WORLD BATAK COMMUNITY

*Horas Jala Gabe ma Dihita Saluhutna *Horas Tondi Mandingin Pir ma Tondi Matogu,Sayur Matua Bulung *Horas Banta Haganupan,Habonaran do Bona *Majuah-juah Kita Krina *Njuah-juah Mo Banta Karina*

Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Legenda Batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan Legenda Batak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

MITOS TENTANG IHAN BATAK

Ikan Batak yang aslinya disebut sebagai Ihan dari genus Neolissochilus memang dimitoskan sebagai makanan para raja-raja dijaman dahulu. Disamping itu Ihanmerupakan penganan sesembahan kepada Tuhan (upa-upa) yang diberikan kepada seseorang oleh Hula-hula atau hierarchi clan marga yang lebih tinggi (dalam falsafah kekerabatan Dalihan Natolu) dengan harapan pemberian makanan itu mendapat berkat dari Tuhan berupa kesehatan dan panjang umur, mendapat banyak keturunan, dam mudah rezeki di harta. Dalam prosesi adat perkawinan, penganan ini juga diberikan kepada pihak boru (hierarchi marga yang lebih rendah) sebagai balasan pemberian makanan yang enak berupa suguhan makanan (tudu-tudu sipanganon) yang bermakna sama mendapat berkat dari Tuhan.

Tatalaksana pemberian makanan ikan seperti ini masih berlangsung sampai sekarang namun sudah menuju
degradasinya karena tidak ditemukan lagi jenisIhan di Tanah Batak (punah). Sebagai pengganti maka jenis ikan Mahseer dari genus Tor (Dekke Jurung-jurung) merupakan pengganti penganan yang dimaksud. Ternyata jenis inipun mulai langka ditemukan di Tanah Batak dan digantikan menjadi ikan mas dari genus Cyprinus. Jenis ikan mas sebagai pengganti ihan batak adalah dari spesies Cyprinus carpio yang berwarna kuning kemerahan. Namun jenis ikan mas yang berwarna kuning kemerahan ini kurang diminati oleh masyarakat di Pulau Jawa sehingga masyarakat Batak yang berada di Jawa ini terpaksa menggunakan ikan mas berwarna hitam sehingga penganan tersebut kurang ceria tampilannya dan terlihat kusam warnanya.

Sungai Sirambe Nauli terletak di Desa Bonan Dolok , kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Propinsi Sumatera Utara, terdapat Ikan Batak yang mereka sebut Ihan namun sebenarnya adalah Ikan Batak yang
secara umum disebut sebagai Ikan Jurung dari genus Tor. Oleh warga setempat sungai itu dianggap keramat
namun berfungsi juga sebagai sumber air untuk minum. Masyarakat setempat biasanya mengambil air minum dari sungai tersebut lantaran airnya sangat jerni dan bersih. Sungai tersebut juga merupakan kolam mandi dan
berenang sepuasnya, dan juga dipergunakan untuk tempat ibu-ibu mencuci pakaian.
Uniknya, di Sungai itu hidup ratusan ekor Ikan Batak berukuran besar dan kecil, Ikan Batak inilah yang
menjadikan Desa Bonan Dolok istimewa dan menjadi salah satu objek parawisata di Balige Kabupaten Toba Samosir. Biasanya Ikan Batak tersebut bersembunyi dalam goa-goa batu yang berada didasar kali dan akan keluar saat pengunjung turun ke sungai Sirambe Nauli untuk memberi makan, missal seperti kacang-kacangan atau pun nasi.

Masyarakat setempat mengatakan air sungai dapat dipergunakan sebagai obat, namun Ikan Batak yang terdapat disitu tidak dapat diambil. Konon sudah pernah ada pengunjung yang mengambil Ikan Batak dari sungai tersebut dan dimasaknya dirumahnya namun anehnya Ikan Batak itu hanya setengah yang matang dan setengah lagi tidak matang. Disebutkan pula, apabila ada pengunjung yang mengambil Ikan Batak itu akan mengalami sakit keras.

Demikianlah mitos tentang ihan batak, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan anda tentang hal hal yang berhubungan dengan masyarakat batak.

Minggu, 06 Maret 2016

OMPUNG SILAMPONGA DAN ASAL MULA NAMA LAMPUNG

Menurut cerita, di daerah yang kini disebut Tapanuli. Meletuslah sebuah gunung berapi. Karena letusannya
sangat hebat, banyak penduduk mati akibat semburan api lahar, dan batu-batuan dari gunung berapi itu. Akan tetapi, banyak juga yang berhasil menyelamatkan diri. Meletusnya gunung berapi di Tapanuli itu, menurut cerita membentuk sebuah danau yang sekarang disebut Danau Toba.

Ada empat orang bersaudara di antaranya yang berhasil selamat dari letusan gunung berapi itu. Mereka
menyelamatkan diri dan meninggalkan Tapanuli menuju arah tenggara. Mereka naik sebuah rakit menyusuri pantai bagian barat Pulau Swarnadwipa, sekarang bernama Pulau Sumatera.
Keempat bersaudara itu bernama Ompong Silitonga, Ompung Silamponga, Ompung Silaitoa, dan Ompung Sintalanga. Berhari-hari mereka berlayar dengan rakit untuk menghindari letusan gunung berapi di kampung. Siang malam mereka tidur di atas rakit, terus menyusuri pantai. Berbulan-bulan mereka terombang-ambing di laut karena perjalanan mereka tanpa tujuan. Persediaan makanan yang dibawa makin lama makin menipis. Beberapa kali empat bersaudara itu singgah dan mendarat di pantai untuk mencari bahan makanan. Entah karena apa, pada suatu hari ketiga saudara Ompung Silamponga tidak mau melanjutkan perjalanan, padahal Ompung Silamponga saat itu sedang sakit. Mereka turun ke darat dan menghanyutkan Ompung Silamponga dengan rakit yang mereka tumpangi sejak dari Tapanuli. Berhari-hari Ompung Silamponga tidak sadarkan diri di atas rakitnya.

Akirnya pada suatu hari, Ompung Silamponga terbangun karena ia merasakan rakitnya menghantam suatu benda keras. Setelah membuka mata, Ompung Silamponga kaget. Rakitnya sudah berada di sebuah pantai yang ombaknya tidak terlalu besar. Anehnya, Ompung Silamponga merasa badannya sangat segar. Segera ia turun ke pasir, melihat ke sekeliling pantai. Dengan perasaan senang, ia tinggal di pantai itu. Kebetulan di sana mengalir sebuah sungai berair jernih. Ompung berpikir, di situlah tempatnya yang terakhir, aman dari letusan gunung berapi. Ia tidak tahu sudah berapa jauh ia berlayar. Ia juga tidak tahu di mana dimana saudaranya-saudaranya tinggal.

Cukup lama, Ompung tinggal di daerah pantai, tempatnya terdampar. Menurut cerita, tempat terdampar Ompung Silamponga dulu itu, kini bernama Krui, terletak di Kabupaten Lampung Barat, tepatnya di pantai barat Lampung atau disebut dengan daerah pesisir. Setiap hari Ompung bertani, yang bisa menghasilkan bahan makanan. Tidak disebutkan apa jenis tanaman yang ditanam Ompung saat itu.
Karena sudah lama tinggal di daerah pantai, ingin rasanya Ompung berjalan-jalan mendaki pegunungan di
sekitar tempat tinggalnya. Semakin jauh Ompung masuk ke hutan, semakin senang ia melakukan perjalanan
seorang diri.Pada suatu hari, sampailah Ompung di suatu bukit yang tinggi. Dengan perasaan senang, ia memandang ke arah laut, lalu ke arah timur dan selatan. Ia sangat kagum melihat keadaan alam di sekitar tempatnya berdiri, apalagi di kejauhan tampak dataran rendah yang sangat luas.
Karena hatinya begitu gembira, tidak disadarinya ia berteriak dari atas bukit itu,
"Lappung....Lappung....Lappung!" Kata Lappung berarti luas dalam bahasa Tapanuli. Dalam hati, Ompung, pasti disekitar dataran rendah yang luas itu ada orang. Dengan tergesa-gesa, ia menuruni bukit dan menuju dataran rendah yang ia lihat dari atas bukit.

Ompung pun sampai di tempat yang ia tuju. Ia bertekad untuk tinggal didataran itu selamanya dan akan
membangun kampung baru. Setelah sekian tahun menetap, barulah Ompung bertemu dengan penduduk daerah itu yang masih terbelakang cara hidupnya. Meskipun demikian, mereka tidak menganggu Ompung, bahkan sangat bersahabat.Akhirnya, Ompung pun meninggal dunia di daerah yang ia sebut Lappung, kini bernama Sekala Berak atau Dataran Tinggi Belalau di Lampung Barat.
Menurut cerita rakyat di daerah itu, bahkan para ahli sejarah tentang Lampung, nama Lampung itu sendiri
berasal dari nama Ompung Silamponga. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa nama Lampung berasal dari ucapan Ompung Silamponga ketika berada di atas bukit, setelah melihat adanya dataran yang luas. Perlu diketahui, Guru besar Fakultas Hukum Universitas Lampung, Prof Hilman Hadikusuma, SH, memasukkan legenda Ompung Silamponga sebagai teori ketiganya tentang asal-usul Lampung. Beliau menyebutkan bahwa Sekala Berak adalah perkampungan pertama orang Lampung. Penduduknya disebut orang Tumi atau Buay Tumi.

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Lampung

Selasa, 23 Februari 2016

LEGENDA SISINGAMANGARAJA XII

Pada tahun 1875 Patuan Bosar yang kemudian digelari dengan Raja Ompu Pulo Batu, ditabalkan menjadi Si
Sisingamangaraja XII di Bakara. Si Singamangaraja XI (Ompu Sohahuaon), ayahanda Si Singamangaraja XII, nyatanya telah berfungsi sebagai Raja-Imam Batak dalam tenggang waktu yang lama sekali (50 tahun), yaitu dari tahun 1825 hingga tahun 1875, yakni setelah Tuanku Rau, penganjur aliran wahhabi itu membunuh Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) pada tahun 1825 di dekat Siborong-borong.

Menurut adat istiadat Batak, putra tertua dari suatu keluargalah yang diutamanakan melanjutkan pekerjaan dan fungsi orang-tuanya, khususnya di bidang adat dan pemerintahan. Karena itulah maka penduduk di Bakara dan sekitarnya ingin menabalkan Ompu Parlopuk menjadi Si Singamangaraja XII. Tetapi karena untuk dapat menjadi Si Singamangaraja, seseorang harus mempunyai ciri-ciri kharismatis pula. Persyaratan itu harus dapat dipenuhi oleh orang yang akan ditabalkan menjadi penerus pimpinan kerajaan dan keimanan Si Singamangaraja. Kepemimpinan Kharimatis harus ada pada setiap Si Singamangaraja, yang pada masa lampau, di yakini selalu syarat mutlak daripada kepemimpinan dalam kerajaan, oleh penduduk yang masih dipengaruhi oleh suasana magis dan mystis, Calon Si Singamaraja harus dapat mencabut PISO GAJA DOMPAK dari sarungnya, menurunkan hujan dan membuat tanda-tanda luar biasa (mukjizat).

Persyaratan ini nyatanya tidak dapat dipenuhi oleh Ompu Parlopuk tetapi dapat dipenuhi oleh adiknya, yaitu Patuan Bosar. PISO GAJA DOMPAK itu ada sejak Si Singamangaraja I yaitu sekitar pertengahan abad XVI masehi. PISO GAJA DOMPAK adalah lambang kerajaan Si Singamangaraja. Keris itu bukanlah sembarang keris. Keris panjang ini adalah salah satu terpenting di kerajaan Si Singamangaraja yang di mulai dan berpusat di Bakara, ditepi Danau Toba, hanya sekitar 8 km dari Pulau Samosir yang indah itu.
Setelah melalui suatu proses yang berliku-liku, patuan Bosar pun, yang sebenarnya masih muda belia (sekitar
17 tahun) ditabalkan pada tahun 1875 menjadi Si Singamangaraja XII, karena ia mampu mencurahkan hujan pada musim kemarau yang parah waktu itu.Selaku singa yang melampaui dan singa yang terlampaui “beliau mempunyai fungsi sebagai pengatur kerajaan manusia bermata hitam” di Sumatra. Ini ditambah lagi dengan fungsi kepemimpinannya dalam bidang agama, adat istiadat, hukum, ekonomi, pertanian pendidikan, kebudayaan dan militer. Jadi jelas bukan hanya sebagai PRIESTER KONING sebagaimana dikemukakan oleh pihak kolonial Belanda.

Si Singamangaraja bukanlah tokoh mitologis, melainkan tokoh historis yang pernah benar-benar hidup dan
berjuang demi kepentingan rakyat ketika mengadakan perlawanan sengit terhadap Belanda.
Si Singamangaraja diakui sebagai raja dan imam besar (DATU BOLON) oleh semua suku Batak. Akan tetapi selain dia, rakyat masih mempunyai imam-imam di daerah- daerah dan kampung-kampung. Mereka inilah yang mempunyai hak untuk melakukan upacara pengorbanan dan pemujaan di tempat masing-masing, seperti pada saat sebelum dan sesudah anak lahir, waktu pemberian nama, pada pesta perkawinan dan upacara kematian.Perang yang berlangsung selama 30 tahun di Sumatra Utara itu berakhir secara tragis, bukan bagi keluarga Si Singamangaraja XII dan rakyat Sumatra Utara, melainkan juga bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. Hal ini demikian mengingat bahwa perjuangan Raja Si Singamangaraja XII bukan saja demi kepentingan dirinya, atau kepentingan keluarganya sendiri, melainkan berupa perjuangan Nasional yang dilakukan bersama-sama dengan suku bangsa lain untuk melawan para penjajah Belanda yang datang merebut negeri dan kekayaan penduduk Indonesia.

Pada tanggal 17 Juni 1907, hari yang naas, Raja Si Singamangaraja XII telah gugur di tembak oleh anak buah Christoffel. Raja Si Singamangaraja XII tidak gugur sendirian. Bersama dengan beliau turut juga gugur dua orang putra kendungnya, para pejuang yang tidak kenal kata menyerah dalam kamusnya, yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Pun seorang putrinya yang berusia 17 tahun yang bernama Boru Lopian, seorang srikandi sejati yang selama ini dilupakan – turut juga tewas oleh berondongan peluru Belanda di suatu jurang yang ditumbuhi hutan rimba yang kelam, di Sindias di kaki gunung Sitopangan, kira-kira 9 – 10 km dari Pearaja, Sionomhudon, Tapanuli, Sumatra Utara. Seorang tokoh lain bernama Ompu Parlopuk, abang Si Singamangaraja XII, telah meninggal sebelumnya ketika mengadakan perang gerilya menghadapi Belanda. Permaisuri Si Singamangaraja XII, Boru Situmorang, menjelang tertembaknya Si Singamangaraja XII meninggal pula karena bergerilya di tengah hutan rimba Sumatra Utara. Bahkan cucunya yang sangat dicintainya, Pulo Batu, Putra Patuan Nagari telah menutup usia pada umur amat muda karena kelaparan ketika berkecamuknya perang gerilya dan dalam keadaan dikejar-kejar oleh Belanda. Ucapan terakhir Si Singamangaraja XII ketika gugur di jurang Sindas, Sitopangan, di Sumatra Utara ialah “AHU SI SINGAMANGARAJA”.

Sumber : AHU SI SINGAMANGARAJA Oleh : Prof. DR.W. Bonar Sidjabat

Kamis, 04 Februari 2016

FAKTA MENARIK SEPUTAR DANAU TOBA

Danau Toba di Sumatera Utara dinyatakan sebagai danau kawah atau danau vulkanik terbesar di dunia! Dapat kita bandingkan dengan luas Pulau Samosir yang terdapat di tengah-tengah Danau Toba. Pulau Samosir memiliki luas yang hampir sama dengan negara Singapura! Dapat Anda bayangkan luas Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir, pastilah jauh lebih luas. Dengan panjang mencapai 87 kilometer dan lebarnya 27 kilometer dengan kedalaman mencapai lebih dari 500 meter, pasti tidak bisa dalam waktu satu hari kita dapat mengagumi keindahannya.

Ayo kita menyusuri Danau Toba yang spektakuler dengan segala keindahan alam dan budayanya.

Masa Lalu yang Menakjubkan
Selain luasnya yang luar biasa menakjubkan, masa lalu Danau Toba tidak kalah menakjubkan. Dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, Toba awalnya berupa supervulkan yaitu gunung berapi raksasa yang mampu menghasilkan letusan yang sangat dahsyat.Danau ini terbentuk akibat satu atau beberapa letusan gunung berapi yang luar biasa besar, yang menurut beberapa ilmuwan boleh jadi termasuk di antara letusan terdahsyat dalam sejarah bumi. Letusan itu membuat kawah yang luar biasa besar. Lambat laun, kawahnya yang sangat besar dipenuhi air dan membentuk apa yang kita kenal sebagai Danau Toba.
Kemudian pergeseran lapisan bumi membuat dasar danau naik dan membentuk Pulau Samosir yang sangat indah. Luas Samosir sekitar 647 kilometer persegi yaitu hampir sama dengan luas negara Singapura.

 Keindahan Danau Toba

Dengan ketinggian hampir 1 kilometer di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh deretan gunung berapi yang
merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan membuat Danau Toba begitu sejuk dan indah. Banyak pohon enau dan pinus yang tumbuh subur di sekeliling Danau Toba menambah keindahan danau ini.
Di sebelah utara Danau Toba masih bisa dijumpai berbagai fauna yang menarik seperti lutung, orangutan, dan
beberapa jenis monyet. Sedangkan di bagian selatan Danau Toba terdapat fauna yang berbeda jenis seperti monyet lingur, tapir, dan ingkir. Tentulah hal ini juga unik karena danau ini seolah-olah berfungsi sebagai garis pemisah ekologi fauna di sisi utara dan selatan Danau Toba.
Sejauh mata memandang, yang terlihat keindahan danau yang dikelilingi deretan gunung yang begitu indah dan menakjubkan. Kabut tebal kadang menyelimuti danau yang sejuk dan dingin ini. Jika tidak ada kabut, lekukan Danau Toba begitu indah untuk dikagumi. Ya, Danau Toba seperti sebuah laut di tengah-tengah daratan yang benar-benar sejuk.
Anda dapat mengamati lekuk indah Danau Toba melalui Menara Tele. Apalagi jika dilihat pada pagi hari,
pemandangannya begitu indah mengingat menara ini berada di lereng bukit. Anda dapat menemukan Menara Tele di antara Pangururan dan Sidikalang.
Jika ingin menginap tanpa menyeberang ke Pulau Samosir, Anda bisa memilih berbagai penginapan di daerah Parapat. Di Parapat ada beberapa hotel dan resor dengan pemandangan langsung ke Danau Toba.

Pulau Samosir

Di tengah-tengah Danau Toba terdapat sebuah pulau yang juga tidak kalah indah dan menakjubkan yaitu Samosir. Di sana kita bisa mengunjungi beberapa desa dan menikmati wisata alam serta wisata budaya. Danau Toba dan Pulau Samosir merupakan jantung dan kampung halaman orang Batak.
Untuk mengunjungi Pulau Samosir bisa melalui pelabuhan di Parapat yaitu Pelabuhan Ajibata. Terdapat beberapa kapal feri yang siap mengantar penduduk setempat maupun wisatawan menuju Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir. Bahkan tersedia juga beberapa feri pengangkut kendaraan seperti mobil dan motor menuju Samosir. Lama perjalanan feri menuju Pulau Samosir sekitar 30 menit.
Ketika mencapai Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir, ada banyak pedagang cindera mata khas Danau Toba dan khas tanah Batak di daerah sekitar Pelabuhan Tomok, Samosir. Anda bisa membeli kaos, kerajinan tangan dan juga ulos di lokasi ini jika ingin membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sebaiknya membeli oleh-oleh di sini karena banyak pilihan yang bisa Anda beli untuk dibawa pulang.


Penduduk yang ramah selalu siap menyambut kedatangan Anda. Selain itu, Anda akan lebih mengenal berbagai kebudayaan dan adat orang Batak di Pulau Samosir. Anda bisa menjumpai beberapa rumah adat Batak di pulau ini. Di sana Anda bisa belajar tentang sejarah Batak dan berbagai kebudayaan menarik orang Batak khususnya Batak Toba. Bahkan Anda bisa ikut menari bersama penduduk setempat saat ada pertunjukan Sigale-gale.Selain wisata budaya, kita juga akan menikmati berbagai keindahan alam Pulau Samosir. Kita bisa menemukan keindahan sawah bertingkat seperti yang terdapat di Bali. Juga ada beberapa air terjun yang begitu indah untuk dikunjungi seperti Air Terjun Simangande dan Air Terjun Pangaribuan (terletak di Kecamatan Palipi) yang merupakan air terjun terbesar di Pulau Samosir. Yang menarik di lokasi sekitar Air Terjun Pangaribuan di Palipi, diyakini sebagai tempat diturunkannya Raja Batak.

Selain air terjun, di Pulau Samosir juga terdapat dua buah danau yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni. Itu sebabnya kedua danau ini sering diberi julukan "Danau di atas danau" karena keunikannya yaitu danau yang berada di tengah Pulau Samosir, sedangkan pulau ini berada di tengah Danau Toba.
Tidak perlu takut jika satu hari tidak cukup untuk menikmati keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir. Banyak sekali penginapan di Pulau Samosir dari resor, hotel dan penginapan biasa. Anda bisa menemukan banyak penginapan di sepanjang daerah Tuktuk dan Ambarita yang tidak jauh dari Pelabuhan Tomok. Di sini kita bisa menginap sambil menikmati keindahan alam Danau Toba dan Pulau Samosir.
Danau Toba dengan Pulau Samosir memang membuat pengalaman wisata yang benar-benar indah. Danau ini begitu indahnya dari sisi mana pun. Ingin sekali untuk berlama-lama di Danau Toba karena keindahan yang spektakuler, dahsyat dan menakjubkan.

Dengan demikian dapat disimpulkan beberapa Fakta Menarik tentang Danau Toba  yang perlu Anda ketahui:
  1. Panjangnya mencapai 87 kilometer dan lebarnya 27 kilometer
  2. Diakui sebagai danau vulkanik atau danau kawah terbesar di dunia.
  3. Merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara
  4. Jumlah air di Danau Toba cukup untuk menggenangi seluruh Kerajaan Inggris hingga setinggi kira kira satu meter.
  5. Pulau Samosir di tengah Danau Toba memiliki luas 647 kilometer persegi yaitu hampir sama dengan Republik Singapura.
  6. Danau di atas danau, itulah yang terdapat di Pulau Samosir, karena memiliki dua buah danau di tengah-tengah pulau yang berada di tengah Danau Toba.
  7. Terbentuk akibat salah satu letusan terdahsyat Gunung Toba, yaitu gunung berapi supervulkan sepanjang sejarah sejak bumi terbentuk dan yang terbesar dalam dua juta tahun terakhir. Letusan Gunung Toba yaitu sekitar 74.000 tahun yang lalu membuat bumi menjadi dingin karena debu vulkanik menutupi permukaan bumi sehingga suhu di bumi berkurang hingga 10 derajat Celcius dan debu vulkanik mencapai Greenland di kutub utara dan Antartika di kutub selatan.
            Sumber : http://kumpulan.info/wisata/tempat-wisata/506-danau-toba-samosir-sumatera.html

Sabtu, 30 Januari 2016

IRONIS, RIBUAN ARTEFAK BATAK DISIMPAN DI MUSEUM EROPA

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan kemajemukan suku bangsa, adat, bahasa, budaya,agama, dan ras. Salah satu yang cukup beragam di Indonesia ialah sukunya. Di Indonesia terdapat begitu banyak suku bangsa, dan salah satu yang terkenal adalah suku Batak. Suku Batak merupakan salah satu suku dengan peradaban tertua di Indonesia yang dapat kita temui di Sumatera Utara. Oleh sebab itulah,peninggalan sejarah dari suku yang berkesinambungan dalam waktu yang sangat lama ini tak terkira nilainya.
     Peninggalan sejarah dapat berupa adat dan kebiasaan ataupun artefak. Adat dan kebiasaan biasanya diwariskan oleh leluhur suku itu dengan cara diajarkan secara turun-temurun kepada generasinya. Adat dan kebiasaan biasanya mengandung filosofi luhur mengenai kehidupan, adab, bahkan agama dan kepercayaan. Lain dengan Adat dan kebiasaan yang tak nyata, artefak merupakan bentuk nyata dari peninggalan sebuah suku. Artefak dapat berupa senjata perang, peralatan rumah tangga, peralatan sembahyang, maupun dokumen-dokumen tua milik suku tersebut. Biasanya artefak banyak diburu dengan harga tinggi oleh para kolektor baik yang domestik maupun kolektor mancanegara.
     Belakangan artefak memeng telah banyak diamankan dimuseum,namun tentu tak sepantasnya artefak milik suku asli indonesia menjadi primadona di negeri orang.
     Ribuan artefak Batak kini banyak tersebar di museum-museum di Eropa. Dari sekitar 1600 naskah Batak, hampir 90% menjadi koleksi musium di Jerman, Inggris dan Belanda. Pihak Indonesia telah mengusahakan agar pihak- pihak museum tersebut mau mengembalikan artefak itu dengan bantuan UNESCO,dan kini pengembalian itu telah dilakukan tanpa merusak kerja sama Indonesia dengan negara-negara tersebut.
     Seharusnya memang artefak- artefak tersebut ditempatkan di museum-museum di dalam negri,namun bukan salah pihak asing jika museum di Indonesia tak dapat memberikan tempat sebaik di Eropa. Dengan adanya hal ini diharapkan dapat menyadarkan generasi muda Indonesia utuk mulai mencintai adat dan budaya sendiri,serta mulai belajar dari negara-negara lain untuk dapat mewujudkan museum yang pantas bagi artefak-artefak warisan leluhur itu dan mewujudkan museum yang dijadikan kebanggaan yang dicintai masyarakat. Agar kelak budaya kita  bangsa Indonesia,dapat menjadi primadona di negeri sendiri.
Sumber: Kompas, Edisi Rabu 11 Januari 2011
                                                                                        Sumber: Kompas, Edisi Rabu 11 Januari 2011

Minggu, 17 Januari 2016

SIBORU SANGKAR SODALAHI - LEGENDA HEROIK SRIKANDI BATAK

Kisah tentang keturunan Si Marsaitan adalah kisah paling tragis sekaligus heroik dari Tanah Batak. Yaitu kisah tentang seorang anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena sang ibu, perempuan yang hebat itu, berpura-pura cinta dan menjadi istri musuhnya karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai.

Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta. Karena hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya.

Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayankanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah. Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.

Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya. Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.
Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.

Sampai di huta (desa) itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”

Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk. Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap.

”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan. Demikianlah sebuah legenda tentang srikandi Batak yang cukup heroik dalam memperjuangkan harga diri dan martabat keluarganya meskipun dengan cara yang terkadang diluar logika dan akal sehat manusia.

sumber :http://doloktolongsite.blogspot.co.id

LEGENDA BATU GURU DAN FILSAFAT BATAK TOBA "DALIHAN NA TOLU"

Legenda Batu Guru yang dijuluki sebagai simbol nyata filsafat suku Batak Toba Samosir "Dalihan  Na Tolu" tampak bagaikan mengapung di kawasan pantai Danau Toba desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir Sumatera Utara. Batu besar yang di topang tiga buah batu dibawahnya memiliki usia ribuan tahun. Batu besar yang memiliki sejarah panjang dikisahkan terbentuk dari kerbau raksasa yang jatuh ke Danau Toba dari daerah pegunungan ini diberi nama Batu Guru.

Dari ratusan lebih daftar situs wisata Pemkab.Samosir yang masing-masing memiliki daya tarik tersendiri dan legenda tersendiri, salah satunya adalah Objek Wisata Batu Guru yang terletak di tepi pantai Danau Toba tepatnya di Pantai Desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan-Samosir atau sekitar 2 Km ke arah Timur Kecamatan Nainggolan-Samosir. Objek wisata ini tidak asing lagi bagi sebagian besar warga samosir karena letaknya yang cukup strategis berada di tepi pantai juga mudah dijangkau melalui perjalanan darat yang hanya sekitar 50 m dari Jalan Provinsi-Lintas Samosir.

Batu Guru demikian objek wisata ini diberi nama, dimana Batu Guru memiliki sejarah yang cukup panjang perjalanannya yang mengisahkan kejayaan orang batak toba yang berdomisili di seputaran Kecamatan Nainggolan. Adapun kisah Legenda batu Guru yang menurut penuturan warga setempat adalah batu yang terjadi akibat suatu pertarungan antara Raja-Raja sehingga dari hasil pertarungan terjadilah dua buah batu besar yang bertikai, dimana salah satu batu berada di darat atas perkampungan dan satu lagi berada di daerah tepi pantai Danau Toba dengan ukuran yang cukup besar.

Selain sejarah panjang perjalanan Legenda Batu Guru ini ditambah letaknya yang cukup menarik karena berada di Danau Toba juga terdapat keunikan yang cukup mengagumkan, hal ini kami lakukan sendiri penelitian dengan uraian sebagai berikut:
Batu Guru yang berada di tepi pantai Danau Toba memiliki ukuran berdiameter ± 50m dengan ketinggian dari permukaan air ± 5 m dan kedalam sekitar 3m. Batu ini letaknya tidak mengena secara langsung ke dasar Danau melainkan di topang oleh tiga buah batu berukuran sedang sehingga dengan kekokohan ke tiga buah batu yang menopang Batu Guru tersebut, dipastikan kita dapa menyelam meyeberangi batu dari sisi ke sisi lain batu tersebut dan sesuai dengan beberapa filsafat orang batak, keberadaan serta susunan Batu Guru yang di topang oleh tiga buah batu berukuran sedang, diyakini bahwa Batu Guru menjadi Lambang Nyata Filsafat orang batak yang menyebutkan "Dalihan Na Tolu" yang terdiri dari:

    Somba Mar Hula-hula
    Elek Marboru
    Manat Mardongan tubu

Perobahan cuaca yang tidak menentu tak juga mengobah letak batu tersebut, bahkan Gempa Sunami yang terjadi di daerah Aceh yang efeknya juga sangat kuat hingga ke daerah Samosir pada beberapa tahun silam juga tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadap letak posisi Legenda Batu Guru tersebut. Hingga saat ini, keberadaan Legenda Batu Guru menjadi salah satu Icon wisata paling terkenal dari Kecamatan Nainggolan ditambah beberapa tempat wisata lainnya yang tak kala menarik. Namun selain tempat wisata yang memiliki segundang sejarah ini, warga setempat juga masih memiliki keyakinan tersendiri terkait pelestarian budaya dimana hingga saat ini, kita masih dapat menemukan beberapa sesajian yang dibuat oleh warga setempat karena diyakini Batu Guru tersebut memiliki kekuatan spritual dalam budaya batak toba.

Dulu tempat ini (Batu Guru) menjadi tempat paling populer bagi kalangan pelajar yang berada di kawasan Kecamatan Nainggolan karena tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat berlibur bersama rekan-rekannya. Dengan potensi wisata yang cukup menjanjikan, warga setempat dan pengunjung yang berasal dari dalam atau luar daerah Samosir hanya berharap Pemerintah memberikan sentuhan Penataan kawasan wisata Batu Guru tersebut agar lebih layak dan lebih menarik untuk di kunjungi. Keberadaan situs Batu Guru ini akan menjadi salah satu potensi wisata yang memperkaya Objek Wisata di Kabupaten Samosir.

http://dishubkominfo.samosirkab.go.id/statis-137-legenda-batu-guru.html

Selasa, 12 Januari 2016

KESAKTIAN PUSTAHA LAKLAK BATAK

Pernahkan anda mendengan tentang Pustaha Laklak Batak? Pustaha Laklak batak adalah sebuah buku atau surat dalam budaya Batak yang berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, keterangan tentang cara menolak hal-hal yang jahat (poda), mantra, ramalan-ramalan baik yang baik maupun yang buruk, serta ramalan mimpi. Buku ini biasa ditulis dengan aksara Batak. Secara fisik, pustaha terdiri dari lampak (sampul) dan laklak (kulit kayu sebagai media penulisan).Sampul buku ini sering dihiasi dengan motif Ilik, seekor kadal yang melambangkan dewa Boraspati ni Tano.

Pada dasarnya ilmu pengetahuan yang tertulis di dalam pustaha laklak Batak dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu ilmu yang menyambung hidup, ilmu yang menghancurkan hidup dan ilmu nujum. Pustaha digunakan oleh seorang datu atau seorang murid yang belajar untuk menjadi seorang datu. Pustaha biasa dibuat dari kayu atau kulit kayu pohon alim (Aquilaria malaccensis) yang dikupas. Panjang kulit kayu bisa mencapai 7 meter dan lebar 60 cm. 

Huruf-huruf di pustaha laklak Batak punya banyak keistimewaan, beberapa di antaranya huruf-huruf dalam Pustaha laklak Batak tidak akan basah walau direndam dalam air, akan tetap tampak, walau kertasnya sudah terbakar api, atau dikubur dalam tanah selama 10 tahun. Keistimewaan Pustaha Laklak itu karena ketika akan membuat Salo (bahan tinta Laklak), para nenek moyang selalu dan terlebih dulu memanjatkan doa (martobas). Seperti berikut: ASA HO MA ALE SALO NANI ONDOLHON NUPISO RAUT PANABUNG NANI ALITHONNI API MARJILLANG-JILLANG. ASA JADI MA HO SALO NAMANGUHIRHON RAKSA-RAKSA NI PORTIBON NA SUNTOL INGANANNI-INGANANNA. DIDADANG ARI NASORA MABILTAK NITAMOM NA SORA BUSUK HU UDAN NASORA LITAP. “Tobas Salo ini betul-betul terjadi dan terbukti. Yakni saat kita membuat salo, nyala api diarahkan ke parang atau pisau.

Surat Batak bisa menuliskan di luar pola nyata sampai apa yang disebut Banua Holing. Kemudian, bila direndam ke air, tulisan-tulisan huruf-huruf Batak tidak akan basah, bahkan kalau dibakar, huruf-huruf Batak tetap tampak, tapi kertas telah habis terbakar, sampai kalau dikubur dalam tanah satu sampai 10 tahun, huruf-huruf Batak tetap ada, sementara kerta atau kulit kayu sudah jadi tanah.

Bahkan konon katanya, sebuah pustaha laklak Batak yang disimpan di perpustakaan Universitas Leiden memiliki panjang hingga 15 meter lebih sampai saat ini masih tersimpan dengan baik dan utuh.

SIBORU TUMBAGA - SEBUAH LEGENDA BATAK

Di desa Sisuga-suga tinggallah seorang tua bernama Ompu Guasa. Dia mempunyai seorang adik bernama Amani Buangga. Namun sang adik tidak seperti abangnya yang sudah lama memiliki banyak harta. Konon pada masa mudanya Ompu Guasa rajin berniaga ke daerah Barus serta punya banyak kenalan. Sekarang uban mulai menjadi mahkota di kepalanya. Sehari-hari pun ia lebih suka berdiam di rumah untuk merenungkan perjalanan hidup. Tiba-tiba pikiran Ompu Guasa terantuk kembali pada kenyataan bahwa dirinya belum memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi semua hartanya. Istrinya pun sudah lama meninggal. Dua orang putrinya, bernama Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan, tak mungkin mewarisi semua harta kelak.

Adat selama ini seperti memastikan hak waris hanya dapat diteruskan oleh anak laki-laki. Kenyataan itulah yang sering membuat Ompu Guasa gelisah meskipun adiknya mempunyai keturunan laki-laki
Kegelisahan Ompu Guasa sangat terkesan dalam batuknya. Namun selalu beliau menyembunyikan perasaan dengan mengambil salohat. Alat musik dari bambu itu selalu diselipkan di kantong baju dan dilap sesekali dengan selempangnya, sehelaiulos ragihotang. Jemarinya menekan-nekan empat lobang pada jenis seruling kecil itu sampai perasaannya dapat terbenam.
“Among,” kedua putrinya sebentar menghentikan tiupannya karena mau permisi. “Kami pergi dulu ke sawah. Ayah tinggal di rumah sajalah ya.”
“Ya, berangkatlah kalian!” jawabnya sebelum melekatkan alat musik itu kembali ke bibirnya. Bila sendirian di rumah, Ompu Guasa merasa lebih leluasa memainkan salohatnya sampai terkadang seperti ratapan. Ratapannya memang menjadi tersimpan rapi dalam permainan alat musik itu. Beliau tidak pernah mampu meratap dengan andung karena tidak pintar berkata-kata.

Belum tuntas semua kegelisahan, kedua putrinya tiba-tiba kembali ke rumah. Mereka terusik dan tak tahan mendengar senandung seorang gembala di tengah jalan. Sebenarnya mereka ingin meneruskan langkah sampai ke sawah. Namun hati Siboru Tumbaga langsung seperti disayat sembilu setelah mendengar senandung itu.“Kenapa kalian kembali tiba-tiba, boruku?” dilihatnya sedikit rasa cemas di wajah putri sulungnya Siboru Tumbaga. Demikian pula pada wajah Siboru Buntulan, adik satu-satunya Siboru Tumbaga.
“Begini, among. Kami sangat berharap agar ayah segeralah menikah lagi,” tandas Siboru Tumbaga. Ompu Guasa menduga kalau kegelisahannya selama ini mengalir dan membuahkan permintaan kedua putrinya itu.
Namun ia masih mencoba menolak.“Mana mungkin aku dapat menikah lagi setua ini. Mataku pun sudah mulai rabun. Perempuan mana lagi yang bersedia kuperistri, wahai putriku? Sudahlah! Biarlah kuterima nasibku.”“Kumohonkan, among. Jangan lagi menolak permintaan ini. Tadi sebelum mendadak kembali ke rumah ini, ada seorang gembala melantunkan lagu begini: Duhai, perahu di tengah danau! Andai dayungmu patah, kemana gerangan engkau hanyut. Wahai, sang putri yang gemulai. Andai ayahanda mati, kemana gerangan engkau berpaut! Begitulah yang kami tangkap, among!”
“ Sudahlah. Kalau takdir pada badan sudah begini diberikan Sang Mulajadi Nabolon, aku tetap bisa menerimanya.” Entah sudah berapa kali Ompu Guasa mencetuskan perkataan itu di hadapan kedua putrinya. Namun karena Siboru Tumbaga tetap mendesakkan permintaan itu, akhirnya Ompu Guasa bersedia. “Kalau begitu terserahmulah, Boru Tumbaga. Kalau aku harus menikah lagi, lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan.”

Mendengar perkataan terakhir itu, Siboru Tumbaga tergerak untuk berangkat ke Barus. Di Barus ada seorang dukun bernama Datu Partungkot Bosi. Sang dukun sudah lama terkenal dengan berbagai keahliannya untuk meramalkan sesuatu. Datu Partungkot Bosi juga ahli tersohor di wilayah barat negeri yang menguasaidebata ni parmanukon, semacam peta baik-buruk untuk sesuatu yang direncanakan. Dari desa Sisuga-suga ke Barus, orang akan melalui hutan dan tempat-tempat berbahaya terutama bagi kaum perempuan. Saat menempuh perjalanan itu Siboru Tumbaga melakukan penyamaran seperti lelaki.
Dipilihnya salah satu pakaian dan topi dari lemari ayahnya. Dia pun tak lupa menggunakan kumis palsu. Sampai kebetulan ketemu di tengah hutan dengan Datu Partungkot Bosi, Siboru Tumbaga selalu berusaha menciptakan gerak-gerik menyerupai seorang laki-laki suruhan. Terkadang dia ketakutan juga dengan penyamaranannya.“Bah, lae! Kenapa kau ketakutan melihatku?” Tiba-tiba meluncur pertanyaan dari laki-laki di hadapannya itu. “Kita tidak kebetulan sama-sama manusia juga di tengah hutan ini. Kenapa kau kelihatan takut?”“Kuucapkan salam kepadamu, lae. Horas!” Balas Siboru Tumbaga sambil berusaha menirukan suara lelaki. “Kebetulan aku hendak ke negeri Barus menemui Datu Partungkot Bosi.”
“Kuharap kau jangan berpura-pura tidak mengenalku. Akulah Datu partungkot Bosi. Lalu kenapa kau memerlukanku?” Siboru Tumbaga sempat tidak percaya kalau yang dijumpainya di tengah hutan itu adalah Datu Partungkot Bosi. Namun setelah memperhatikan tampangnya yang serupa dengan cerita Ompu Guasa, Siboru Tumbaga mengakui dirinya sebagai suruhan Ompu Guasa. Lalu dari tuturan sang dukun itu, Siboru Tumbaga kemudian tahu bahwa Ompu Guasa adalah sahabat lama Datu Partungkot Bosi.
Datu Partungkot Bosi tidak begitu sulit menduga hal-hal baik dan buruk melalui debata parmanukon. Datu Partungkot Bosi benar-benar melihat tanda ajal dari sahabat lamanya itu. Ia pun menyarankan kepada Siboru Tumbaga agar melarang Ompu Guasa ke luar rumah dalam waktu seminggu.

Namun karena Ompu Guasa suatu hari berkeras mau memeriksa sawah dan hewan peliharaannya, ramalan Datu Partungkot Bosi itu pun terjadilah. Beberapa orang penduduk yang melihatnya tergelincir di pinggir sawah tergesa-gesa memberi kabar kepada kedua putri yang sedang membersihkan sekeliling rumah. Mereka pun membawa Ompu Guasa kembali ke rumah. Tapi sampai di rumah tampak Ompu Guasa tidak akan lama lagi menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan terbata-bata ia pun menyampaikan pesan kepada kedua putrinya.
“Boru Tumbaga dan Boru Buntulan, simpan…lah barang-barang berhar…ga untuk kalian berdua. Bayangan ibumu sudah sangat dekat untuk men…jem…putttku.”
Pilu yang sangat mendalam memperkuat tangisan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Ditambah lagi ratapan dari beberapa orang di dalam rumah, membuat penduduk lain desa Sisuga-suga bergegas menuju arah tangisan. Satu-satunya manusia yang menahan dirinya tidak bergegas ke sana adalah Amani Buangga. Dia baru ke sana setelah dijemput.Melewati pintu rumah yang sedang berduka itu, Amani Buangga sengaja pura-pura bertanya sambil mengarahkan pandangannya kepada Siboru Tumbaga: “Bah! Apakah ayahmu ini sudah betul-betul meninggal?” Tak cukup dengan itu, ia melanjutkan lagi: “Sekarang ayahmu sudah meninggal, Boru Tumbaga dan Boru Buntulan. Di mana kalian simpan semua harta itu?” Tentu bukan saja kedua putri itu yang terkejut dengan perilaku Amani Buangga. Salah seorang tetua kampung mencoba
mengingatkan agar Amani Buangga lebih dulu melaksanakan adat penguburan jasad Ompu Buangga.
Nampaknya Amani Buangga benar-benar tidak suka diingatkan soal adat penguburan. “Hah! Aku mau datang ke sini hanya untuk mengambil semua harta yang masih ada. Bukan untuk mengurusi adat penguburan kakandaku ini! Mestinya kalian sudah lebih tahu tata cara mengangkat mayat ini ke tempat penguburan.”
“Maaf. Kita hanya ingin melaksanakan adat yang diturunkan leluhur kepada semua kita, termasuk adat untuk penguburan orang meninggal.” Tetua itu kembali mengingatkan Amani Buangga. Namun Amani Buangga semakin memperkeras suaranya dengan nada mengancam. “Kalau kalian tidak mau menguburkan jasad ini, aku akan membuangnya ke pekarangan sana!”

Sungguh tidak terduga perkataan Amani Buangga seperti itu. Apalagi ia ucapkan di tengah kumpulan orang yang tengah berduka. Perkataan itu melanggar adat. Namun tetua kampung merasa lebih baik tidak menanggapi perkataan itu. Ia meminta orang-orang mengangkat mayat Ompu Buangga dan menguburkannya secepat mungkin. Namun selama waktu penguburan, Amani Buangga tetap tinggal di rumah Ompu Guasa. Ia juga tidak mengijinkan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan keluar dari rumah itu. Malahan ia semakin mencecar mereka dengan pertanyaan soal harta peninggalan Ompu Guasa.
“Aku sudah periksa hombung, peti harta itu! Tak satu pun lagi yang ada di sana. Di mana kalian sembunyikan pinggan pasu dan semua ulos?” Didesaknya terus kedua putri itu secara bergantian. Kalau semua pertanyaan terlambat dijawab, Amani Buangga menampar wajah kedua putri itu. Ketika semua orang mulai kembali dari tempat penguburan, tetua kampung dengan berani kembali menegur Amani Buangga.
“Maaf. Kami sudah kembali dari tempat penguburan. Sekarang kami lihat kamu mulai menyiksa kedua putri ini.” Mendengar teguran ini, Amani Buangga semakin berang dan mengatakan: “Akulah yang berhak di rumah ini. Kalau kubilang mau menggorok leher mereka berdua, aku akan gorok! Kalian mau apa?”
“Kamu benar-benar tidak beradat, Amani Buangga! Memang kamulah yang berhak di rumah ini sekarang dan,,,”“Kalau kalian sudah tahu, kenapa harus kembali ke rumah ini? Kalian tidak perlu datang lagi ke sini hanya untuk menyinggung adat!” Amani Buangga semakin tak perduli. Amani Buangga malah mengusir dan mencemooh mereka soal penghormatan atas adat. Sepeninggal para tetangga, Amani Buangga terus menyiksa kedua putri itu sebelum akhirnya mengikat mereka sampai beberapa hari di pekarangan rumah.

Namun diam-diam pada suatu malam seorang tetangga melepaskan tali yang mengikat tangan kedua putri itu.
Setelah bebas Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan merasa lebih baik meninggalkan desa Sisuga-suga untuk menghindari ancaman Amani Buangga. Demikian pula saran dari tetangga yang membebaskan mereka. Lalu mereka pergi ke hutan yang cukup jauh jaraknya dari desa Sisuga-suga. Namun di tengah hutan mereka berdua tentu kelaparan dan kehausan.
“Kakanda, Boru Tumbaga,” keluh Siboru Buntulan sambil memberi tahu rasa lapar dan hausnya. Mereka lalu memetik buah-buahan yang bisa mereka jumpai di hutan. Berhari-hari mereka berusaha bertahan di hutan itu tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi. Sementara binatang-binatang liar dan buruan berkeliaran di hutan itu. Suatu ketika mereka mendengar suara-suara aneh di kejauhan. Karena takut akan suara-suara itu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan bersembunyi di balik rumpun-rumpun tanaman besar sambil terus menahan lapar dan dahaga.

Menjelang sore hari, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan tak kuasa menahan rasa lapar dan haus. Tapi mereka tak tahu harus berbuat apa. Mereka pun menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba dari tempat lain di hutan itu, dua orang pemburu terkejut mendengar suara tangisan mereka. Mereka menduga suara itu hanya tipuan dan menganggap mustahil ada manusia selain mereka berdua saja. Lalu mereka mencoba bergantian meneliti ke arah datangnya suara tangisan itu. Kedua pemburu itu adalah abang beradik yang sebenarnya terkadang sama takutnya.“Woooi, apakah kalian manusia?” Mendengar suara itu, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan menyahut: “Yaaa…! Kami manusia!”
Si abang meyakinkan adiknya kalau suara yang menyahut itu benar-benar suara manusia.
“Ah!” Begitulah langsung reaksi adik pemburu itu. “Itu hanya tipuan hantu yang menjaga hutan ini agar kita mendekati mereka sebelum menelan kita. Tapi coba dulu, tanya mereka berapa jumlahnya.”
“Woooi! Kalau kalian benar-benar manusia, berapa orang kalian ada di situ?”
“Dua oraaang!” Sahut kedua putri.
Si abang kembali menyampaikan informasi itu. Lagi-lagi adiknya tidak percaya dengan mengatakan: “Ah, karena mereka sudah tahu kita ada dua di sini, dibilanglah mereka dua. Ayo, ayo. Kita pulang saja sebelum ditelan mereka!”

Karena si abang lebih berpengalaman berada di hutan itu, dia pun berusaha meyakinkan adiknya. Mereka lalu mendekati sumber suara itu sampai bertemu dengan sosok kedua putri yang sudah mulai kelihatan sangat lapar dan haus. Sebelum kedua pemburu itu bisa menanyakan asal-usul kedua putri, mereka terpaksa memberikan seluruh perbekalan makan dan minum mereka.
“Kalau kalian adalah putri Ompu Guasa, kenapa kalian sampai terdampar ke sini?” Setengah tidak percaya, salah seorang pemburu mulai melontarkan pertanyaan. Meskipun para pemburu itu adalah penduduk luar desa Sisuga-suga, nama Ompu Guasa sebagai orang kaya sudah tersiar ke mana-mana. Kemudian Siboru Tumbaga menceritakan kejadian dan perilaku yang mereka terima dari adik kandung ayah mereka sendiri, yakni: Amani Buangga. Kedua pemburu itu bukan saja terkejut dan ingin membantu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Namun kebetulan juga mereka belum mempunyai pasangan hidup. Abang beradik
pemburu itu pun menyatakan niat mereka menikahi putri-putri Ompu Guasa. Kedua pasangan tersebut akhirnya hidup berkeluarga.

Namun suami-suami mereka tetap memendam rasa marah atas perlakuan Amani Buangga kepada istri mereka. Suatu ketika keduanya pergi ke desa Sisuga-suga untuk memperlakukan Amani Buangga seperti yang dilakukannya kepada kedua istri.
Mereka ikat Amani Buangga di tengah kampung itu. Tibalah saatnya Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan berpura-pura lewat dan melepaskan ikatan Amani Buangga itu. Amani Buangga tidak pernah menduga kalau Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan masih hidup. Akhirnya dengan tulus hati, Amani Buangga menyesali semua perbuatannya dan ingin mengembalikan semua harta yang layak diwarisi oleh Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan.

Minggu, 29 November 2015

HAL-HAL RELIGIUS DALAM SUKU ADAT BATAK

Seluruh masyarakat Batak yang berdiam di tanah batak dan di kisahkan di cerita ini orang suku Batak belum mempunyai agama atau anemisme,lingkungan hidup dan prilaku orang suku Batak di bimbing oleh hal-hal yang berbau religius,magis dan sedikit barbau gaib. Penyelenggaran ritual adat suku Batak saat ini berasal dari ritual adat suku Batak tempo dulu,yang pada dasarnya terfokus pada permohonan,keselamatan dan berkat dari mula Jadi nabolon,penguasah alam semesta dan roh-roh  leluhur yang di percayai oleh masyarakat suku Batak tempo dulu.

1.Tondi
Tondi atau roh yang tidak kelihatan yang menyertai manusia yang dipercaya oleh masyarakat suku Batak tempo dulu yang menjadi patokan atau sumber adhikodrati,tondi atau roh yang terdapat pada masyarakat suku Batak memiliki perbedan alias tidak sama.

- Dalam kejadian tertentu,tondi dapat pergi meninggalkan badan orang tersebut atau istilah dalam bahasa batak (habang tondinya) untuk sementara,tondi atau roh akan pergi selamanya jika tubuh dari seseorang tersebut telah mati (meninggal).
- Hal-hal yang menyebabkan tondi pergi sementara meningggalkan jasad orang tersebut antara lain : saat tidur,sakit keras,pada saat terkejut,pada saat mengalami peristiwa yang luar biasa,kebakaran,kecelakaan dan lain-lain.
- Tondi dapat juga berada di posisi yang lemah dan hal ini biasanya jika orang tersebut dalam keadaan hamil 7 bulan,seorang lajang yang akan pergi merantau jauh dari keluarga dan lain-lain.
- Ritual ''Paulak Tondi'' menjadi hal-hal yang dilakukan jika tondi seseorang tersebut dalam keadaan pergi atau lemah.

2.Sahala atau Kuasa Tondi
Sahala adalah atribut dan daya kuasa khusus yang setiap orang Suku Batak memilikinya,tetapi tidak sama besarnya pada semua orang,selain kuasa tondi ada perbedaan khas antara kondisi roh orang-orang.

- Sahala setiap orang dapat dengan aktif mempengaruhi yang lain dengan cara yang bermacam-macam.
- Sahala juga dapat dipindahkan dari orang yang satu ke orang yang lain,tetapi tidak semua orang dapat dengan manjur memindahkan sahalannya ke orang lain atau mendapat sahala dari orang lain.
- Sahala bisa manjur dipindahkan ditentukan oleh Ikatan persaudaraan atau darah orang yang akan melakukan pemindahan sahala tersebut.
- Intinya,tidak semua orang berada dalam posisi yang dapat dan manjur memindahkan sahalanya kepada orang lain.

Berikut Hal-hal yang ada Kaitannnya dengan Orang yang dapat memidahkan Sahalanya :
  1.  Hula-hula ada borunya
  2.  Orang tua pada anaknya
  3.  Opung pada cucunya
  4.  Guru pada muridnya
  5.  Orang yang menjadi panutan di lingkungan atau kehidupan orang tersebut
  6.  Pemimpin atau Raja Batak
  7.  Datuk atau dukun yang dipercaya memiliki sahala yang lebih kuat dari orang tersebut

Berikut sarana atau alat-alat yang dipergunakan dalam pemindahan sahala :
  • Ulos
  • Beras
  • Ikan
  • Tabas-tabas atau doa kepada Mula jadi Nabolon
Demikianlah hal-hal yang terdapat dalam suku Batak yang mungkin dalam jaman modern ini sudah tidak ering lagi kita temukan, namun dalam sejarah peradaban nenek moyang suku Batak jaamn dulu hal ini tidak dapat dilepaslkan dalam kehidupan sehari-hari.

http://berandabatak.blogspot.com

Jumat, 06 November 2015

KISAH DIBALIK ASAL USUL BATU GANTUNG

Batu Gantung adalah sebuah kisah yang begitu melegenda di kalangan masyarakat di  Sumut. Kisah kesedihan seorang gadis cantik yang berwujud batu gantung yang ada di tepi Danau Toba pun menjadikan lokasi tersebut diberi nama Parapat.
Cerita tersebut tidak pernah hilang dari ingatan kita semua, terutama ketika melintas dari Parapat. Batu gantung yang berada di tebing tepi Danau Toba tidak pernah terlewatkan untuk dilihat. Bahkan, tidak jarang warga yang ingin rekreasi atau sekedar melintas dari lokasi itu kerap singgah di tempat yang biasa disebut Panatapan.
Selain mata ingin melihat langsung batu gantung tersebut, ada pula yang sengaja memerankan legenda tersebut. Terbukti, sebuah stasiun televisi nasional, mengangkat thema kisah legenda Batu Gantung dalam acara OVJ, kemarin.
Meski legenda itu dibawakan penuh canda tawa dan humor, namun makna legenda kisah Batu Gantung tersebut masih tetap tersirat. Ditambah, beberapa lagu daerah Batak dibawakan oleh pemeran dalam acara tersebut. Beginilah, kisah legenda gadis cantik bernama Seruni yang berubah wujud menjadi batu karena ingin dinikahkan dengan pilihan orangtuanya.
Pada zaman dahulu kala di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga tergolong sebagai anak yang rajin karena selalu membantu kedua orangtuanya ketika mereka sedang bekerja di ladang yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Suatu hari, Seruni harus bekerja di ladang seorang diri karena kedua orangtuanya sedang ada keperluan di desa tetangga. Ia hanya ditemani oleh anjing peliharaannya yang diberi nama Si Toki. Sesampainya di ladang, Seruni hanya duduk termenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.
Sementara anjingnya, Si Toki, ikut duduk di samping sambil menatap wajah majikannya yang tampak seperti sedang menghadapi suatu masalah. Sesekali, sang anjing menggonggong untuk mengalihkan perhatian Seruni apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar ladang.
Sebenarnya, beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya. Bahkan, mereka telah berjanji akan membina rumah tangga.
Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ia pun mulai berputus asa. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Namun, di sisi lain, ia juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya.
Setelah merenung beberapa saat dan tanpa menghasilkan apa-apa, Seruni beranjak bangkit dari tempat ia duduk. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya ia sudah sangat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba.
Sementara Si Toki yang juga mengikuti majikannya menuju tepi danau hanya bisa menggonggong karena tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam benak Seruni.
Saat berjalan ke arah tebing di tepi Danau Toba, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang batu besar hingga masuk ke dasarnya. Dan, karena berada di dasar lubang yang sangat gelap, membuat gadis cantik itu menjadi takut dan berteriak minta tolong kepada anjing kesayangannya.
Namun, karena Si Toki hanyalah seekor binatang, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terus-menerus menggonggong di sekitar mulut lubang.
Akhirnya gadis itu pun semakin putus asa dan berkata dalam hati, “Ah, lebih baik aku mati saja”.
Setelah berkata seperti itu, entah mengapa dinding-dinding lubang tersebut mulai merapat. “Parapat…! Parapat batu!,” seru Seruni agar dinding batu semakin merapat dan menghimpit tubuhnya.
Melihat kejadian itu, Si Toki langsung berlari ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampainya di rumah, Si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan sudah berada di rumah.
Sambil menggonggong, mencakar-cakar tanah dan mondar-mandir di sekitar majikannya, Si Toki berusaha memberitahukan bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
Sadar akan apa yang sedang diisyaratkan oleh si anjing, orangtua Seruni segera beranjak menuju ladang. Keduanya berlari mengikuti Si Toki hingga sampai ke tepi lubang tempat anak gadis mereka terperosok.
Ketika mendengar jeritan anaknya dari dalam lubang, Sang Ibu segera membuat obor sebagai penerang karena hari telah senja. Sementara Sang Ayah berlari kembali menuju desa untuk meminta bantuan para tetangga.
Tak berapa lama kemudian, sebagian besar tetangga telah berkumpul di rumah ayah Seruni untuk bersama-sama menuju ke lubang tempat Seruni terperosok. Mereka ada yang membawa tangga bambu, tambang dan obor sebagai penerangan.
Sesampainya rombongan di ladang, sambil bercucuran air mata, ibu Seruni berkata pada suaminya, “Pak, lubangnya terlalu dalam dan tidak tembus cahaya. Saya hanya mendengar sayup-sayup suara anak kita yang berkata: parapat, parapat batu…”
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, ayah Seruni segera melongok ke dalam lubang dan berteriak, “Seruniii…! Serunii…!” “Seruni…anakku! Kami akan menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu di sekelilingnya untuk merapat dan menghimpitnya.
Warga yang hadir di tempat itu juga berusaha untuk membantu dengan mengulurkan seutas tambang hingga ke dasar lubang. Namun, sama sekali tidak disentuh atau dipegang oleh Seruni.
Merasa khawatir, Sang Ayah memutuskan untuk menyusul putrinya masuk ke dalam lubang, “Bu, pegang obor ini! Saya akan turun menjemput anak kita!”
“Jangan gegabah, Pak. Lubang ini sangat berbahaya!” cegah sang istri. “Benar Pak, lubang ini sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang tetangganya.
Setelah ayah Seruni mengurungkan niatnya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan bumi pun bergoncang dahsyat yang membuat lubang secara perlahan merapat dan tertutup dengan sendirinya. Seruni yang berada di dalam lubang akhirnya terhimpit dan tidak dapat diselamatkan.
Beberapa saat setelah gempa berhenti, di atas lubang yang telah tertutup itu muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian itu mempercayai bahwa batu itu adalah penjelmaan dari Seruni dan kemudian menamainya sebagai “Batu Gantung”.
Dan, karena ucapan Seruni yang terakhir didengar oleh warga hanyalah “parapat, parapat, dan parapat”, maka daerah di sekitar Batu Gantung kemudian diberi nama Parapat. Kini Parapat telah menjelma menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Sumut.
Tidak hanya itu, pengunjung wisata pun sengaja menyewa dan naik kapal dari Long Beach, Ajibata dan kapal kecil lainnya untuk melihat batu gantung tersebut dari atas danau
Sumber : mahasiswabatak.com

SEJARAH DAN MAKNA LAGU BUTET

Tak hanya orang Batak, Lagu ini bahkan sudah familiar bagi banyak orang diluar suku Batak. Lagu BUTET. Lagu yang mengalun dengan tempo pelan dan mendayu ini memang telah melegenda. Bagi anda yang belum tahu, Butet merupakan nama panggilan yang diberikan kepada seorang Bayi Perempuan yang belum diberi Nama secara "resmi". Untuk bayi laki-laki dipanggil dengan sebutan "Ucok". Lagu Butet merupakan salah satu Lagu Wajib Nasional, yang masuk dalam Kategori Lagu Perjuangan.

Berikut ini Lirik dari Lagu Butet :

Butet dipangungsian do amangmu ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet
Da margurilla da mardarurat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet sotung ngol-ngolan rohamuna ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet
Pai ma tona manang surat ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet tibo do mulak au amangmu ale butet
Masunta ingkon saut do talu ale bute
Musunta ingkon saut do talu ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Butet haru patibu ma magodang ale butet
Asa adong da palang merah ale butet
Da palang merah ni negara ale butet

I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge
I doge doge doge (hi) dai doge (hi) doge (hi) doge

Jika diartikan secara menyeluruh kedalam Bahasa Indonesia, lebih kurang artinya seperti ini :

Butet...Ayah mu sedang berada di pengungsian,
Bergerilya dalam darurart oh..butet (2x)
Butet..Janganlah pernah jemu hatimu puteri ku..
Menanti kabar berita oh butet

Ayah mu akan cepat pulang oh butet
Musuh kita harus dikalahkan oh butet

Butet...Cepatlah Besar anakku...
agar kelak kau menjadi Palang Merah
Palang Merah Negara Kita

Dari lirik dan pengertian Lagu Butet diatas, sedikit banyaknya kita telah mengetahu pesan/makna dari Lagu ini. 

Bagaimana Sebenarnya Kisah dibalik Lagu Butet ini ? Konon Lagu Butet diciptakan dan berkumandang pertama kalinya di Gua Nagar Timbul yang letaknya berada di tengah Hutan Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah. Menurut pengakuan warga Nagatimbul dan juga warga Sitahuis bahwa syair asli lagu Butet itu adalah seperti berikut.

“Butet…di Sitahuis do Amangmu ale Butet…
damancentak hepeng Orita ale Butet…
damancetak hepeng Orita ale Butet.."

Menurut pengakuan warga Sitahuis dan Desa Nagatimbul bahwa lagu itu dinyanyikan br Tobing warga Sitahuis sewaktu menina bobokan borunya (Butet dalam bahasa batak).

“Menurut sejarah, bahwa lagu Butet itu dinyanyikan di Gua perjuangan yang terdapat di hutan Nagatimbul ini, dimana masyarakat Sitahuis dan Nagatimbul bersembunyi di gua tersebut, sementara kaum pria waktu itu berada di Sitahuis untuk berjaga-jaga dan sebagian ada yang mencetak uang ORITA (Oeang Republik Tapanoloe, yang merupakan ejaan lama). Dimana waktu itu tempat percetakan uang ORITA adalah di Sitahuis. Sewaktu Putri br Tobing ini yang disebut Si Butet mau tidur ibunyapun menina bobokannya dengan lagu Butet,”

Setelah Sitahuis dikuasi Belanda dan menjadikan Desa Sitiris yang masih satu Kecamatan dengan Sitahuis menjadi markas Belanda, percetakan uang Orita itupun dibakar sibontar mata (sebutan bagi Penjajah Belanda) namun mesin cetak uang tersebut masih sempat diselamatkan dan dibawa kedalam gua perjuangan di hutan Nagatimbul. Aktivitas percetakan uangpun sempat berlanjut di gua tersebut, namun sangat disayangkan bahwa mesin cetak uang itu tidak diketahui dimana keberadaannya hingga saat.

“Kami tidak tahu lagi kemana mesin cetak tersebut dibawa para pejuang kita dulu, hanya saja menurut sejarahnya di gua perjuangan yang berada di hutan Nagatimbul masih sempat dicetak uang ORITA sebagai alat tukar yang sah waktu itu. Makanya Belanda terus mengejar dan berusaha untuk mengambil percetakan tersebut. Namun sangat disayangkan mesin cetak itu sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadannya, apakah berhasil dibawa Belanda atau tidak,”aku Kepala Desa Nagatimbul R Pasaribu.

Menurut pengakuan Camat Sitahuis Joseph dan juga pemilik rumah yang berada dikawasan perkantoran Camat Sitahuis dan warga Sitahuis membenarkan bahwa di rumah Andareas Aritonang uang ORITA tersebut dicetak.

“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya ORITA, memang rumah ini sudah mengalami pemugaran namun hanya bagian depan saja, itupun kami jadikan sebagai warung, sedangkan pada bagian tengah rumah dan loteng rumah ini masih bawaan rumah dulu. Dan diruang tengah inilah uang tersebut dicetak,”aku T br Simatupang (Op Jesri)

Lebih lanjut Op Jesri yang sudah berusia 81 tahun ini menuturkan, Belanda terus mencari dimana lokasi percetakan uang ORITA, karena dengan adanya uang ORITA, maka uang Belanda tidak berlaku waktu itu, akunya. Namun sangat disayangkan bahwa uang tersebut tidak adalagi dimiliki Op Jesri dan juga keluarganya.

“Memang dulu ada saya simpan, tapi saya tidak terfikir bahwa uang itu akan berarti nantinya, makanya keberadaan uang tersebut tidak terlampau kami pedulikan saat itu,”kata Op Jesri.

Op Jesri juga tidak mengingat lagi kapan uang tersebut dicetak di Sitahuis, demikian juga dengan warga sekitarnya, mereka hanya mengingat bahwa dirumah Andareas Aritonang uang ORITA dicetak, sedangkan dibagian depan rumah tersebut duluny ada gudang yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang percetakan dan juga peralatan perang pejuang Tapanuli dulunya.

Sekarang kawasan tersebut suda berdiri rumah tinggal penduduk, termasuk dilahan yang dulunya gudang sudah menjadi rumah penduduk, sedangkan dikawasan sekitarnya sudah berdiri kantor Camat Sitahuis. Warga juga berharap agar bukti-bukti sejarah yang masih tertinggal dapat dirawat dan dilestarikan, karena suatu saat hal itu menjadi bukti sejarah yang sangat berarti bagi generasi berikutnya, apalagi Propinsi Tapanuli sudah terwujud nantinya akan menjadi sejarah baru bagi Propinsi Tapanuli yang kita harapkan dapat segera terwujud, harap warga.






                                                    Sumber : http://www.mahasiswabatak.com

Minggu, 18 Oktober 2015

LEGENDA DANAU SI LOSUNG DAN DANAU SI PINGGAN

Pada Zaman dahulu di Tapanuli Utara terdapat pasangan suami istri yang memiliki 2 orang anak laki-laki,
Anak yang sulung bernama Datu Dalu dan yang Bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka merupakan Orang yang ahli pengobatan dan ahli bela diri atau silat,sang syah memiliki keinginan agar ke 2 putra tersebut mewariskan keahlian yang dimilki sang ayah. Sang ayah mengajarkan ke ahliannya tersebut kepada ke 2 putra tersebut,hingga akhiranya ke 2 anaknya tersebut tubuh menjadi pemuda yang sangat gagah dan pintar mengobati segala macam penyakit dan mereka sangat terkenal akan hal itu di masyarakat sekitar kampung mereka.

Sampai pada Akhirnya Orang Tua dari 2 Anak tersebut pergi ke Hutan untuk mencari Tumbuh-tumbuhan untuk keperluan Pengobatan,Hari sudah mulai Gelap tapi Pasangan tersebut Tidak kunjung keluar dari Hutan,Akhirnya Datu Dalu dan Adiknya memutuskan untuk Pergi mencari Sang Ayah dan Ibu Mereka menelusuri Semak Belukarnya Hutan.Alangkah Terkejutnya 2 Anak tersebut ketika melihat Orang Tuannya telah Tewas di Terkam Harimau di Tengah Hutan.

Akhirnya dengan Perasaan yang sangat Sedih ke 2 Kakak Adik tersebut membawa Mayat Orang Tua Mereka dibawa ke Rumah untuk di Kuburkan,
Setelah Acara Penguburan,Tibahlah Akhirnya mereka harus membagi Harta yang di Tinggalkan Orang Tua Mereka,Pada saat itu juga Kakak Adik tersebut baru Menyadari bahwa Orang Tua Mereka tidak meninggalkan Harta Benda atau Tanah untuk di Wariskan hanya ada Sebuah ''Tombak Pusaka'' .
Dan menurut Adat yang berkembang pada saat itu,Jika ke 2 Orang Tua telah Meninggal,maka Tombak Pusaka jatuh ke Tangan Anak Sulung dan secara Langsung Tombak tersebut diberikan ke pada si Datu Dalu sebagai Anak Sulung,

Pada suatu Hari,Sangmaima Ingin meminjam Tombak tersebut pada Sang Kakak untuk Berburu Babi di Hutan yang sangat Semak Belukar tersebut.

Sangmaima : Kak,Bolehkah Saya meminjam Tombak Pusaka..?
Datu Dalu   : Untuk keperluan Apa Dik...?
Sangmaima : Saya Ingin Berburu Babi di Hutan Kak,
Datu Dalu   : Baiklah,Tombak ini Saya Pinjamkan padaMu Dik,Tolong di Jaga jangan sampai Hilang...!!!
Sangmaima : Terima Kasih Kak,Saya akan Menjaga dan Merawat Pusaka ini dengan Baik.

Akhirnya Sangmaima pergi ke Hutan setelah Meminjam Tongak Pusaka tersebut kepada Sang Kakak,
Ketika sedang ebrada di Hutan Sangmaima melihat ada Babi yang sedang Berjalan di Depannya,Langsung saja Tanpa Pikir Panjang lagi Dilemparkannya Tomba tersebut ke Arah Babi yang sedang melintas,Breakkkk....!!! Tombak tersebut pun Tepat mengenai Lambung seeokor Babi tersebut (posisi Tombak masih menempel di bagian tubuh Babi),Sangmaima pun Senang bukan kepala melihat Hal itu,Dia pikir pasti Babi tersebut akan Roboh (jatuh),Tapi Apa yang terjadi...??? seekor Babi Hutan tersebut masih sanggup Lari dan pergi ke Semak-semak.

Sangmaima mulai Ketakutan,Takut kalau sampai Tombak tersebut Hilang di Bawa oleh Babi yang Lari tersebut,Sangmaima pun berusaha mencari Babi yang berhasil Lari tersebut ke dalam Semak Belukar Hutan,Tapi Sayang Babi tersebut Tidak di Temukan,

Akhirnya Sangmaima kembali ke Rumah dan memberitahu Kakaknya bahwa Tomba Pusaka tersebut telah Hilang di bawa kabur oleh Seekor Babi.

Sangmaima : Kakak,Maaf....!!!Tombak Pusaka telah Hilang di bawa Kabur seekor Babi ke dalam Semak Belukar Hutan dan Saya tidak Berhasil menemukan Babi tersebut...!!!
Datu Dalu  : Saya Tidak ingin Tahu,Kamu harus menemukan Babi tersebut dan mengembalikan Tombak Pusaka Peninggalan Ora Tua Kita padaKu...!!!
Sangmaima : Baiklah Kak,Saya akan mencari Babi tersebut dan mengembalikan Tombak Pusakak kepada Kakak.
Datu Dalu  : Sudah jangan banyak bicara,Cepat Cari Babi itu...!!!

Saat itu juga Sangamaima kembali ke Hutan untuk mencari Babi tersebut,Iapun begitu memperhatikan di sekita Hutan tempat Dia menelusi Babi tersebut sambil sesekali memperhatikan Jejak Kaki yang ditinggalkan Babi tersebut,Pada saat Sangmaima terus mencari,Sangmaima menemuka sebuah Labang Besar di hadapannya mirip seperti Gua,dengan Rasa Penasaran Sangmaima memberanikan Diri untuk memasuki Lubang tersebut berharap menemukan seekor Babi yang telah membawa Lari Tombak Pusang Peninggalan Orang Tuannya,
Alangkah terkejutnya Sangmaima ketika Dia berada di Dalam Lubang Besar tersebut Dia melihat Isatana yang sangat Megah dan Indah,
Rasa Penasaran yang sangat Tinggi terus menghantui Sangmaima,Lalu Sangmaima lebih memberanikan Diri untuk terus menelusuri Lubang Besar tersebut,Lebih terkeutnya lagi Sangmaima ketika Dia melihat ada Seorang Wanita Cantik sedang Tergeletak Merintih Kesakitan di atas Pembaringannya,kemudian Sangmaima Menghampiri Wanita Cantik tersebut,Dan Tampaklah sebuah Mata Tombak menempel di Bagian Tubuh Wanita Cantik tersebut,''Sepertinya Tombak tersebut adalah TombakKu yang Hilang'' kata Sangmaima dalam Hati,Dia pun menyapa Wanita Cantik tersebut.

Sangmaima     : Hai Wanita Cantik,Siapa Kamu...?
Wanita Cantik : Aku Seorang Putri Raja ang Berkuasa di Istana ini...!!!
Sangmaima     : Kenapa Mata Tombak itu berada di TubuhMu...?
Wanita Cantik : Aku adalah Penjelmaan Babi Hutan yang baru saja Kamu Tombak tersebut...!!!
Sangmaima     : Maafkan Aku Putri,Sungguh Aku Tidak tau Hal itu...
Wanita Cantik : Tidak Apa-apa,semua telah Terjadi,saat ini Aku hanya berharap Kamu bisa menyembuhkan Luka yang Aku Derita...!!!
Akhirnya Sangmaima berusaha menyembuhkan Luka yang di Derita Putri Penguasa Istana tersebut berbekal Ilmu yang di Wariska Orang Tuannyya Padanya.
Dengan sangat mudah Sangmaima berhasil menyembuhkan Luka Putri dengan menyabut Mata Tombak yang menempel di Bagian Tubuh Putri Cantik tersebut.
Setelah Putri Sembuh dari Lukanya,Akhrinya Sangmaima Permisi kepada Putri untuk kembali ke Rumah dan mengembalikan Tomak yang Hilang kepada Sang Kakak.

Datu Dalu sangat Senang melihat Tombaknya telah kembali,Akhirnya Sang Kakak membuat Acara Adat Pesat Besar-besaran sebagai Ucapan Syukur bahwa Tombaknya telah kembali.
Hal yang sangat di Sayangkan,Datu Dalu tidak mengundang Adiknya di Pesta tersebut.Sehingga Adiknya memutuska untuk mengadakan Pesat Sendiri di Rumahnya,Pesta tersebut dilakukan secara bersamaan dan dengan Waktu yang sama dengan Pesta yang diadakan di kediaman Kakaknya.
Sangmaima pun membuat Pesta yang lebih Meriah debandingkan dengan Kakaknya sampai Sangmaima mendatangkan Seorang Wanita Cantik yang dihiasi bulu seperti Burung ''Ernga'',tentu saja Hal itu membuat Orang lebih banyak Datang ke pesta yang diadakan Sangmaima.Sementara itu Pesta yang diadakan Sang Kakak sangat Sepih oleh Pengunjung.
Akhirnya Sang Kakak berniat meminjam Wanita Cantik yang berhiaskan seperti Burung Ernga tersebut kepada Adiknya Sangmaima,

Datu Dalu    : AdikKu,Bolehkan Saya Meminjam Wanita Burung Ernga itu...?
Sangmaima  : Tentu saja boleh Kakak,Saya tidak keberatan meminjamkan Hiburan Wanita Burung Ernga ini pada Kakak,Asal Kakak bisa menjaga Wanita Burung Ernga ini Jangan sampai Hilang...!!!
Datu Dalu    : Baiklah AdikKu,Saya akan menjaganya dengan Baik.

Setelah Pesta yang dilakukan Sangmaima selesai,maka Sangmaima Mengantarkan Hiburan Wanita Burung Ernga tersebut kepada Kakaknya Datu Dalu yang Pembicaraan Peminjamannya telah dilakukan,
Setelah selesai mengatarkan Hubiran tersebut,Sangmaima Tidak langsung Pulang,melainkan Menyelinap dan Bersembunyi di Langit-langit Atap Rumah Kakaknya,Sangmaima bermaksud menemui Wanita Burung Ernga tersebut dan membicarakan Hal secara sembunyi-sembunyi,Sangmaima pun berhasil melakuan Hal itu.

Sangmaima                : Hai Wanita Burung Ernga,,,???Pagi-pagi sekali Kamu harus Pergi dari sini (rumahkakaknya) Tanpa sepengatuhan KakakKu...!!!???Sehingga Kakak mengirah bahwa Kamu telah Hilang.
Wanita Burung Ernga : Baiklah Tuan,Ujar Wanita Burung Ernag tersebut.

Akhirnya Waktunya Tiba,Setelah Pesta yang diadakan di Rumah Datu Dalu selesai berarti Dia harus mengembalikan Hiburan beserta Burung Ernga tersbut kepada Adiknya,
Begitu Terkejutnya Datu Dalu melihat Wanita Burung Ernga tersebut tidak ada di Kamarnya...!!!
Datu Dalu begitu Cemas,karena Tidak berhasil menjaga Wanita Burung Ernga tersebut.
Sampai pada Akhirnya Sangmaima Datang untuk menjemput Hiburan dan Wanita Burung Ernga tersebut.

Sangmaima   : Kak,Saya Datang untuk menjemput Hiburan Saya dan Wanita Burung Ernga.
Datu Dalu     : Maaf AdikKu,Saya telah menghilangkan Wanita Burung Ernga itu,Tiba-tiba saja Dia Hilang dari Kamarnya.
Sangmaima   : Kakak harus menemukan Wanita Burung Ernga tersebut...!!!
Datu Dalu     : Bagamana jika Saya Ganti denag Uang Dik...???
Sangmaima menolak Tawaran yang telah diberikan oleh Kakaknya Datu Dalu,Akhirnya Pertengkaran pun terjadi,Pertengkaran antara Kakak dan Adik itu Pum tidak terelakan lagi,Ke 2 nya saling menyerang dengan jurus-jurus yang sama yang telah di wariskan oleh Orang Tuannya.Sihingga perkelahian itu Tampak seimbang,Tidak ada yang kelihatan Menang.

Datu Dalu kemudian mengambil ''Lesung'' dan di Lemparkan ke arah Adiknya,namun Sangmaima berhasil menghindar sehingga Lesung tersebut melayang tinggi dan terdampar di Kampung Sangmaima,Tempat jatuhnya Lesung tersebut tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah Danau dan oleh Masyarakat setempat Danau Tersebut diberi Nama Danau Si Lesung yang dalam bahasa Batak atau Ucapan Bahasa Bataknya Lesung adalah Losung.

Sementara Sangmaima berniat membalas Serangan Datu Dalu,Lalu Sangmaima mengambil Piring dan dilemparkan ke arak Kakaknya Datu Dalu,Kakaknya pun berhasil menghindar dari lemparang Piring tersebut sehingga Piring tersebut jatuh di Kampung Datu Dalu dan akhinya juga Piring tersebut berubah menjadi Danau yang oleh Masyarakat setempat Danau tersebut diberi Nama Danau Si Pinggan yang dalam Bahasa Batak atau Ucapan dalam Bahasa Bataknya Piring adalah Pinggan

Demikian Kisah Awal Terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan,cerita ini diambil menurut Cerita yang berkembang di Masyarakat Tapanuli.

                                                                  Sumber : berandabatak

Kamis, 15 Oktober 2015

DATU, SIBASO, GURU DAN TUAN

1. DATU
Datu (dukun) adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di luar daya normal manusia awam (kemampuan supranatural/paranormal). Dalam struktur masyarakat Batak tradisional, Datu mendapat posisi terhormat karena kompetensinya di bidang membaca dan menulis aksara Batak, dan kemampuan lain seperti pengobatan, ilmu nujum, parhalaan (penanggalan) untuk membaca hari baik dan buruk.  Selain itu seorang Datu memegang fungsi dan peran penting  “sesuai jurusan kualifikasi keilmuaannya” dalam kelompok masyarakat territorial huta, dan berasal dari garis keturunan marga yang menempati huta.  Setiap marga
dalam satu huta minimal mempunyai seorang Datu. Seorang Datu tidak serba menguasai semua bidang-bidang hadatuon (perdukunan), tetapi biasanya terdapat satu keahlian khusus yang menonjol di bidangnya. Misalnya Datu Partaoar, dengan ramuan-ramuannya lebih ahli di bidang obat penyembuh dan penawar racun, Datu Pangatiha Pandang Torus mempunyai kemampuan sebagai peramal, dan Datu Panuju keahliannya untuk mengatur cuaca, seperti mendatangkan hujan atau menangkal hujan.

Fungsi dan peran Datu di dalam masyarakat Batak kuno, sebagai:
*  Pemimpin ritual dan religi Batak.
*  Tabib dengan ramuan tradisional yaitu:       
   - Tambar = obat tradisional dari racikan dedaunan, akar-akar atau batang tanaman (ramuan herbal);
   - Taoar = berupa ramuan dari racikan berbagai tambar dan bahan-bahan lain   yang berkhasiat untuk obat
      penawar racun, guna-guna atau obat penyembuh penyakit.
*  Ahli Nujum, menggunakan parhalaan (kalender Batak), memperkirakan hari baik yang tepat (maniti ari)  untuk melakukan sesuatu ulaon seperti pesta; memasuki rumah baru dan sebagainya. Ia juga dapat melakukan prakiraan (ramalan) berdasarkan gejala-gejala alam dan menggunakan media tertentu.
 *  Penasihat dalam permasalahan hubungan antara anggota masyarakat dalam huta atau antar huta,  membentengi secara magis suatu huta atau dalam perang mempunyai aji-ajian sitorban dolok (ilmu meruntuhkan gunung).

2. SIBASO
Datu umumnya pria, datu perempuan disebut Sibaso.  Sibaso dalam komunitas huta lebih berperan sebagai “dukun persalinan” yang ahli dibidang kebidanan, penyakit wanita dan ramuan-ramuan obat tradisional (tambar). Sibaso perannya tidak sebesar Datu. Pada upacara ritual tertentu Sibaso berfungsi mendampingi Datu (pria) sebagai medium dalam “kesurupan roh.”


3. GURU
Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian di atas Datu disebut Guru. Guru adalah gelar kehormatan yang diberikan masyarakatnya karena keunggulannya dan reputasinya yang diakui para datu lainnya. Bahkan datu dari huta lain meminta petunjuk atau berguru kepadanya, sehingga ia merupakan suhu atau mahaguru datu alias “datunya Datu”.

4. TUAN
Raja di huta tanah Batak umumnya memiliki sahala hadatuon, atau kemampuan seperti datu. Seorang Raja yang memegang posisi sebagai pemimpin tertinggi di kelompoknya tetapi juga disegani, dihormati dan diakui sebagai sesepuh oleh pemimpin kelompok lain diluar marga atau hutanya, disebut Tuan (yang terhormat). Tuan tingkatannya lebih tinggi di atas Guru.Sisingamangaraja termasuk yang bergelar Tuan, atau lengkapnya Ompu Tuan Sisingamangaraja. Bandingakan juga dengan Guru Tatea Bulan (putra pertama Si Raja Batak) dan Tuan Sori Mangaraja (cucu Si Raja Batak).


  Sumber : http://haposanbakara.blogspot.co.id




Rabu, 07 Oktober 2015

SENJATA TRADISIONAL SUMATERA UTARA

Sumatera Utara memiliki bermacam - macam senjata tradisional. Senjata tradisional Sumatera Utara ini dahulu berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri, namun saat ini fungsi tersebut berkembang menjadi
senjata pusaka dan perlengkapan pada upacara adat dan acara kesenian tradisional Sumatera Utara lainnya.

Kali ini serba-tradisional akan membahas  senjata tradisional Sumatera Utara yang dikenal dan masih ada sampai sekarang.

1. Piso Gaja Dompak
Piso Gaja Dompak adalah senjata tradisional Sumatera Utara yang berbentuk pisau yang berfungsi untuk memotong dan menusuk. Senjata Tradisional Sumatera Utara tersebut dikenal Piso Gaja Dompak karena
pada gagang pisau tersebut terdapat ukiran berbentuk gajah.Piso Gaja Dompak dipercaya merupakan pusaka kerjaan Batak dimasa raja Sisingamangaraja I. Sebagai pusaka kerjaan, senjata tradisional
Sumatera Utara ini tidak diperuntukan untuk membunuh, sebagai senjata pusaka Piso Gaja Dompak ini dipercaya memiliki kekuatan supranatural yang akan memberikan kekuatan spiritual kepada pemegangnya.


 2. Tongkat Tunggal Panaluan
Tongkat Tunggal Panaluan ini adalah tongkat sakti yang hanya dimiliki oleh raja batak. Dalam perkembanganya tongkat ini dipegang oleh Ketua adat dan dipergunakan pada saat adanya acara besar, seperti mambukka Huta, acara Horja bius dll. Saat ini tongkat pusaka raja batak ini disimpan di museum Gereja Katolik Kabupaten Samosir.Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki
kekuatan gaib untuk: meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dan lainnya.


 3.  Hujur Siringis
Hujur siringis adalah senjata tradisional Sumatera Utara berupa tombak yang dipergunakan oleh masyarakat Batak dalam berperang. Hujur Siringis berbentuk tombak kayu yang ujugnya terbuat dari logam yang runcing.


 4.  Piso Silima Sarung
Disebut Piso Silima Sarung karena  didalam 1 sarung  5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.


 5.  Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang memiliki 1 sarung didalamnya terdapat 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga,
Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan dan kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.


 6.  Piso Karo
 Pisau Karo merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang dibuat sekitar Abad 19 dengan dimensi panjang sekitar 31-55 cm. Pegangan pisau ini terbuat dari kayu, rotan dan gading. Sarungnya ditutupi perak dan suasa.


  7.  Piso Gading
Piso Gading berasal dari Toba dibuat sekitar abad ke-19, yang bahannya terbuat dari kayu, rotan, gading dan memiliki panjang keseluruhan sekitar 66 cm sedangkan panjang pisaunya sekitar 48 cm.


8. Piso Sanalenggam
Piso Sanaleggam merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang memiliki Gagang pisau menggambarkan sosok pria yang matanya dihiasi dengan kepala tertunduk. Menggunakan motif yang melilit atau melingkar dileher. Dibawahnya cincin kuningan dibuat dari kawat yang digulung.


 9. Piso Toba
Piso toba merupakan senjata tradisional Sumatera Utara yang terbuat dari kayu, besi, kuningan. Dibuat sekitar abad - 19.


sumber : http://www.tradisikita.my.id

Sabtu, 12 September 2015

BATU PERSIDANGAN

Di Pulau Samosir, Sumatera Utara, wisatawan bisa mendengar kisah orang Batak makan orang. Jangan menduga macam-macam dulu. Hal itu berawal dari cerita tentang Batu Parsidangan untuk menghukum orang-orang jahat.Bukan hanya keindahan alam yang ditawarkan Pulau Samosir, Sumatera Utara untuk Anda. Tetapi juga sumber pengetahuan akan sejarah Batak masih sangat kental di sana.Anda menyukai wisata sejarah, artefak kuno, dan semacamnya? Kalau begitu mungkin Anda pernah mendengar istilah orang Batak makan orang. Istilah tersebut bisa jadi bukan hanya sekadar istilah belaka, setelah Anda
mengunjungi Batu Parsidangan yang terletak di Pulau Samosir.

Begitu menginjakkan kaki di areal wisata Batu Parsidangan, Desa Siallagan, Pulau Samosir, Sumut Anda akan langsung disambut dengan ramah oleh warga setempat. Mereka juga merupakan penutur sejarah Batu
Parsidangan.Konon, pada zaman Raja Siallagan masih memeluk kepercayaannya, raja menerapkan
hukuman yang sangat keji untuk mengadili penjahat atau pelanggar adat setempat, seperti pencuri, pembunuh, pemerkosa, atau lawan perang. Untuk menentukan hukuman, Raja Siallagan beserta permaisuri dan tetua adat mengadakan rapat di tengah perkampungan.Letaknya berada di bawah pohon suci
Hariara. Di mana terdapat kursi-kursi yang terbuat dari batu dan melingkari meja batu.
Tempat itulah yang kini dinamai Batu Parsidangan.Rapat tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menentukan hukuman apa yang tepat untuk terdakwa. Menggunakan kalender adat Batak, Raja Siallagan bersama tetua adat menentukan waktu rapat dan juga waktu untuk mengadili terdakwa.
Apabila terbukti melanggar dan terdakwa tersebut harus dihukum pancung, maka terdakwa dibawa ke rangkaian Batu Parsidangan kedua. Tempat itu ada di belakang rangkaian pertama. Rangkaian batu
pertama dan kedua tidak begitu berbeda. Hanya saja, terdapat batu panjang cekung tempat untuk memancung terdakwa.Tata cara hukuman pancungnya pun tidak asal tebas lalu selesai. Tapi, masih harus
melewati berbagai macam proses.Penutur sejarah mengatakan pertama-tama, terdakwa ditutup matanya dan tangannya diikat menggunakan kain ulos. Kemudian terdakwa direbahkan pada sebuah batu datar
yang cukup tinggi. Selanjutnya, tubuhnya akan disayat-sayat untuk menguji ilmu kebal yang dimilikinya.
 berkali-kali hingga kekebalannya menghilang.

Prosesi selanjutnya adalah terdakwa dibawa ke batu cekung dengan asumsi bahwa ilmu kekebalan yang dimilikinya telah sepenuhnya hilang. Dalam posisi siap untuk dipancung, hadir algojo yang harus memancungnya hanya dengan sekali tebas.
Algojo tersebut akan berteriak "Horas!
Horas! Horas!" Lalu ia menebaskan pedangnya ke leher terdakwa hingga kepalanya terelepas dari badannya.Masih belum ngeri? Masih ada prosesi selanjutnya, yaitu dibelahnya badan terdakwa!

Pada proses pemancungan, rupanya telah disediakan cawan di bawah leher terdakwa untuk menampung darah segar yang mengucur dari lehernya. Setelah dirasa cukup, tubuh tanpa kepala terdakwa tersebut lalu akan direbahkan lagi di batu datar tempat pertama ia disayat-sayat.Setelah direbahkan, algojo kemudian akan membelah tubuh tanpa kepala itu secara vertikal. Diambilnya jantung dan hati, serta dagingnya, kemudian dipotong-potong kecil dan dimasukkan ke dalam cawan yang berisi penuh darah terdakwa.
Konon menurut cerita, cawan yang berisi darah segar, potongan daging, hati dan jantung itu akan diberikan kepada seluruh orang yang menonton pengadilan berdarah itu untuk dimakan. Demikian kisah yang
diyakini, tapi jangan salah paham dulu dan memandang sebelah mata.

Menurut kepercayaan yang ada saat itu, apabila orang memakan daging, hati, jantung, dan darah terdakwa yang dipercaya memiliki ilmu tinggi konon orang yang memakannya akan mendapatkan ilmu yang lebih
tinggi. Setelahnya, bagian tubuh yang tersisa akan dibuang ke Danau Toba dan kepalanya dibuang ke dalam hutan yang jauh.Istilah orang Batak makan orang bisa jadi muncul karena sejarah Batu Parsidangan
tersebut. Kalau Anda merasa tertantang untuk mengunjungi situs sejarah ini, datanglah ke Batu Parsidangan di Pulau Samosir.Apabila tidak berdarah, maka raja akan mengambil kekuatan terdakwa dengan tongkat sakti. Lalu akan disayat-sayat lagi tubuh terdakwa itu. Apabila masih kebal maka prosesi tersebut akan dilakukan






                                                                                                                 Sumber : travel.detik.com

DAFTAR ARTIKEL WBC