-1946)




Tahukah Anda lagu yang diberi judul Maju Tak Gentar? Lagu ini ternyata dibuat oleh Cornel Simanjutak. Sebelumnya, lagu ini aslinya berjudul Maju Putra-Putri Indonesia.Cornel Simanjuntak lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara tahun 1921 berasal dari keluarga pensiunan Polri pernah menjadi guru di Magelang dan Jakarta dan kemudian pindah ke kantor Kebudayaan Jepang.Ketika terjadi revolusi di tahun 1945, lagu ini diubah judulnya dan juga syairnya agar lebih terasa membakar semangat yang mendengarnya. Ternyata lagu Maju Tak Gentar ini berhasil menyulut psikologi pejuang Front Tentara Pelajar Yogyakarta. Lirik yang ada di dalamnya sangat pas dengan kondisi pada saat itu, dimana ada sebuah perlawanan yang
dilakukan dengan peralatan seadanya.Beliau meninggal tahun 1946 umur 25 tahun akibat penyakit kronis TBC. Waktu ikut pertempuran melawan Belanda di Tanah Tinggi, Jakarta.


3. Amir Pasaribu (Amir Hamzah Pasaribu) (1915-2010)




 Lagu Andika Bhayangkari diciptakan oleh A.H. Pasaribu yang lahir tanggal 21 Mei 1915 di Siborong-borong Tapanuli utara.Setelah kemerdekaan tahun 1954-1957 beliau menjabat sebagai direktur Sekolah Musik Indonesia (SMINDO) Yogyakarta dan tahun 1957-1968 beliau diangkat sebagai  Kepala B1-kursus
jurusan Seni Suara, Lembaga Pendidikan Guru, Departemen Pendidikan danKebudayaan yang kemudian ditingkatkan menjadi IKIP-UI (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia  – kini Universitas Negeri Jakarta, Rawangun, Jakarta.
Amir Pasaribu dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma tahun 2002 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Dan beliau meninggal dunia pada usia 94 tahun di Medan, Sumatra utara pada
tanggal 10 februari 2010.


4. Alfred Simanjuntak




Lagu nasional Bangun Pemuda Pemudi (beliau ketika berumur 23 tahun menciptakannya) dan Indonesia Bersatulah diciptakan oleh DR. Alfred Simanjuntak lahir tanggal 8 September 1920 di Tapanuli utara, berpendidikan di Rijksuniversiteit Utrecht, Leidse Universiteit, Leiden, Stedelijke Universiteit, Amsterdam, Belanda pada tahun 1954-1962 sekolah dinegara kincir angina ini selama 6 tahun.
Beliau adalah pendiri Yayasan Musik Gereja (1967) dan Memiliki pengalaman sebagai guru dan menjabat juga dalam bidang komunikasi/penerbitan.
Beliau juga berteman dengan Liberty Manik (yang menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa) dan
Cornelis Simanjuntak (yang menciptakan lagu Pada Pahlawan) sehinggal ciri khas lagu yang mereka ciptakan sama.Beliau  kini telah menjadi ompung (kakek) dari 11 cucu yang lahir dari empat anaknya, yaitu
Aida, Toga, Dorothea, dan John.  Sekarang tinggal di Jakarta dan kegiatan sehari-harinya
masih terus didalam bidang musik.


5. Notier Simanungkalit  (1929-2012)




Lagu nasional Puing dan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) Senam Pagi Indonesia tahun 1984, diciptakan oleh Notier Simanungkalit lahir pada tanggal 17 Desember 1929 di kota Tarutung, Sumatra utara, menyelesaikan sekolahnya di Universitas Gajah Mada Fakultas Paedagogi. Beliau belajar musik secara otodidak.Beliau adalah salah satu dari 11 orang musisi dunia diangkat IMC menjadi anggota Dewan
Pemilih (Selection Committee) Festival Paduan Suara Mahasiswa International di New York pada tahun 1972 dan diundang santap siang oleh Presiden USA Mr. Richard Nixon dan Ibu di White House Washington DC.

6. Sanusi Pane (1905-1968)




Lagu nasional Tanah Tumpah Darahku diciptakan oleh Sanusi Pane lahir tanggal 14 November 1905 di Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatra Utara. Beliau adalah seorang Sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru yang karya-karyanya banyak diterbitkan antara tahun 1920 sampai dengan 1940-an.
Beliau meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968 pada umur 62 tahun.


7. Binsar Sitompul




Lagu nasional Bhineka Tunggal Ika lyriknya diciptakan oleh Binsar Sitompul (1923-1991) dan syairnya bersama A. Thalib, binsar Sitompul belajar biola dan teori musik pada zaman Jepang.
Kenangan DR. Alfred Simanjuntak bercerita tentang pertemanannya dengan tiga komponis besar:
Cornelis Simanjuntak, Liberty Manik, dan Binsar Sitompul.Pertemanan keempatnya terajut ketika Alfred mendatangi sekolah Katolik di Muntilan, untuk mengikuti ujian. “Cornelis bersekolah di sana,” kata Alfred.
Sejak awal bertemu dengan Cornelis, Alfred langsung mengaguminya. Sebab, sang teman memiliki suara sangat bagus. “Suara Cornel hebat. Tenor tinggi, padahal tanpa mikrofon, betul-betul seperti tenor Italia,” kata Alfred dalam majalah Tempo edisi 17 November 2002, berjudul Selama Hayat Dikandung Badan.
Meski keempatnya masih duduk di sekolah menengah pertama, mereka sudah diajarkan lagu orkestra, Messiah karya Handel. Di bawah arahan R. Sudjasmin, di kemudian hari menjadi konduktor Istana, mereka memainkan lagu Mozart, Verdi, dan Beethoven.


8. E.L. Pohan




Lagu nasional Tanah Air Indonesia dan Mars Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI)
diciptakan oleh E.L. Pohan.

 Sumber : gobatak.com

Jumat, 26 Juni 2015

TUTORIAL INTSALL AKSARA BATAK TOBA DI COMPUTER

 Horas...
Kali ini saya akan memposting tentang aksara batak toba.
Saat ini memang aksara batak sudah hal yang jarang diketahui oleh generasi batak, hal ini mungkin
Untuk itu dalam kesempatan kali ini saya akan memposting sebuah software kecil yang nantinya bisa anda instal sendiri didalam laptop atau PC anda. Sofware kecil ini gampang menggunakannya, sama halnya dengan kita mengupgrade  font di PC atau laptop anda disamping font standard bawaan windows.
Jadi dengan demikian tinggal anda ketik sebuah kalimat, kemudian akan pilih dalam bentuk font batak toba, maka dengan sendirinya kalimat yang anda ketik tersebut akan muncul dalam aksara batak.





Langsung aja kita mulai :

1. Download aksara batak pada pada link berikut ini.
     https://app.box.com/shared/0yyxk8vloeyczk55xrfu
2. Kemudian extract, dan selanjutnya buka control panel -- pilih font, seperti gambar dibawah .





 3. Selanjutnya extract hasil download tadi dan copykan ke dalam  folder  font yang ada di di control panel.
     kemudian tunggu sejenak, proses install sedang berlangsung. dan hasilnya akan seperti gambar dibawah.





4. Proses install sudah selesai, maka anda sudah dapat membuat  sebuah kalimat dalam aksara batak toba.
    Misalnya ketik kata Horas   kemudian pilih jenis font batak toba.







  Maka kata  Horas tersebut akan terlihat  dalam aksara batak toba seperti gambar dibawah ini.




 Demikianlah artikel ini saya posting buat akka dongan batak toba yang ingin membuat tulisan-tulisan kata
 atau kalimat dalam aksara batak toba.Semoga akka dongan  melalui aksara batak toba akan semakin
 mengenal aksara batak toba sebagai bagian dari budaya batak toba.

Mauliate.... Horas WBC.
disebabkan oleh kurangnya dukungan berbagai pihak yang peduli dengan aksara batak sehingga tidak jarang kita jumpai  generasi batak toba yang  tidak  mengerti sama sekali tentang penulisan sebuah kalimat atau kata  dalam aksasa batak toba.

(by. zoex slowdown saragi)

DAFTAR ARTIKEL WBC