WORLD BATAK COMMUNITY

*Horas Jala Gabe ma Dihita Saluhutna *Horas Tondi Mandingin Pir ma Tondi Matogu,Sayur Matua Bulung *Horas Banta Haganupan,Habonaran do Bona *Majuah-juah Kita Krina *Njuah-juah Mo Banta Karina*

Tampilkan postingan dengan label Sastra Batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Batak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

HATA PODA TU HELA DOHOT BORUNA

Umpasa hata poda dohot pasu-pasu sian parboru tu hela dohot boruna.


Parasaran ni misang, tobbak ni Panggabean
Sai marsi-amin-ami-nan ma hamu, songon lappakni pisang
Sai marsi-tukkol-tukkolan, songon suhat di robean

Aek sihoru-horu ditoru ni, dolok Martimbang
Rap manibbung ma hamu ia tu toru, rap mangakkat ia tu ginjang

Napuran ni Lumbanjulu, tu gambir ni Pahae
Rap Mangalakka ma hamu ia tu julu, Rap mangabbe ia tu jae

Tu ho Boru hasian dohononhu ma:
Molo ogung na mabola, pittor dipaboa do luhana
Molo parumaen na marroha, pittor dibuatdo rohani simatuana

Sibigo ambaroba, rara hulik-kulingna
Gabe uli do par-rupa na-roa, asal ma lambok pakkulingna

Angka Umpasa Pasupasu :
Tubu ma sikkoru, di labbung ni tandiang
Sai tibu ma hamu marurat tu toru, jala tibu marbulung tu ginjang

Na hinutti hirang, marisi gadong sipapua
Badan muna ma naso sirang, sahat tuna saurmatua

Tinappul bulung salak, laos hona bulung sikkoru
Sai tibu ma hamu paabing-abing anak, jala tibu mangoppa boru

Horbo ni sibuluan, manjappal dibalian
Sai manumpakma dihamu Tuhan, Sai tiur nang passarian

Tubuma sikkoru, dibonani tandiang
Tutu ma namartoddong marsi topot-topotan, songon pidong ilang
Lam tu dengganna ma ngolu-ngolu, jala mokmohan na marniang

Sinuan lata ni sabi, di ladang ni Sitapongan
Doshon sataon do sadari, molo so ni ida na hinaholongan

Tubu hau ingol, di tombak ni Simalungun
Ala hami nunga masihol, ba ro hami marubat lungun

Naeng huhut berengonnami:
Sitolmokdo i ulaning, manang na pusukni tandiang
Mokmok do hela dohot boru nami, manang na naung marniang

Ala nunga las rohanami:
Inggir-inggir do hape, parasaran ni satua
Tung hipas do nasida hape, jala soada marhua

Sumber :
http://simanjuntakp.blogspot.co.id/2012/06/hata-poda-tu-hela-dohot-boruna.html

Selasa, 05 April 2016

OPERA BATAK : HIBURAN RAKYAT YANG SUDAH TERLUPAKAN

Salah satu budaya seni yang pernah menjadi tontonan menarik bagi masyarakat batak sebelum adanya media
elektronik adalah opera. Seni pementasan cerita ini kini dirasakan sudah mulai terlupakan akibat adanya
dominasi teknologi berupa radio, televisi. Bahkan pementasan seni opera batak yang melakonkan sebuah cerita rakyat itu pun kini sudah langka. Opera Batak merupakan sebuah label dalam budaya batak. Namun istilah opera sebenarnya lebih akrab di Eropa.Pengertian opera di Eropa merupakan drama yang dinyanyikan. Jadi dalam kesenian opera orang sambil berakting, menyanyi dan sekaligus menari. Yang ketiga unsur tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain. Mulai dari bagian pertama nyanyian, tarian dan lakon cerita saling terkait. Jadi orang bisa mengetahui hubungan lagu dengan tarian dan lakon.

Awalnya dalam opera batak kesannya memang seperti nuansa yang ada di Eropa, tapi antara nyanyian, musik.tari dan lakon cerita tidak berkaitan. Ada tiga aspek dalam opera batak yaitu tortor, musik atau lagu dan lakon cerita. Dalam pementasan ketiga aspek ini tidak ada kaitannya antara satu dengan lain, dalam opera batak tari, nyanyian dan lakon sepertinya bersaing dalam pementasannya, tapi sama-sama menarik.
Catatan sejarah opera batak dimulai dari sekira tahun 1920-an. Cikal bakal opera batak dimulai dari
pertunjukan seni seperti Tilhang Parhasapi, Parjamila atau Parjabalungan. Modelnya seperti pengamen yang
pergi berkeliling, berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain atau kerumah-rumah. Pertunjukannya ada yang dilakukan oleh satu orang saja dan ada yang harus dilakonkan oleh laki-laki. Misalnya Parjabalungan adalah seorang laki-laki, tetapi dirinya juga melakonkan seorang perempuan. Perempuan pada jamannya tidak gampang keluar rumah, tampak dijalanan apalagi dalam pertunjukan karena kuatnya tradisi orang batak.Kemudian berkembang menjadi sebuah seni pertunjukan yang diperkaya oleh cerita lakon yang disebut dengan teater. Timbul pertarungan masuknya budaya baru dan penamaan opera batak menjadi popular oleh seorang Pastor misionaris sekitar tahun 1930-an yang bernama Pastor Diego Van Den Bigglar. Pastor tersebut mempopulerkan opera batak dimulai dari daerah Mogang Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir. Nama opera batak yang bertahan hingga kini. Sebelumnya sempat dinamakan tonil, tonil asia.

Kemudian opera batak mengalami perubahan dengan masuknya pengaruh teater bangsawan. Teater bangsawan ini merupakan gaya pertunjukan yang pementasannya khusus untuk keluarga kerajaan. Sumber ceritanya tetap dari tanah batak tapi pola atau gaya aktingnya diadopsi dari teater bangsawan ini. Bahwa sejak dahulu ditanah batak tidak ada teori tentang lakon atau akting. Diperkirakan ketika para pelaku teater batak pergi ketanah Deli dan melihat teater bangsawan setempat, kemudian mengadopsi pola, gaya aktingnya.Di opera batak yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana seseorang aktor yang memerankan tokoh dapat menjiwa aktor tersebut dan cerita yang dipentaskan. Dalam opera batak pemerannya tidak ada yang menjadi bintang yang menonjolkan keglamouran. Tapi aktor nya berakting sesuai dengan dialog cerita dan konsisten dalam keaktoran. Tapi dulunya actor dalam opera batak tidak konsisten dalam dialog cerita. Semua dialog muncul begitu saja disesuaikan dengan materi ceritanya.

Bahwa dalam opera batak bisa saja terdapat beberapa versi cerita yang pentaskan. Seperti dalam cerita si
Boru Tumbaga. Ada satu versi mengatakan bahwa dua orang pria yang melepaskan atau menyelamatkan si boru tumbaga dan adiknya perempuan dari tengah-tengah hutan sudah beristri. Tapi ada versi yang lain mengatakan bahwa kedua pria tersebut masih lajang. Munculnya beberapa versi ini akan mempengaruhi pola akting dalam opera batak tersebut. Akting seorang lajang akan berbeda dengan akting orang yang sudah beristri.Perjalanan pementasan opera batak sendiri di tanah batak sangat dipengaruhi oleh perkembangan jaman dengan adanya media elektonik seperti televisi. Pertarungan media dalam menyajikan film-film juga memberikan pengaruh, karena opera batak dipentaskan secara langsung dihadapan penonton.
Tapi yang paling mempengaruhi perkembangan opera batak dari dahulu adalah kurangnya regenerasi. Sehingga tidak dapat berkembang, bahkan berkelanjutan pun sulit untuk sekarang ini. Para pemain opera batak terdahulu tidak melakukan Sistem regenerasi kepada pemain-pemain baru.

Tapi harus disadari juga bahwa pemain opera batak saat itu masih belum mengecap pendidikan tinggi. Karena saat itu masih sulit bagi masyarakat batak secara bebas mengakses pendidikan. Hanya bagi orang-orang tertentu saja bisa sekolah. Dengan keterbatasan pendidikan tersebut, pemain opera batak masih mampu menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik.
Setelah sekarang ini banyak orang batak sudah mengecap pendidikan bahkan tidak sedikit yang masuk sekolah teater. Namun belum banyak yang melirik bahwa opera batak itu sebuah budaya yang dapat digali kembali. Meskipun direvitalisasi dalam bentuk yang modern namun tidak meninggalkan ciri atau prinsip dasar
kebatakannya.Pernah salah satu stasiun televisi meminta mereka untuk mementaskan opera batak dengan cerita Si Boru Tumbaga yang disiarkan sebanyak 33 episode ternyata surplus penontonnya. Untuk tetap eksis mempertahankan seni budaya opera batak ini, telah dibentuk pusat latihan. Yang akan melatih generasi muda untuk memerankan tokoh dalam cerita yang akan ditampilkan. Bagaimana pengembangan opera batak selalu debenahi, termasuk manajemennya.

Dalam perjalanan pementasan opera batak sampai tahun 1980-an diperkirakan masih ada sekitar 30-an grup opera batak. Saat itu yang terkenal adalah grup Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang pemainnya sudah plural, yaitu ada orang batak, jawa dan lainnya. Bahkan grup ini pernah diundang ke istana oleh Presiden RI pertama alm Soekarno untuk beropera. Sepulangnya grup Serindo ini diberi hadiah.
Opera batak ini dinilai merupakan salah satu benteng untuk mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai
budaya yang ada di tanah batak. Karena opera batak ini merupakan seni pertunjukan yang punya potensi khusus dari akar kultural. Meskipun bisa secara fleksibel untuk menerima hal-hal yang baru. Opera batak dalam perjalanannya selalu dalam masa transisi, tidak baku dalam tradisi tapi juga tidak modern.

Dalam catatan sejarah teater di Indonesia bahwa opera batak belum masuk rekap, baik dari tradisi maupun
teater modrennya. Bagaimana agar opera batak ini masuk dalam daftar teater Indonesia karena selama ini lebih dikategorikan dalam musik. Selama ini dianggap kalau pemain opera batak itu identik dengan pintar main musik. Padahal opera batak kecenderungannya adalah lakon.
Opera batak dalam menampilkan lakon ada yang diambil ceritanya dari Torsa torsa atau cerita legenda,
Turi-turian atau cerita rakyat ada juga dari mitos atau kepahlawanan. Sesungguhnya inventarisasi cerita
rakyat batak yang bisa dimainkan dalam opera batak. Disebutkan, bahwa ada seorang Profesor tentang opera batak bernama Rayne Charle di eropa sudah menginventarisir cerita opera batak. Raune juga sudah mentransfer cerita opera batak menjadi sebuah buku dalam bahasa Jerman.

Saat ini dipandang perlu untuk mempertahankan seni budaya batak, maka Pusat Latihan Opera Batak yang
berkantor di Pematang Siantar saat ini sedang konsentrasi melatih para pemain muda. Meskipun tetap
bekerjasama dengan pemain lama untuk rekonstruksi tentang lakon dan cerita yang ada. Agar inti cerita yang
disampaikan dalam pementasan opera batak tidak bergeser dari cerita yang sesungguhnya.
Seperti cerita Siboru Tumbaga yang menceritakan bagaimana perjuangan seorang perempuan batak yang pada masanya sangat kesulitan untuk memperjuangkan hak waris. Karena tradisi batak tempat lahirnya cerita ini, seorang perempuan tidak berhak mendapat warisan jika tidak memiliki saudara laki-laki. Sehingga warisan harta orang tua Si Boru Tumbaga akan diwariskan kepada adik bapaknya yang masih hidup.
Seni pertunjukan opera batak bukanlah sekedar pertunjukkan yang fungsinya hanya membuat orang senang saja. Tapi lebih dari itu, opera batak kini dikemas dalam sebuah cerita yang memberikan pesan nilai-nilai luhur orang batak dalam bentuk perpaduan antara akting, musik dan nyanyian serta tari.

Sumber : https://tanobatak.wordpress.com/2007/07/07/perjalanan-seni-pertunjukan-di-tanah-batak/

Minggu, 13 Desember 2015

PARTUTURON BATAK TOBA

Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya. Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Panggilan dalam bahasa batak memang cukup rumit dan sangat banyak jikalau dibandingkan dengan suku lain dan kerumitan ini juga menjadi ciri khas tersendiri bagi orang Batak. Berikut partuturon  yang ada didalam suku batak seperti yang saya dapatkan dari buku  bapak P.L Simatupang.

1. Ahu = aku, saya
2. Anak = anak laki-laki
3. Amang parsinuan = ayah, bapak.
4. Amang = sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
5. Amanta = amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan.
6. Amanguda = adik laki-laki dari ayah kita.
7. Amanguda = suami dari adik ibu kita.
8. Amangtua = abang dari ayah kita.
9. Amangtua = suami dari kakak ibu kita sendiri.
10. Amanguda/amangtua = suami dari pariban ayah kita.
11. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin.
12. Angkang boru = isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.
13. Anggi = adik kita (lk), adik (pr) boru tulang kita.
14. Anggi doli = suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
15. Anggiboru = isteri adik kita yang laki-laki.
16. Amangboru = suami kakak atau adik perempuan ayah kita.
17. Amangtua/inangtua mangulaki = ompung ayah kita.
18. Ama Naposo = anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.
19. Angkangboru mangulaki = namboru ayah dari seorang perempuan.
20. Ampara = penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi.
21. Aleale = teman akrab, bisa saja berbeda marga.
22. Bao, amangbao = suami dari eda seorang ibu.
23. Bao, inangbao = isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
24. Bere = semua anak (lk + prp) dari kakak atau adik prp kita.
25. Bere = semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
26. Boru = semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.
27. Boru = anak kandung kita (prp) bersama suaminya.
28. Borutubu = semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.
29. Boru Nagojong, borunamatua = keturunan namboru kakek.
30. Boru diampuan = keturunan dari namboru ayah.
31. Bonatulang = tulang dari ayah kita.
32. Bona niari = tulang dari kakek kita.
33. Bonaniari binsar = tulang dari ayah kakek kita.
34. Damang = ayah = bapak
35. Damang = sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.
36. Damang = digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
37. Dainang = sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.
38. Dainang = digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.
39. Daompung = baoa+boru, kakek atau nenek kita.
40. Datulang = sebutan hormat khusus kepada tulang.
41. Dahahang (baoa+boru) = abang kita atau isterinya.
42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).
43. Dongantubu = abang adik, serupa marga.
44. Dongan sahuta = kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.
45. Dongansapadan = dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.
46. Eda = kakak atau adik ipar antar perempuan.
47. eda = sapa awal antara sesama wanita.
48. Hahadoli = sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
49. Haha doli = abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.
51. Hahaboru = isteri abang kita, yang dihormati.
52. Haha Ni Hela = abang dari mantu kita.
53. Haha Ni Uhum = paling tua dalam silsilah sekelompok.
54. Hula-hula = keluarga abang/adik dari isteri kita.
55. Hela = menantu (lk) kita sendiri.
56. Hela = juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
57. Hami = sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.
58. Hamu = sebutan atas pihak lawan bicara.
59. Hita = menunjuk kelompok kita sendiri.
60. Halak = menunjuk kepada kelompok orang lain.
61. Ho, kau = terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.
62. Halak i = dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.
63. Ibebere = keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
64. Ito, iboto = kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.
65. Ito = tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.
66. Ito = panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.
67. Iba = ahu, saya.
68. Ibana = dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.
69. Inang =  ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.
70. Inang(simatua) = ibu mertua.
71. Inangbao = isteri dari hula-hula atau tunggane kita.
72. Inanta = sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.
73. Inanta soripada = kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
74. Inanguda = isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.
75. Inangtua = isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.
76. Inangbaju = semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.
77. Inangnaposo = isteri dari paraman/amangnaposo kita.
78. Indik-indik = cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.
79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.
80. Lae = tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).
81. Lae = tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
82. Lae = suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)
83. Lae = anak laki-laki dari namboru kita (lk)
84. Maen = anak-gadis dari hula-hula kita.
85. Marsada inangboru = abang adik karena ibu kita kakak-adik.
86. Namboru = kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.
87. Nantulang = isteri dari tulang kita.
88. Nasida = penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.
89. Nasida, halk-nasida = amat diormati karena berpantangan.
90. Natoras = orangtua kandung. Angkola = natobang.
91. Natua-tua = orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
92. Nini = anak dari cucu laki-laki.
93. Nono = anak dari cucu perempuan kita.
94. Ondok-ondok = cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.
95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut = ayah dari bapak kita.
96. Ompungbao, daompung = orangtua dari ibu kandung kita.
97. Ompungboru = ibu dari ayah kita.
98. Pahompu = cucu. anak – anak dari semua anak kita.
99. Pinaribot = sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
100.Paramaan = anak (lk) dari hula-hula kita.
101.Parboruon = semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.
102.Pargellengon = idem- tetapi lebih meluas.
103.Parrajaon = semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.
104.Pariban = abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
105.Pariban = semua anak prp dari pihak tulang kita.
106.Pariban = anak prp yang sudah kawin, dari pariban mertua prp.
107.Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.
108.Pamarai = abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.
109.Rorobot, tulangrorobot = tulang isteri (bukan narobot).
110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.
111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.
112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.
113.Suhut = pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.
114.Tulang = abang atau adik dari ibu kita.
115.Tulang/nantulang = mertua dari adik kita yang laki-laki.
116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
117.Tulang Ni Hela  = tulang dari pengantin laki-laki.
118.Tulang/nantulang mangulaki = panggilan cucu kepada mertua.
119.Tunggane = semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.
120.Tunggane = semua anak laki-laki dari tulang kita.
121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
122.Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.
123.Tunggane huta = raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
124.Tuan doli = suami.
125.Tuan boru = isteri

Semoga artikel ini bisa menambah wawasan anda terutama  yang sudah diperantauan  tentang partuturan suku Batak.

Kamis, 10 Desember 2015

PARMESANA SAMPULU DUA (ZODIAK BATAK)

Selama ini kita mengenal Ilmu Astrologi itu berasal dari Yunani atau China. Tapi ternyata nenek moyang
orang Batak sesungguhnya juga sudah mengenal perkiraan waktu dan rasi bintang sejak dulu. Menurut Suku
Batak, kelahiran seseorang dikatakan dengan 'Masiboan Pordana do tu langgu ni sasabi, masiboan bagianna do tu si ulu balang ari'.



Berikut akan kita bahas satu persatu Parmesana Sampulu Dua atau Zodiak Batak :

 1. Marhumba (9 Februari - 10 Maret)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Hudon atau Periuk
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Marhumba adalah :
- mempunyai sifat sosial
- gampang menyesuaikan diri dengan orang banyak atau gampang bergaul.
- Mereka juga punya banyak ide
- Sering pelupa atau sering dianggap ingkar janji



2. Mena (11 Maret - 12 April)

 Zodiak ini dilambangkan dengan simbol ikan.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Mena adalah :
- Suka mengalh
- Lincah
- Suka bergaul
- Rukun tapi pelit
- Suka dengan perdamaian atau tidak suka keributan


 3. Gorda (13 April - 14 Mei)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Kambing.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Gorda adalah :
- Gorda itu sedikit cengeng
- Suka mencoba tantangan-tantangan baru
- Gorda juga memiliki wawasan yang luas
- Tidak mudah menyerah
- Mempunyai jiwa kepemimpinan


 4. Marsoba (15 Mei - 16 Juni)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Kupu-kupu.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Marsoba adalah :
- Sifat sabar
- Telaten tapi agak lambat
- Pandai berhemat
- Mudah frustasi dan rapuh



 5. Nituna (17 Juni - 18 Juli)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol cacing.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Nituna adalah :
- Sifat plin plan atau suka berubah-ubah pendiriannya
- Suka mencoba hal-hal baru
- Punya wawasan yang luas




6. Makara (19 Juli - 20 Agustus)


Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Kepiting.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Makara adalah :
- Memiliki perasaan yang halus
- Sukanya menyendiri
- Penyayang
- Hidupnya sederhana banget dan nggak suka foya-foya



7. Babiat (21 Agustus - 22 September)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Singa.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Babiat adalah :
- Seorang pemberani
- Jujur
- Suka berterus terang
- Disukai banyak orang
- Suka temperamen namun gampang redanya


8. Hania (23 September - 24 Oktober)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol burung.
 Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Hania adalah :
- Punya sifat yang baik dan suci.
- Sangat kritis
- Kalau ada yang menarik perhatiannya, pasti akan dikejar sampai dapat.
- Tidak suka jadi pusat perhatian
- Biasanya punya insting yang kuat


9. Tola (25 Oktober - 26 November)


Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Pohon.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Tola adalah :
- Gampang tersinggung
- Perasaannya sangat halus
- Suka plin plan
- Lama dalam mengambil keputusan
- Tidak gampang bergaul dan cenderung tertutup
- Suka bergaya modis



10. Martiha (27 November - 28 Desember)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Batu.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Martiha adalah :
- Keras dan tidak mudah digoyahkan pendiriannya
- Punya semangat yang kuat
- Bersifat tertutup
- Ulet
- Tapi nggak begitu suka bercanda
- Cenderung Kaku

 11. Dano (29 Desember - 30 Januari)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Air.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Dano adalah :
- Orang yang berani mengambil risiko
- Cerdas
- Rajin
- Teliti
- Jiwa sosialnya tinggi
- Terkadang suka menyombongkan dirinya





12. Harahata (31 Januari - 8 Februari)

Zodiak ini dilambangkan dengan simbol Kodok.
Sifat-sifat yang dimiliki orang yang mempunyai zodiak Harata adalah :
- Takut mengerjakan sesuat
- Tidak gampang menyerah
- Gampang percaya omongan orang lain
- Selalu bersikap psositif thinking





MANA ZODIAK MU ...???

Rabu, 16 September 2015

KAMUS BATAK TOBA

https://drive.google.com/file/d/0B72pjPliGEWvSDlvVjMzMldXQWc/view?usp=sharing

Minggu, 30 Agustus 2015

UPPASA NI NAPOSO

Eme di balian
tu ramosna ma biurna golomonta
Betah hasian
Asa tugomosna ihotni holongta.

Tao ni si lalahi
Tung tio do i tatapon
Ndang tartaon sahali pe
Molo sohutiop tanganmi tamba sitaonon.

Dang sigaret Ardath
Mangalului pusuk pe jadi do
Dang tarbaen manggarar adat
Mangalua saut ingkon jadi do.

Sadia dao ma sian on
Marlereng tu Adian Hoting
Sadia dao ma sian i ro ho
Mamereng au boru Hombing.

Jolo tiniktik sanggar
laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga
asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da
goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da
boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da
dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da
boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge
hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale,
lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung
tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok
tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da
nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da
nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit,
si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli,
tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso,
ndang piga tubuan lata
Hami na poso,
ndang piga na umboto hata



Rabu, 19 Agustus 2015

UPPASA MARHATA SINAMOT


 Sinamot adalah Tuhor ni Boru Yang Arti dan Maksudnya adalah Uang untuk Pembelian Perempuan Batak dari Orang Tua Laki-laki yang di berikan kepada Orang Tua pemilik Anak Perempuan.
Acara Pemberian Sinamot ini sudah ada Sejak Zaman dahulu kala yang diwariskan Nenek Moyang Suku Batak dan di Lestarikan sampai Zaman sekarang.
Adapun Tingkat Pemberian Uang yang diberikan kepada Orang Tua Pemilik Anak Perempuan ini bervariasi,Tergantung kemampuan Orang Tua dari si Laki-laki.

Sebelum memberikan Uang Sinamot ada Proses Negosiasi yang dilakukan Keluarga dari Laki-laki kepada Keluarga si Perempuan yang Tujuannya untuk mencapai 1 kesepakatan yang Adil untuk keduanya,Walaupun Tingkat Uang Pemberian Sinamot ini ditentukan oleh Orang Tua dari si
Perempuan Tapi Hak dari Orang Tua atau Keluarga si Laki-laki untuk melakukan Penawaran jika Tuntutan Tingkat Uang Sinamot yang ditetapkan terlalu Tinggi atau tidak sesuai dengan kemampuan Orang Tua atau Keluarga si Laki-laki,Proses ini akan Panjang jika tidak menemukan kesepakatan dari kedua belah pihak.Jika Sinamot telah menemukan kesepakatan,maka proses akan berlanjut ke pencarian Tanggal penentuan Hari Pernikahan.

 Berikut beberapa uppasa yang sering diucapkan di acara Marhata sinamot

Dari Pihak Laki-Laki (Paranak)
Sititi ma sihompa, golanggolang pangarhutna
Tung so sadia pe i nuang na hupatupa hami i , sai godang ma pnasuna

Ampaga dolok, tu ampaga ni Humbang
Ba hita do marsogot, laos hita do nang haduan

Pitu ninna lilina, paualu jugianna
Nauli do ninna nipina, ai dijangkon borumuna do ibana

Tinapu bulung siarum, bahen uram ni porapora
Na hansit gabe malum, molo dapot sinangkap ni roha

Sai tu ginjang ninna porda, sai tu toru do pambararan
Sai naeng mamora ninna rohana hape ingkon pogos do ninna sibaran

Madekden ansosoit tongon tu tarumbara
Unang dok hamu hami parholit, seilehonon do soada

Madabu ansosoit tu toru ni pansapansa
So tung didok hamu hami na  tois, hapogoson do na mamaksa

Mangula ma pangula di rura Pangaloan
Molo mangido hulahula, dae do so oloon

Sambil na tartondong, dapotsa papaluan
Asa denggan martondong, unang masipamaluan

Lubuk Siguragura, denggan do panjalaan
molo sai mangigil hulahula, olat ni na boi ba tinambaan

Dolok ni Pangoloan, hutubuan ni hau toras
Halak na masipaololoan, i do na saut horas


Dari Pihak Perempuan (Parboru)

Dia ma nuaeng langkatna, dia ma unokna
Dia ma hatana, dia nidokna

Bona ni Aeak Puli dolok ni Sitapongan
Sai tubu ma di hamu angka na uli, jala sai lam tamba mapansamotan

Ranting ni bulu duri jait masijaotan
Siangkup ni hata na uli, dia ma nuang sitaringotan

Ndang tuktuhon batu, dakdahan simbora
Ndang tuturan datu, ajaran na marroha

Pat ni gaja do tu pat ni hora
Anak ni raja do hamu, pahompu ni namora

Pitu lilinami, paulu jugiannami
Na uli do nipinami, ai gohanmuna ma hajutnami

Barita ni Lampedang mardangka bulung bira
Barita ni hamoraonmu tarbege do ra di dia

Anak ni raja do hamu, pinompar ni na mora
Molo manambai hamu, ba naeng ma umpola

Sapala na mardalani,  unang holan sahat tu Sigalangan
Sapala na manambai, ba unang ma diparalangalangan

Aek godang, aek laut
Dos ni roha do sibahen na saut

Sihingkit sinalenggam
Ba sai tapauneune, asa dapot na dumenggan

Nung disi talina, disi rompuna
Nunga disi daina, disi holpuna


Umpasa dari Tulang ni Boru (Marhata Sigabegabe), biasanya umpasa ini diucapkan di akhir acara

Sisada urdot ma hamu, sisada tortoran
Sisada tahi ma hamu sisada oloan

Ansimun sisada holbung tu pege na sangkarimpang
Rap manimbung ma hamu ia tu toru, rap mangangkat ia tu ginjang

Urat ni nangkat ma tu urat ni hotang
Ba tusi hami mangalangka, ba sai disi ma hamu dapotan

Tubu simartagan di julu ni tapian
Sai horas hamu di pardalan jala sai tiur ma nang akka pansarian




Sabtu, 15 Agustus 2015

PARUHUMAN (Karya Sastra Batak)

  1. Dang tarbahen sasabi manaba hau, dang tarbahen tangke mangarambas.
  2. Timbang ma daon ni natutu, gana daon ni torpa (daho).
  3. Tiris ni hudon tu toru, tiris ni solu do tu ginjang.
  4. Naolo manutung-nutung, naolo mangan sirabun, naolo manangko naolo mangan sirabun.
  5. Disi pege mago disi manutu-nutu.
  6. Disi banggik maneak disi asu martunggu
  7. Ndang bolas manaputi ia soadong bulung, dang bolas mangarahuti ia soadong tali.
  8. Andalu sangkotan ni bonang. (manggarar ma natalu, siadapari gogo.)
  9. Sisoli-soli uhum, siadapari gogo.
  10. Dongan sotarhilala, musu sohabiaran.
  11. Asa sibarung doho si bontar andora, tung taranggukkon ho so binoto lapang ni gora.
  12. Tu ginjang manjalahi na rumun tu toru manjalahi na tumandol.
  13. Tinallik hodong bahen hait-hait ni palia, tagonan na martondong, sian na marsada ina.
  14. Buruk-buruk ni saong tu aos-aos ni ansuan, molo gabe taon ingkon olo manggarar utang.
  15. Seak-seak borhu madabu tu bonana, tanda ni anak, patureon ni amana.
  16. Si idupan do nauli, si saemon do nahurang.
  17. Ndang suhat be nunga bira, ndang tuhas be nungnga tarida.
  18. Molo adong unsimmu, dada gaol mu mardo, ai molo adong panuhormu, ndada ho pandobo.
  19. Rompu tuju, si dua gumo, molo so malo pangulu dapotan duri.
  20. Rompu tuju, sidua gumo, molo malo pangulu dapotan uli.
  21. Siuangkap batang buruk, sibarbar na niampolas.
  22. Sada umpaka hite, luhut halak marhitehonsa.
  23. Lulu anak, lulu tano, lulu boru, lulu harajaon.
  24. Simbar dolok sitingko ulu balang, boi tu hasundutan boi tu habinsaran.

UMPAMA PANIGATI (Karya Sastra Batak)

  1. Nabingkas do botik gaja dibahen botik aili, bingkas si alali dibahen sipinggiri.
  2. Nidanggurhon jarum tu napot-pot ndang di ida mata alai diida roha.
  3. Dirobean pinggol tubu di nahornop pangidai jorbing anak ni mata natingkos na ni idana.
  4. Madung-dung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, marunung-unung namaroha molo adong uli buaton.
  5. Diihurpas batu tarida oma, molo adong tuhas uasi (gana) alona.
  6. Binarbar bagot tarida pangkona, nungnga tangkas dapot dihaol tinangkona.
  7. Manuk-manuk hulabu ompan-ompan ni soru, dang pangalangkup jolmai molo di patudu parboru.
  8. Dapot do imbo dibahen suarana, tarida ursa dibahen bogasna.
  9. Sada sanggar rik-rik, padua sanggar lahi, donganna mar mihim-mihim, jala donganna martahi-tahi.
  10. Binarbar rikrik tarida pangko, dos do utang ni parmitmit utang panakko.
  11. Aus nabegu adang namalo.
  12. Manunjang dibalatuk, marboa di tapian.
  13. Nungnga tardege pinggol ni dalan.
  14. Masuak sanggar mapopo hadudu.
  15. Parraut si etek-etek.
  16. Marsanggar-sanggar.
  17. Nirimpu soban hape do bulu, nirippu dongan hape musu.
  18. Sibalik sumpa sipatundal ni begu.
  19. Marbuni-buni tusa di panjaruman. (marbuni hata ditolonan)
  20. Disarat hodongna mangihut lambena, sae gorana, lea rohana di pandena.
  21. Disuru manaek ditaba di toru.
  22. Sarung banua, monsak humaliang bogas, tata natinutungan, marimbulu natinanggoan.
  23. Marurat ni langgumgum, marparbue di pandoran, patampak-tampak hundul pulik-pulik hata ni dohan.

UMPAMA APUL-APUL (Karya Sastra Batak)

  1. Bagot namadung-dung tu pilo-pilo marajar, tading ma nalungun roma na jagar.
  2. Porda marungrung mulakma tu songkirna, Horbo manurun mulakna tu barana, hot ma doal di sangkena, pinggan di rangkena.
  3. Amani bogot bagit, amani bagot so balbalon, lungun pe nasai laonna i, tuhirasna tu joloan ni arion.
  4. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, ia torop hahana toropma nang anggina.
  5. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, torop ma natoropi tu toropma nasopiga.
  6. Mangordang di juma tur, manabur di hauma saba, hea do mauli bulung nang pe anak sasada.
  7. Malos ingkau rata riang-riang pinatapu-tapu, molo manumpak Debata di ginjang naung tungil olo jadi napu.
  8. Naung pardambirbiran, gabe pardantaboan, jolma naung hagigian gabe jadi sihalomoan.
  9. Loja siborok manjalahi guluan, sai mutu do rohani jolma manjalahi hangoluan.
  10. Sai tiurma songon ari, sai rondangma songon bulan, sai dapot najinalahan tarida naniluluan.
  11. Sinepnep mauruk-uruk silanian ma aek toba, nametmet unang marungut-ungut namagodang unang hansit rohana.
  12. Magodang ma aek godang di juluan ni aek raisan, mandao ma ianggo holso sai roma parsaulian.
  13. Niraprap hodong, tinapu salaon, sinok do mata modom, musu unang adong be si jagaon.
  14. Sai tutonggina ma songon tobu, tu assimna songon sira, magodang ma naumetek sai mangomo partiga-tiga.
  15. Sirambe nagodang ma tu sirambe anak-anak, gok ma sopo nabolon maruli sopo si anak-anak.
  16. Pahibul-hibul tiang patingko-tigko galapang, pamok-mok namarniang pabolon-bolon pamatang.

UMPAMA PINSANG-PINSANG (Karya Sastra Batak)

  •     Siguris lapang ni begu.
  •     Sipansur ni aek nilatong.
  •     Sipultak pura-pura siusehon pargotaan.
  •     Siallang indahan ni begu.
  •     Siallang sian toru ni rere.
  •     Dompak sarupa jolma tundal sarupa begu.
  •     Binarbar simartolu langkop ni panutuan.
  •     Situlluk namardai, sidilati panutuan.
  •     Partiang latong, hau joring parira, partangkula nabara. (Panirisanna pe malala bagasna pe malala.)
  •     Sidegehon papan namungkal, sitangkup ihurni hoda pudi.
  •     Sitahopi api songon ulok dari.
  •     Sitortori na so gondangna.
  •     Sihohari ranggiting.
  •     Bintatar pandidingan, simartolu parhongkomna, sidok hata hagigihan soada hinongkopna.
  •     Sirotahi pangananna.
  •     Poring sitorban dolok, manuk sisudahon.
  •     Sisopsop rentengna.
  •     Sibondut ranggas nagaung-gaung.
  •     Silompa lali nahabang.
  •     Sialap manaruhon.
  •     Sibola hau tindang, sipadugu horbo sabara.
  •     Sipatubi-tubi manuk, pasalpu-salpu onan.
  •     Sitangko bindana.
  •     Sipadomu pardebataan tu parsombaonan.
  •     Siaji pinagaranna.
  •     Soban bulu, dongan musu.
  •     Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
  •     Siuntei naigar, siasomi na asom, sisirai na ansim.
  •     Tongka dua pungga saparihotan.
  •     Gala-gala naso botohon, muruk pe iba adong do hata nasoboi dohonon.



SALIK (Karya Sastra Batak)

SALIK adalah pantun yang bertujuan untuk mengutuk seseorang atau sumpah serapah.

  • Ndang taruba babi so mangallang halto.
  • Holi-holi sangkalia, tading nanioli dibahen nahinabia.
  • Jinama tus-tus tiniop pargolangan, tuk dohonon ni munsung dang tuk gamuon ni tangan.
  • Balik toho songon durung ni Pangururan, sianpudi pe toho asal haroro ni uang.
  • Sanggar rikrik angkup ni sanggar lahi, dongan marmihim jala donganna martahi-tahi.
  • Otik pe bau joring godang pe bau palia.
  • Tinompa ni pinggan paung, molo domu songon namaung-aung, ia dung sirang songon naginaung-gaung.
  • Madungdung bulung godang tu dangka ni bulu suraton, marunung namarroha molo adong uli buaton.
  • Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, Parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
  • Ia arian martali-tali nabontar, ia borngin martali-tali narara. (ia dompak sarupa jolma ia tundal sarupa begu.)
  • Sampilpil di pudina haramonting di jolona, sude halak magigi dibahen pangalahona.
  • Tanduk ni lombu tanduk ni lombu silepe, molo monang marjuji sude sidok lae ia talu sude mambursik be.
  • Najumpang gabe natinangko molo so malo, natinangko gabe najumpang molo malo.
  • Taos rampe ni hajut, ditunjang ampapaluan, mate parjuji talu ndang adong ni andungan, andungan i annon sotung ro utang taguhan, soandungan i anon dang diboto dongan salumban.




Kamis, 13 Agustus 2015

ELAT, LATE, TEAL, HOSOM

Ada 4 (tiga) sikap, sifat dan perilaku  yang digaris bawahi oleh Leluhur Batak untuk dihindari, yaitu elat, late, teal, hosom.  Tiga diantaranya dalam "istilah" ini terdiri dari empat abjad sama yang susunannya dibolak balik.

Berikut pengertian dari keempat kata tersebut :

1. Elat adalah memendam perasaan:  iri, cemburu yang negatif.

2. Late adalah merupakan iri dengki dan cemburu yang disertai niat dan perbuatan negatif.  Late disertai upaya-upaya untuk merusak dan menghancurkan pihak yang dicemburui atau didengkii. 
              
3. Teal adalah merupakan perilaku munafik (tidak sesuai keadaan, berbeda antara ucapan dan perilaku).  Jika dikatakan pateal-tealhon artinya berbuat seolah-olah besar tetapi tidak ada apa-apanya. Misalnya: meninggikan diri, berlagak orang kaya tetapi keadaan sebenarnya berbeda jauh. Teal bisa timbul karena elat, perasaan ingin atau lebih dari orang lain. Elat yang tidak terkendali menjadi late.

4. Hosom adalah merupakan rasa dendam, dan kebencian.Hosom ini terjadi dilatarbelakangi oleh salah satu atau lebih ketiga sikap tersebut.


Jumat, 31 Juli 2015

WARISAN SIRAJA BATAK SEBAGAI PEDOMAN HIDUP ORANG BATAK

Ada 12 hukum  yang dibuat masyarakat batak sebagai tatanan hidup sehari-hari agar menjadi masyarakat yang bersih dan berwibawa sebagai keturunan Raja, karena yang merancang hukum ini adalah seorang Raja yang bernama si Raja Batak. Inilah faktor penyebab setiap orang batak disebut anak raja.

1. Sukkun mula ni hata, sise mula ni Uhum,
Artinya:
Untuk mengambil suatu keputusan harus dengan musyawarah,

2. Jongjong adat nasotupa tabaon, nahot naso jadi husoron,
Artinya;
Adat yang telah dirancang moyang dari dulu, walaupun tidak tertulis tapi tak boleh dirubah,

3. Boni naso jadi dudaon,
Artinya;
Seseorang tidak boleh mengganggu kehidupan dan mata pencaharian orang lain,

4. Parinaan ni manuk naso jadi siseaton,
Artinya;
Segala sesuatu yang telah dirancang oleh nenek-moyang tidak boleh kita hilangkan atau ditiadakan,

5. Tokka do dohonon Goar ni Inang Bao, tung pe binoto,
Artinya;
Tidak akan membeberkan suatu rahasia walau sudah jelas ada bukti, kalau nanti itu akan membawa/mengakibatkan kekacauan dan perpecahan,

6. Somba marhula-hula elek marboru manat mardongan tubu,
Artinya;
Falsafah Dalihan na Tolu adalah pondasi kehidupan masyarakat Batak yang harus di junjung tinggi,

7. Jeppek Abor naso silakkaon, na ni handing sosirasrason napinarik pe sotolbakon,
Artinya;
Sekecil apapun hukum tatanan yang telah disepakati, karena itu adalah hasil musyawarah maka tidak boleh dilanggar,

8. Dang sitodo turpuk siahut lomo ni roha,
Artinya;
Kita harus tabah akan apa yang telah kita terima dan nikmati, karena segala kehidupan manusia ada ditangan Tuhan (Mulajadi Nabolon),

9. Pattun hangoluan, tois hamagoan, unang pesalihon nalonga, jala unang ho makkilang,
Artinya;
Kita harus lemah lembut dan sopan santun diharapkan juga tidak akan mengambil riba/keuntungan dari orang miskin,

10. Nasojadi paboaon nasopatut tu ina-ina, alai muba do molo tu ina,
Artinya;
Jangan memberi informasi yang bersifat rahasia kepada orang yang suka atau sering menggosip,

11. Mar-Bo lao tu Tapian, ehem laho tu jabu,
Artinya;
Harus membiasakan diri dalam tata karma yang sangat hati-hati agar tak terjerumus dalam perbuatan amoral,

12. Alai li alai lio, singir gabe utang molo so malo,
Artinya;
Berusahalah jadi orang yang pintar dan bijak, karena orang bodoh akan selalu jadi santapan orang pintar.




Senin, 22 Juni 2015

UMPASA BATAK TOBA (DALAM GAMBAR)




    

















Minggu, 21 Juni 2015

KAMUS ONLINE BAHASA BATAK DAN BAHASA DAERAH LAINNYA.

Kali ini saya akan memposting beberapa link kamus online bahasa Batak dan berbagai bahasa daerah lainnya yang dilengkapi dengan capture. Kamus online ini bisa membantu dan menambah wawasan anda dalam mempelajari dan memperdalam pemahaman tentang arti dan makna bahasa  batak toba, karo, simalungun, mandailing dan juga bahasa daerah lainnya.
Berikut saya lampirkan link dan juga capturenya. Untuk mengunakannya sangat  mudah tinggal klik linknya dan kemudian anda makan masuk ke link yang dimaksud. Setelah terbuka, maka anda tinggal masukkan kata yang akan dicari, kemudian klik  cari/ cari kata.

1. Kamus online bahasa Batak Toba
    link : http://kamus.komunitas-batak.com/
   
 Capture kamus online bahasa Batak Toba



2. Kamus online bahasa Batak Karo
    link :  http://kamus.karo.or.id

Capture kamus online bahasa Batak Karo


3. Kamus online bahasa Batak Simalungun
    link : http://kamusiana.com/index.php/index/26.xhtml

Capture kamus online bahasa Batak Simalungun


4. Kamus onlene bahasa Batak Mandailing
    link : http://www.kamusmandailing.com/

Capture kamus online bahasa Batak Mandailing


 Disamping melaui ke-4 link diatas anda juga  dapat mempelajari bahasa daerah batak dan juga bahasa daerah lain melaui link kamus daerah seperti capture dibawah ini.

5. Kamus  online berbagai bahasa daerah
    link : http://www.kamusdaerah.com

Capture kamus online  berbagai bahasa daerah

Kiranya postingan ini dapat bermamfaat  bagi anda khususnya pecinta bahasa daerah batak.
terimakasih,

Jumat, 19 Juni 2015

HATA UMPAMA BATAK TOBA DAN ARTINYA

UMPAMA (Perumpamaan) adalah sebuah kalimat yang tujuannya untuk mengungkapkan sesuatu hal dalam bentuk kata yang lain, atau untuk menhaluskan seperti penggunaan perumpamaan pada bahasa Indonesia.
Berikut beberapa umpama yang mungkin sudah sering kita dengarkan ditengah-tengah masyarakat  Batak Toba.

* Ingkon songon poting, lam marisi lam so marsoara
(Makna: Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang, harus semakin hati-hati berbicara).

* Jempek do pat ni gabus
(Makna: sehebat apapun seseorang menutupi kebohongannya, cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga).

* Jolo dinilat bibir asa nidok hata
(Makna: pikir dahulu baik-baik sebelum berbicara)

* Lambiakmi ma galmit
(Makna: Bila orang tua mengeluhkan kelakuan anaknya yang kurang baik,sadarilah bahwa itu karena kekurangan orang tua dalam mendidik anaknya itu).

* Molo litok aek di toruan, tingkiron ma tu julu
(Makna: bila ingin menyelesaikan suatu permasalahan, carilah dahulu apa penyebabnya).

* Songon parlange ni si bagur, tio tu jolo, litok di pudi
(Makna: Seseorang yang suka meninggalkan persoalan/ kekacauan di tempat yang ditinggalkannya).

* Tongka do mulak tata naung masak, mulak marimbulu naung tinutungan
(Maknanya: sesuatu hal yang telah terjadi tidak boleh lagi disesali).

* Ndang adong amporik na so siallang eme
(Maknanya: tidak ada seorangpun yang akanmelewatkan kesempatan besar didepannya).

* Ingkon sada do songon dai ni aek, unang mardua songon dai ni tuak
(Maknanya: setiap orang harus ssaling terbuka agar seia sekata, dan bukan berdebat dalam pendapat yang berbeda).

* Ndang piga halak sigandai sidabuan, alai godang sigandai hata
(Maknanya: dalam kehidupan tidak banyak orang yang berkata jujur dan berbuat ikhlas, tetap orang-orang lebih banyak menggosipi orang lain dan memutarbalikkan fakta).

* Piltik ni hasapi do tabo tu pinggol, anggo piltik ni hata sogo do begeon
(Maknanya: kabar yang sesuai dengan keadaan adalah yang harus di dengar, sementara gosip dan kabar yang memburukkan orang lain haruslah dijauhi atau dihindari).

* Santau aek nuaeng, duaan tahu aek marsogot, na santahu i do pareahan
(Maknanya: Sedikit pun yang kita hasilkan hari ini, mungkin besok akan lebih banyak, tapi hasil hai ini yang sedikit itupun, haruslah disyukuri).

* Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hata ni begu.
(Maknanya: Ucapan manusia itu kasar, tetapi ucapan iblis itu halus lemah-lembut,Ungkapan ini mengingatkan supaya orang jangan cepat tergiur pada kata-kata rayuan yang hanya enak didengar kuping, padahal
maksud dan tujuannya untuk menusuk dari belakang atau tipuan).

* Jolo nidilat bibir asa nidok hata
(Maknanya:Pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Pikirkan dulu baik-baik barulah ucapkan).

* Ndang dao tubis sian bonana.
(Maknanya: Rebung tidak akan jauh dari pokoknya. Ini biasa diucapkan untuk menilai perilaku orng lain atau untuk menyimpulkan mengapa sampai terjadi kelakuan anak seperti itu. Oh, orangtuanya pun seperti itu).

* Aek godang, aek laut. Dos ni roha sibahen nasaut
(Maknanya:Hasil musyawarah untuk mufakat itulah yang terbaik).

* Tuit sitara tuit, tuit pangalahona. Molo tuit boru i mago ma ibotona.
(Maknanya:Perempuan yang suka mejeng atau berbuat tak senonoh akan mempermalukan saudaranya laki-laki (ibotonya). Mengapa demikian? Karena harga diri  suatu keluarga kelak terletak di tangan anak lelaki bila ayahnya sudah tiada. Jadi, para gadis Batak janganlah sampai terkesan cewek jalang).

* Ndang di ahu, ndang di ho, tumagonan ma di begu.
(Maknanya: Tidak untuk saya, juga tidak untuk kamu, lebih baik untuk hantu. = Ucapan ini dialamatkan kepada orang yang berhati busuk ketika merasa kalah dalam perebutan harta, kekuasaan atau hak-hak lain. Ia tidak merasa senang kalau temannya sendiri yang mendapatkan, lebih baik pihak ketiga).

* Tampulon aek do na mardongan tubu.
(Maknanya:Orang semarga itu bagaikan aliran air ( sambung menyambung),jika dicoba diputuskan, sebentar lagi sudah menyatu. Artinya; jangan coba-coba mengadudomba atau mencerai-beraikan orang semarga).

* Ndang songgop onggang tu hadudu.
(Maknanya:Tidak sanggup burung enggang ke padi-padian. Artinya tidak mungkin kehormatan dan kekuasaan datang kepada orang bodoh).

* Songon sorha ni padati
(Maknanya: bagaikan roda pedati. Artinya hidup ini mengalami perputaran, terkadang makmur, jatuh miskin. Sorha = alat pemintal benang).

* Molo mate ina i, dohot do ama panoroni.
(Maknanya:Kalau ibu meninggal, ayah itu pun menjadi ayah tiri. Ini dikatakan untuk mengungkit pengalaman sedih anak-anak yang ditinggal mati oleh ibunya, Jika ayah kawin lagi, maka sang ayah itu pun selalu

berpihak pada istri baru).

* Purpar pande dorpi bahen tu dimposna.
(Maknanya:Tukang kayu betapapun pandainya melakukan pekerjaannya pastilah menimbulkan suara bising , namun membuat rapi hasil kerjanya. Artinya, boleh ribut dulu dengan sesama asalkan semuanya itu menuju

kebaikan dan makin mengakrabkan hubungan kekerabatan.

* Hata mamunjung hata lalaen, hata torop sabungan ni hata.
(Maknanya:Pendapat sendiri adalah pendapat yang tidak wajar, pendapat orang banyaklah yang jadi pedoman, dan jadi keputusan. Tarpunjung = terpencil, terkucilkan).

* Bolus do mula ni hadengganon, jujur do mula ni hasesega
(Maknanya: Cepat melupakan perbuatan yang tidak baik seseorang sumber kebaikan, tetapi suka menghitung perbuatan baik kita menjadi sumber perselisihan).

* Situlluk mata ni horbo.
(Maknanya:cepat-cepat tunjuk hidung atau menunjukkan kesalahan orang lain agar jera dan tidak menghabiskan banyak waktu membicarakannya).

* Siat mamiding naeng mamolak.
(Maknanya:Diberi ruiang atau tempat  untuk tidur menyamping, malah ingin telentang. Ini sama dengan ungkapan: Siat jari-jari naeng siat botohon = sudah muat jari, masih ingin lagi muat tangan.”. Ini sindiran

bagi teman yang tidak puas-puasnya mendapatkan sesuatu).

* Tumpakna do tajomna, rim ni tahi do gogona.
(Maknanya:Organisasi atau kumpulan akan kuat bila tetap dalam kebersamaan dan seia-sekata).

* Sahalak maniop sulu, sude halak marsuluhonsa
(Maknanya:Seseorang berbuat baik, semua orang bergembira karena merasakan hasil perbuatan baik orang tersebut. Ini diucapkan untuk menghargai perbuatan baik seseorang sekaligus mengharap agar semakin

banyak orang yang menjadi ”berkat” untuk orang lain).

* Tu sundungna do hau marumpak.
(Maknanya:Pohon akan tumbang ke arah condongnya. Artinya, seseorang itu akan menjadi seperti apa kelak, akan sesuai bakat, talenta serta amal perbuatannya).

* Pitu batu martindi sada do sitaon na dokdok.
(Maknanya:Tujuh batu bertindih tetapi satulah menahan paling berat. Ini diucapkan menyadarkan seseorang bahwa pada akhirnya meskipun banyak pendamping tetapi seoranglah menanggung beban terberat).

* Tampuk ni pusu-pusu, urat ni ate-ate.
(Maknanya:si buah hati, anak yang paling dikasihi. Artinya, dalam keluarga orang Batak selalu ada anak yang paling dikasihi (anak hasian).

* Maraprap na so magulang
(Maknanya:Orang yang tidak jatuh, malah ikut terluka. Maksudnya, jangan ikut terlibat dan melibatkan orang lain pada sesuatu yang bukan urusannya).

* Sirungrung na dapot bubu, siosari na dapot sambil.
(Maknanya:Seseorang yang mau melepaskan terhukum dari hukuman sewenang-wenang. rungrung = membalikkan sesuatu wadah untuk mengeluarkan isinya, misalnya air).

* Suhar bulu ditait dongan, laos suhar do i taiton.
(Maknanya:jika seorang teman atau keluarga berbuat salah hendaklah dibela walau dalam hati mengakui hal itu salah. Ungkapan ini sudah jarang diucapkan karena dinilai idak sesuai dengan paham kasih dan kebenaran).

* Eme na masak digagat ursa, ia i namasa ba i ma niula.
(Maknanya:Padi siap panen dimakan rusa, apa yang biasa dikerjakan kebanyakan orang itulah kita lakukan. Ungkapan ini juga dianggap melemahkan insiatif orang sehingga makin jarang diperdengarkan).

* Miakna panggorengna.
(Maknanya:Seperti kebiasaan orang Batak dahulu, karena langka dan mahalnya minyak goreng sehingga minyak/ lemak babi itulah dipakai untuk menggoreng dagingnya. Ini dimaksudkan agar seseorang jangan terlalu repot mencari modal usaha. Pergunakan saja apa yang ada, mulailah dari usaha kecil).

* Mambuat mas sian toru ni rere
(Maknanya: mengambil emas dari bawah tikar buruk. Maksudnya agar jangan mengambil keuntungan dari jalan terkutuk).     

* Ranggas tumutung bonana
(Maknanya: mas kawin (sinamot) keluarga pengantin perempuan itulah yang diatur dan dicukup - cukupkan untuk biaya pesta perkawinan. * Ranggas = ranting kayu yang sudah tua cocok untuk kayu bakar).

* Ndang jadi tanjungan ni ina nonang.
(Maknanya: Kaum ibu tidak boleh terlalu mencampuri urusan adat yang  sedang dibahas oleh kaum bapak).

* Manubu-nubui hata.
(Maknanya: mengada-ada, menyiarkan berita bohong).

* Dipupusi na mate na mangolu.
(Maknanya: Orang mati merampas harta orang hidup. Artinya;  Keluarga yang ditinggalkan orang yang meninggal  menjadi  susah karena yang meninggal itu meningalkan hutang yang harus dibayar).

* Tigor do ransang hapit
(Maknanya:  lurus kayu ransang terjepit. Artinya, orang yang bebuat benar dan tulus bisa saja terjepit, sehingga ia merasa serba salah).

* Molo bolak mandar ndang jadi ribahan.
(Maknanya: kain sarung lebar janganlah dirobek. Ini mengingatkan agar jika anggota kelompok sudah meluas, janganlah sengaja dibuat terpecah-pecah).

* Ndang ditiptip halak ganjangna, ndang diarit balgana.
(Maknanya: Tidak akan ada orang yang mengurangi kebesaran dan kehormatannya dalam melaksanakan sesuatu acara).

* Tiptip alai sai adong masiganjangi, dosdos alai sai adong mansiboloni
(Maknanya: Walaupun bersaudara tetapi semuanya tidak akan sama jalan pikiran maupun harta kekayaannya).

* Marnadonok do manghosing na bineom
(Maknanya: Hendaklah orang yang lebih dekat hubungan kekerabatan lebih dulu menerima bagian hak adat ( jambar hata , jambar juhut).

* Martampuk bulung, marbona sangkalan. Marnata suhut marnampuna ugasan.
(Maknanya: Mengingatkan supaya keluarga terdekat lebih berpratisipasi dan bertanggungjawab, jangan terus mengandalkan kerabat yang mereka yang hubungan kekerabatannya jauh).

* Sihampir gabe gambir, tandiang gabe toras. Tudia pe ahu so tampil, tudia pe so bolas.
(Maknanya: Karena kemiskinannya seseorang itu  tidak masuk hitunganmasyarakat di lingkunganya).

* Ndang na taraithon tagonan ma pinonggolhon, ndang na tartangishon, tagonan ma tinortorhon.
(Maknanya: Tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah, lebih baik dibawakan dalam gerakan tarian saja.Artinya, jangan selalu bersedih).

* Simanuk-manuk manang sibontar andora, ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha.
(Maknanya: Ada kalanya yang terjadi itu di luar kemauan kita dan harus kita terima apa adanya).

* Ndang boi sambariba tangan martopap
(Maknanya: Tak mungkin hanya bertepuk tangan sebelah).

* Songon tuhil, ia pinasak masuk, ia tinait ro
(Maknanya: Bagaikan pahat dipukul; masuk, ditarik kembali. Maksudnya; janganlah bekerja kalau disuruh, ambil inisiatif).

* Hotang binebe-bebe, hotang pinulos-pulos, unang hamu mandele ai godang do tudos-tudos.
(Maknanya: Janganlah putus asa, sebab banyak contoh penderitaan serupa di luar sana, bahkan penderitaan mereka lebih berat).

* Arga jambar juhut argaan do jambar hata.
(Maknanya: Nilai kesempatan menggunakan hak bicara dalam adat lebih mahal dari hak mendapatkan bagian daging).

* Jolo diseat hata asa diseat raut
(Maknanya: Lebih dulu diputus kata sebelum diputus pisau. Artinya jangan terus membagikan jambar adat sebelum dimufakati atau sebelum dibicarakan).

* Maila raut so dapotan.
(Maknanya: malu pisau tidak melukai . Ini dikatakan untuk melarang keras orang yang suka mempermainkan pisau, sebab bukan tak mungkin akan melukai orang).

* Marimbulu natinutungan.
(Maknanya: bebulu lagi yang sudah dibakar. Artinya keputusan yang sudah disepakati dalam rapat menjadi batal tidak berarti hanya karena salah seorang yang tidak hadir menolak hasil kesepakatan tersebut).

* Ndang uasan halak di toru ni sampuran).
(Maknanya: Tidak akan kehausan orang di dekat air terjun. Ini dikatakan kepada orang yang berada di tengah-tengah keluarga makmur tidak akan kelaparan).

* Ulu balang na so mida musu.
(Maknanya: mengaku jagoan dan pemberani tetapi tak pernah berhadapan dengan musuh).

* Mulak-ulak songon namangusa botohon.
(Maknanya: Berulang sulang atau bolak-balik bagaikan membersihkan tangan. Artinya, tidaklah salah walaupun apa yang telah diucapkan pembicara terdahulu diulangi lagi oleh pembicara belakangan).

* Sidapot solup do na ro.
(Maknanya: Pendatang sebaiknya mematuhi atau tunduk pada kebiasaan adat  yang berlaku setempat, Tidak boleh mengatakan, wah.. kalau yang berlaku di daeah kami… begini atau begitu).

* Marsolup di hundulan.
(Maknanya: Posisi kekerabatan seseorang dalam acara adapt tergantung aturan yang berlaku, bisa sebagai Hula-hula, sebagai boru, atau derajat kekerabatan lainnya. Ini dikatakan seseorang yang hubungan

kekerabatannya berbagai segi).

* Songon na mandege gara.
(Maknanya: bagaikan menginjak bara api. Ungkapan ini merupakan sindiran bagi tamu yang dating sebentar lalu pergi).

* Tedak songon indahan di balanga.
(Maknanya: Terbuka atau transparan seperti nasi dalam kuali. Artinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi).

* Na teal so hinallung na teleng so hinarpean.
(Maknanya: yang berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Diucapkan mengeritik orang yagn angkuh tetapi sesungguhnya tidak ada apa-apanya).

* Marsitijur dompak langit, sai madabu do tu ampuan.
(Maknanya: meludah ke langit dengan sendirinya jatuh ke pangkuan. Artinya ; menjelekkan saudara sendiri sama dengan menjelekkan diri sendiri).

* Nang pe di bagasan sunuk manuk sabungan, sai tong do martahuak.
(Maknanya: kalaupun terkurung di dalam keranjang, ayam sabung akan tetap berkokok. Artinya, si pemberani itu akan selalu menunjukkan keberaniannya di mana pun ia berada).

* Na tinaba ni tangke martumbur, na tinamba ni gana ripur.
(Maknanya: Yang ditebang kampak akan bertunas, yang ditebang sumpah mati tak akan berketurunan. Artinya, janganlah sampai termakan sumpah sebab berat risikonya).

* Naso matanggak di hata, naso matahut di bohi.
(Maknanya: Berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Tahut = takut).

* Monang di surak-surak, talu di olop-olop.
(Maknanya: Keburu bersorak karena dikira sudah menang padahal ternyata kalah).

* Talu maralohon dongan, monang maralohon musuh.
(Maknanya: Tidak apalah kalaupun kalah/ mengalah terhadap teman asalkan menang melawan musuh).

* Marurat tu toru marbulung tu ginjang
(Maknanya: Berakar ke bawah berdaun ke atas. Seseorang mempunyai keturunan anak laki-laki dan perempuan).




      

DAFTAR ARTIKEL WBC