WORLD BATAK COMMUNITY

*Horas Jala Gabe ma Dihita Saluhutna *Horas Tondi Mandingin Pir ma Tondi Matogu,Sayur Matua Bulung *Horas Banta Haganupan,Habonaran do Bona *Majuah-juah Kita Krina *Njuah-juah Mo Banta Karina*

Selasa, 02 Februari 2016

ASA MULA NAMA SIMALUNGUN

Dahulu, di wilayah Kampung Nagur, Sumatra Utara, terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Tanah Djawo. Kerajaan suku Batak yang bermarga Sinaga ini dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Dalam menjalankan tugas pemerintahan, sang Raja didampingi oleh sejumlah hulubalang yang tangguh dan setia sehingga kerajaan ini aman dan tenteram. 
Sementara itu, di luar wilayah Nagur, terdapat pula dua kerajaan suku Batak yang berlainan marga, yaitu Kerajaan Silou dari marga Purba Tambak dan Kerajaan Raya dari marga Saragih Garingging. Meskipun berlainan marga, kedua kerajaan ini menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Nagur. Rakyat mereka pun senantiasa hidup rukun dan makmur. Kemakmuran ketiga kerajaan kecil itu ternyata menarik perhatian kerajaan-kerajaan lain untuk menguasainya.Suatu hari, tersiar kabar bahwa Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa akan datang menyerang Kerajaan Tanah Djawo.

Mendengar kabar tersebut, Raja Tanah Djawo segera meminta bantuan kepada Kerajaan Silou dan Kerajaan Raya. Kedua kerajaan itu pun menyatakan kesediaan untuk membantu Kerajaan Tanah Djawo dalam menangkal serangan dari Kerajaan Majapahit.Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Silou dan Kerajaan Raya ternyata sanggup menangkal bahkan mengusir pasukan Majapahit dari wilayah Nagur. Hal yang sama terjadi ketika Kerajaan Silou mendapat serangan dari Kerajaan Aceh. Kedua kerajaan ini, Kerajaan Tanah Djawo dan Kerajaan Raya, membantu Kerajaan Silou hingga akhirnya selamat dari
ancaman bahaya.

Suatu ketika, ribuan tentara yang tidak diketahui asalnya datang menyerang ketiga kerajaan tersebut secara
bergantian. Pertama-tama, mereka Kerajaan Tanah Djawo, lalu Kerajaan Silou, dan terakhir Kerajaan Raya. Meskipun sudah saling membantu, ketiga kerajaan tersebut akhirnya takluk juga. Serangan itu membuat masing-masing raja terpaksa menyelamatkan diri. Hal yang sama terjadi pula para rakyat yang lari tunggang-langgang menghindari sergapan musuh. Mereka meninggalkan wilayah itu secara berkelompok. Selama masa pelarian, mereka harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran musuh.
Nasib para pengungsi tersebut sangat menderita. Mereka dilanda kelaparan dan terserang berbagai macam penyakit. Untuk bertahan hidup, setiap kelompok pengungsi mencari tempat tinggal masing-masing yang dirasa aman. Sekelompok pengungsi dari Kampung Nagur kemudian menemukan tanah Sahili Misir yang kini dikenal pulau Samosir, yaitu sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Di sanalah mereka menetap dan membuka perladangan untuk bercocok tanam.

Setelah sekian lama menetap di pulau itu, hidup mereka pun mulai tertata. Bahkan, mereka telah memiliki anak cucu. Suatu ketika, mereka merasa rindu untuk kembali ke kampung halaman di Kampung Nagur. Mereka akhirnya mengadakan musyawarah.
“Siapa di antara kalian yang ingin kembali ke Kampung Nagur?” tanya seorang sesepuh selaku pemimpin musyawarah.
Mendengar pertanyaan itu, sebagian dari peserta enggan untuk kembali ke kampung halaman mereka.
“Maaf, Bapak-bapak. Kenapa kalian tidak mau ikut bersama kami? Apakah kalian tidak rindu pada kampung halaman?” tanya sesepuh itu kepada mereka. 
“Maaf, Tuan Sesepuh. Sebenarnya kami pun sangat rindu pada kampung halaman. Tapi, kami sudah merasa betah dan nyaman tinggal di pulau ini. Tempat ini sudah seperti kampung halaman sendiri. Lagi pula, siapa yang akan menjaga hewan ternak dan ladang-ladang jika semuanya ikut kembali ke kampung halaman?” jawab salah seorang peserta musyawarah.
“Benar Tuan Sesepuh,  anak dan cucu kami pun merasa senang tinggal di pulau ini,” imbuh seorang peserta musyawarah lainnya.
“Baiklah, kalau begitu. Bagi yang ingin tetap tinggal di sini, ku harap kalian tetap merawat baik-baik tempat ini. Bagi yang ingin pulang ke kampung halaman harap segera mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar sesepuh itu.Para warga yang berkeinginan kembali ke kampung halaman segera mengadakan persiapan seperlunya. Mereka akhirnya berangkat menuju Kampung Nagur. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba di Kampung Nagur.

Saat tiba kampung halaman, beberapa warga terlihat menangis. Mereka teringat pada peristiwa yang menimpa kampung mereka dahulu. Rumah-rumah mereka telah tiada. Hanya tumbuhan semak-belukar dan pepohonan yang terlihat tumbuh dengan subur.
“Sima-sima nalungun,” kata mereka.
Sejak itulah Kampung Nagur berubah nama menjadi Sima-sima Nalungun, yang berarti daerah sunyi sepi. Lama-kelamaan, orang-orang menyebutnya Simalungun. Hingga saat ini, kata Simalungun tetap dipakai untuk menyebut nama sebuah Kabupaten di Provinsi Sumatra Utara.

Demikian cerita Asal Mula Nama Simalungun dari daerah Simalungun, Provinsi Sumatra Utara. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa kerjasama dan saling membantu termasuk sifat terpuji yang patut diteladani. Sifat ini ditunjukkan oleh ketiga kerajaan tersebut di atas. Meskipun berbeda marga, mereka senantiasa saling membantu manakala salah satu di antaranya tertimpa musibah. Selain itu, cerita di atas juga mengajarkan kepada kita tentang cinta terhadap kampung halaman. Kita tidak boleh melupakan siapa diri kita dan darimana kita berasal.

Sumber : www.dongeng.web.id/legenda-cerita-rakyat-provinsi-sumatra-utara-asal-mula-nama-simalungun.html

Sabtu, 30 Januari 2016

IRONIS, RIBUAN ARTEFAK BATAK DISIMPAN DI MUSEUM EROPA

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan kemajemukan suku bangsa, adat, bahasa, budaya,agama, dan ras. Salah satu yang cukup beragam di Indonesia ialah sukunya. Di Indonesia terdapat begitu banyak suku bangsa, dan salah satu yang terkenal adalah suku Batak. Suku Batak merupakan salah satu suku dengan peradaban tertua di Indonesia yang dapat kita temui di Sumatera Utara. Oleh sebab itulah,peninggalan sejarah dari suku yang berkesinambungan dalam waktu yang sangat lama ini tak terkira nilainya.
     Peninggalan sejarah dapat berupa adat dan kebiasaan ataupun artefak. Adat dan kebiasaan biasanya diwariskan oleh leluhur suku itu dengan cara diajarkan secara turun-temurun kepada generasinya. Adat dan kebiasaan biasanya mengandung filosofi luhur mengenai kehidupan, adab, bahkan agama dan kepercayaan. Lain dengan Adat dan kebiasaan yang tak nyata, artefak merupakan bentuk nyata dari peninggalan sebuah suku. Artefak dapat berupa senjata perang, peralatan rumah tangga, peralatan sembahyang, maupun dokumen-dokumen tua milik suku tersebut. Biasanya artefak banyak diburu dengan harga tinggi oleh para kolektor baik yang domestik maupun kolektor mancanegara.
     Belakangan artefak memeng telah banyak diamankan dimuseum,namun tentu tak sepantasnya artefak milik suku asli indonesia menjadi primadona di negeri orang.
     Ribuan artefak Batak kini banyak tersebar di museum-museum di Eropa. Dari sekitar 1600 naskah Batak, hampir 90% menjadi koleksi musium di Jerman, Inggris dan Belanda. Pihak Indonesia telah mengusahakan agar pihak- pihak museum tersebut mau mengembalikan artefak itu dengan bantuan UNESCO,dan kini pengembalian itu telah dilakukan tanpa merusak kerja sama Indonesia dengan negara-negara tersebut.
     Seharusnya memang artefak- artefak tersebut ditempatkan di museum-museum di dalam negri,namun bukan salah pihak asing jika museum di Indonesia tak dapat memberikan tempat sebaik di Eropa. Dengan adanya hal ini diharapkan dapat menyadarkan generasi muda Indonesia utuk mulai mencintai adat dan budaya sendiri,serta mulai belajar dari negara-negara lain untuk dapat mewujudkan museum yang pantas bagi artefak-artefak warisan leluhur itu dan mewujudkan museum yang dijadikan kebanggaan yang dicintai masyarakat. Agar kelak budaya kita  bangsa Indonesia,dapat menjadi primadona di negeri sendiri.
Sumber: Kompas, Edisi Rabu 11 Januari 2011
                                                                                        Sumber: Kompas, Edisi Rabu 11 Januari 2011

Selasa, 26 Januari 2016

MASIHKAH ANDA INGAT DENGAN TANAMAN YANG MIRIP DENGAN RIMBANG INI?

Inggir-Inggir adalah satu jenis tanaman yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit, tanaman ini sering ditemukan didaerah sumatera. Bentuknya hampir mirip dengan Rimbang, daun, buah-buahan dan pohon hampir sama.Tanaman ini mudah dijumpai didaerah Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Masyarakat didaerah itu menyebut tanaman ini dengan nama Inggir-Inggir.Inggir-inggir  dengan nama ilmiahnya adalah Solanum sanitwongsei Craib yang diduga  mempunya i kandungan alkaloid yang mampu menimbulkan efek diuretik.

Ciri khas tanaman ini tidak berduri, daun dan buah warna hijau memiliki perbedaan warna yang berbeda. Jika buah masak akan berwarna merah. Tanaman ini lebih tumbuh seperti bunga, batangnya tidak terlalu besar dan tidak tinggi, biasanya para penduduk disana menananmnya di sekitar pekarangan rumah, karena rantingnya yang banyak dan cepat bercabang sehingga tamanan ini cocok sebagai pengganti pagar rumah.
Ada beberapa penyakit yang dapat diobati dengan mengkonsumsi buah ini inggir inggir ini. Masyarakat setempat percaya bahwa ingir ini dapat menyembuhkan penyakit tekanan darah tinggi, dan sakit perut. Selain menyembuhkan beberapa penyakit, buah inggir inggir  ini juga dapat meningkatkan nafsu makan.
Buah inggir Inggir dikonsumsi dengan makan buah buahnya, buahnya hampir sama dengan buah pada umumnya, bila masih muda warnanya hijau, bila sudah matang warnanya kuning kemerah-merahan, ukuran buhnya juga kecil-kecil, besarnya lebih kecil dari kelereng. Jika dimakan buah ini tidak terlalu bersahabat dilidah, karena rasanya sangat pahit.


Jumat, 22 Januari 2016

CERITA SAMPURAGA DAN SEBUAH PESAN MORAL UNTUK "PANGARANTO"

Pernahkah anda mendengar cerita tentang si Malin Kundang yang berasal dari Sumatera Barat? Ternyata dari daerah Sumatera Utara juga mempunyai cerita rakyat yang hampir mirip dengan si Malin Kundang, dimana cerita ini menceritakan tentang seorang manusia yang durhaka dengan ibunya. Cerita rakyat tersebut adalah Sampuraga yang konon berasal dari daerah Mandailing.

Pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka.Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh.

“Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan peduduknya hidup makmur,” kata sang Majikan.
“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga penasaran.
“Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,” jelas sang Majikan. Keterangan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.

“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.
“Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti” puji sang Majikan.
Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.
“Bu, Raga ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini,” kata Sampuraga kepada ibunya.
“Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?” tanya ibunya.
“Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahterta, karena tanahnya sangat subur,” jelas Sampuraga kepada ibunya.
“Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku” kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.
“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!“ Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.
“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!” seru sang ibu.

Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya.
Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya. “Bu, Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.
Berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” harap sang ibu.
Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang Ibu.
Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat, lalu berkata: “Sudahlah, Anakku! Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi,” kata sang Ibu.
Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.
Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.
“Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku?” tanya sang Majikan.“Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu,” jawab Sampuraga.
Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya-raya.
“Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya.Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.
“Sampuraga…Anakku! Ini aku ibumu, Nak!” seru nenek tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga.
Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena nenek tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

“Hei, perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!”, hardik Sampuraga.
“Sampuragaaa…, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu.
“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa: “Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.
Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.

Cerita tentang sampuraga merupakan cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran dari cerita di atas, yaitu: sifat rajin bekerja, sifat jujur dan sifat durhaka terhadap orang tua. Ketiga sifat tersebut tercermin pada sifat dan perilaku Sampuraga. Dan relevansinya dengan zaman sekarang bahwa cerita ini menyiratkan pesan moral bagi generasi muda sekarang ditengah-tengah semakin mengglobalnya dunia. Dimana orang-orang pergi untuk merantau dengan tujuan untuk memperbaiki taraf hidup tidak lagi hanya didalam negeri, bahkan sampai keluar negeri.

Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita ini adalah bahwa sejauh manapun kita merantau atau meninggalkan kampung halaman,sesukses apapun yang kita raih di perantauan, harus tetap berbakti sama orang tua dan keluarga, tetap mengingat kampung halaman, melestarikan budaya dan adat istidat lelulhurnya adalah suatu keharusan dan tidak boleh dilupakan.

Semoga cerita rakyat si Sampuraga ini dapat mengingatkan selalu para generasi muda yang saat ini sedang merantau dimanapun berada.

Senin, 18 Januari 2016

10 ALASAN MENGAPA CEWEK BATAK PANTAS KAMU JADIKAN PENDAMPING HIDUP

Buat para cowok, kini kamu tidak perlu bingung mencari pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria ini itu. Cukup dengan cewek yang sederhana, hidupmu juga akan bahagia. Apalagi jika kamu memilih cewek Batak, pilihanmu sudah yang terbaik karena alasan-alasan ini.

1. Gayanya sederhana tetapi tampak mewah
Inilah ciri khas cewek Batak. Kebanyakan dari mereka itu berpenampilan sederhana. Walaupun sederhana, mereka tampak mewah karena aura dalam dirnya yang memancar.

2. Eh mereka bukan cerewet, tetapi tegas.
Tidak hanya cowok Batak yang tegas, cewek Batak juga tegas lho. Hanya saja terkadang orang menganggap bahwa cewek Batak itu cerewet. Padahal seseungguhnya mereka hanya tegas pada dirinya sendiri dan pada kamu. Itu demi kebaikan hubungan lho, percayalah.

3. Tampang sangar, tetapi hatinya keibuan.
Nah ini nih ciri khas cewek Batak. Pada umumnya mereka memiliki hati keibuan. Walaupun tampang mereka terkadang sangar, tetapi hatinya keibuan lho. Mereka selalu tersentuh untuk membantu teman, bahkan pasangannya.

4. Untungnya, tidak terlalu manja lho.
Manja sih sah-sah saja ya kan para cowok? Tetapi ya jengkelin juga ya kalo terlalu manja. Nah jika kamu berhubungan dengan cewek Batak, itu merupakan pilihan terbaik. Karena mereka pada dasarnya tidak terlalu manja. Sifat tegas mereka sesekali muncul dan bermanfaat buatmu agar dalam suatu hubungan tidak hanya didominasi cowok dalam menentukan sesuatu.

5. Senyuman itu lo, dijamin menghanyutkan hatimu.
Cewek Batak itu sesekali senyum. Tetapi sekalinya senyum, dijamin akan menghanyutkan hatimu. Karena senyum yang mereka beri adalah senyum tulus. Ohh iya, cewek Batak jarang-jarang memberi senyumannya pada siapapun selain buat kamu yang dia anggap spesial lho.

6. Cewek Batak memiliki sifat mandiri.
Cewek Batak ini menjadi mandiri karena didikan dari orangtua mereka. Berdasarkan adat Batak, cewek juga perlu mandiri agar tidak dijatuhkan cowok. Beruntung deh mendapatkan mereka, kamu tidak perlu repot menjaganya terlalu protektif.

7. Walaupun cewek, mereka adalah pekerja keras.
Banyak orang yang mengatakan bahwa cewek tidak mungkin bisa menjadi pekerja keras. Eits, perkataan tersebut tidak berlaku untuk cewek Batak. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang pekerja keras. Apalagi dalam pendidikan, mereka juga bergiat agar berprestasi. Ya itulah tuntutan adat, bahwa perempuan Batak kini harus berpendidikan demi keluarga dan lingkungan.

8. Mereka bukan cuek loh, tetapi mereka tidak mau tebar pesona pada orang yang tidak spesial
Ini nih keuntungan kamu memiliki cewek Batak. Pada siapapun mereka memang terkesan cuek, tetapi kepadamu yang dianggap spesial, ia akan menjadi seseorang yang penuh kasih sayang. Kenyataan yang harus kamu ketahui, mereka itu tidak mau tebar pesona kepada orang banyak, karena pesona mereka hanya untuk kamu.

9. Selain itu, mereka tidak suka jaim.
Buat para cowok, sering tertipu ya karena banyak cewek yang baru kamu kenal manis tetapi selanjutnya ketahuan sifat aslinya? Nah ini pada umumnya jarang kamu dapatkan di pribadi cewek Batak. Mereka tidak terlalu jaim alias jaga image loh, buktikan saja deh. Di awal pertemuan, mereka lebih jujur untuk menunjukkan kepribadiannya kepadamu, sehingga kamu tidak perlu takut ke depannya akan berubah drastis.

10. Ketika cewek Batak berhasil kamu luluhkan, ia akan memberi perhatian super tulus padamu.
Kini, tidak hanya cowok yang harus bersikeras memberi perhatian pada cewek lho. Keuntungan kamu berhubungan dengan cewek Batak, mereka itu sangat memberikan perhatian kepadamu jika ia sudah yakin bahwa kamu adalah pasangannya.
Benarkan? pokoknya komplitlah... cewek batak itu tidak kalah dengan yang lainnya...



                                                                                                              
                                                                                                      Sumber :   http://www.tobatabo.com


10 ALASAN MENGAPA COWOK BATAK PANTAS KAMU JADIKAN PENDAMPING HIDUP

Banyak yang mengatakan, cowok Batak pada umumnya kasar dan seram. Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya demikian, karena keseraman mereka itu hanya di tampangnya saja. Faktanya, cowok Batak itu berbakat melindungi ceweknya lho. Tidak nyesal deh berhubungan dengan cowok Batak karena 10 alasan ini.

1. Prinsip Boru Ni Raja
Prinsip ini dipertahankan sejak dari nenek moyang suku Batak. Arti dari prinsip ini adalah melindungi boru ni raja (putri raja atau gadis yang mendampinginya). Perempuan harus dianggap sebagai putri raja.
Artinya, cowok Batak selalu menghormati cewek yang mendampinginya, karena mereka adalah titipan raja. Tidak heran jika cowok Batak selalu memanjakan cewek yang mendampinginya.

2. Bertanggung Jawab
Semua cowok yang memiliki pacar selalu berusaha melindungi ceweknya sebagai bentuk tanggung jawab. Beda halnya dengan cowok Batak, mereka tidak hanya berusaha, melainkan wajib hukumnya untuk bertanggung jawab. Makanya, banyak cowok batak yang berpacaran berusaha untuk memantau kemanapun ceweknya pergi.

3. Tegas
Nah, ini nih kekhasan cowok Batak dalam menjalin hubungan, yaitu tegas. Memang pada dasarnya orang Batak tidak butuh basa-basi, segalanya harus to the point. Jadi, jika kamu menjalin hubungan dengan cowok Batak, segala sesuatu yang perlu diperbincangkan, mereka akan membahasnya dengan tegas. Kamu akan merasa cowok Batak sebagai pengganti orangtuamu.

4. Hati Hello Kitty
Meski tegas, cowok Batak punya hati Hello Kitty lho. Karena, cowok Batak selalu berusaha menahan diri untuk menunjukkan amarahnya pada cewek. Jadi, jika kamu sedang menangis, cowok Batak pada umumnya akan luluh dan memanjakanmu. Apalagi jika hubungan kamu dengan cowok Batak sedang marahan, mereka akan luluh untuk minta maaf. Benar-benar berhati Hello Kitty deh, karena sangat mudah untuk luluh.

5. Suka Mengorbankan Waktu Untukmu
Cewek merupakan makhluk yang selalu ingin dimengerti dan dituruti. Karena itu, tidak heran juga jika banyak cewek mudah ngambek jika cowoknya tidak punya waktu untuk jalan. Berbeda halnya dengan cowok Batak, mereka selalu berusaha mengorbankan waktu untuk nge-date dengan pasangannya. Bahkan, mereka tidak memberitahu pada ceweknya kalau sebenarnya mereka menunda kerjaan penting demi memenuhi waktu kencan denganmu.

6. Mau Berusaha Kenalan Dengan Keluarga Kamu
Cowok Batak menjunjung tinggi sosialisasi lho. Karena sudah kewajiban mereka sebagai pembawa adat dalam suku Batak. Jadi jika mereka berhubungan dengan cewek, mereka akan berusaha berkenalan dengan keluarga kamu, baik orangtua maupun saudara kamu. Ini menunjukkan bahwa cowok batak dalam berhubungan dengan cewek bukan sekadar pacaran untuk berduaan saja, melainkan bersilahturami dengan keluarga ceweknya.

7. Memilih Untuk Serius, Bukan Untuk Bercanda
Pada umumnya cowok Batak dalam memilih hubungan tidak main-main. Mereka akan memilih kamu, jika mereka sudah menganggap kamu yang terbaik jadi pasangannya. Nah, jika kamu sudah berpacaran dengan cowok Batak, itu tandanya mereka serius menjadikan kamu pendamping hidupnya.

8. Sekalipun Pergi Jauh, Ada yang Memperhatikanmu
Poin ini nih yang hanya dimiliki jika kamu berhubungan dengan cowok Batak. Karena mereka menganggapmu sebagai putri sang Raja, sekalipun pergi jauh dari kamu, mereka akan berpesan kepada teman disekelilingmu untuk memperhatikan kamu. Apapun kondisinya, cowok Batak merupakan sosok pelindung untuk cewek yang menjadi pendampingnya.Itulah alasan mengapa cowok Batak pantas dijadikan pasangan hidup. Paling utama dalam menjalin hubungan dengan mereka adalah hati dan sifatnya, jadi bukan sekadar tampang.

9. Aktif Mengajak Ceweknya ke Keluarganya
Selain berusaha memperkenalkan dirinya kepada keluarga kamu, cowok Batak dalam berhubungan tidak pernah melewatkan momen untuk memperkenalkanmu pada keluarganya dengan sangat istimewa. Cowok Batak akan menunjukkan pada keluarganya bahwa inilah cewek yang terbaik sebagai pilihannya. Karena itu, orangtua dalam suku Batak jika memiliki anak cowok, maka akan mempertanyakan bagaimana pasangannya. Sebab merekalah penerus marga dalam keluarga itu.

10. Kalau Bercanda Tidak Garing
Nah, poin ini merupakan hal penting dalam berhubungan, yakni tidak monoton agar hubungan semakin awet. Tentunya agar tidak monoton, kamu butuh bercanda dengan pasanganmu. Orang Batak biasanya kalau bercanda, membuatmu tiada henti tertawa. Apalagi jika kamu berhubungan dengan cowok Batak, mereka ini agar memberikanmu lelucon yang dijamin tidak akan garing.

Hayoo... masih ragu pilih cowok batak jadi pasangan hidup mu..? buat apa jauh-jauh lagi mencari dari suku lain, kalau cowok batak yang mempunyai banyak keistimewaan sudah ada ...hee..hee...hee...


 Sumber:http://www.tobatabo.com


Minggu, 17 Januari 2016

SIBORU SANGKAR SODALAHI - LEGENDA HEROIK SRIKANDI BATAK

Kisah tentang keturunan Si Marsaitan adalah kisah paling tragis sekaligus heroik dari Tanah Batak. Yaitu kisah tentang seorang anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena sang ibu, perempuan yang hebat itu, berpura-pura cinta dan menjadi istri musuhnya karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai.

Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta. Karena hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya.

Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayankanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah. Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.

Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya. Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.
Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.

Sampai di huta (desa) itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”

Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk. Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap.

”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan. Demikianlah sebuah legenda tentang srikandi Batak yang cukup heroik dalam memperjuangkan harga diri dan martabat keluarganya meskipun dengan cara yang terkadang diluar logika dan akal sehat manusia.

sumber :http://doloktolongsite.blogspot.co.id

LEGENDA BATU GURU DAN FILSAFAT BATAK TOBA "DALIHAN NA TOLU"

Legenda Batu Guru yang dijuluki sebagai simbol nyata filsafat suku Batak Toba Samosir "Dalihan  Na Tolu" tampak bagaikan mengapung di kawasan pantai Danau Toba desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir Sumatera Utara. Batu besar yang di topang tiga buah batu dibawahnya memiliki usia ribuan tahun. Batu besar yang memiliki sejarah panjang dikisahkan terbentuk dari kerbau raksasa yang jatuh ke Danau Toba dari daerah pegunungan ini diberi nama Batu Guru.

Dari ratusan lebih daftar situs wisata Pemkab.Samosir yang masing-masing memiliki daya tarik tersendiri dan legenda tersendiri, salah satunya adalah Objek Wisata Batu Guru yang terletak di tepi pantai Danau Toba tepatnya di Pantai Desa Pangaloan Kecamatan Nainggolan-Samosir atau sekitar 2 Km ke arah Timur Kecamatan Nainggolan-Samosir. Objek wisata ini tidak asing lagi bagi sebagian besar warga samosir karena letaknya yang cukup strategis berada di tepi pantai juga mudah dijangkau melalui perjalanan darat yang hanya sekitar 50 m dari Jalan Provinsi-Lintas Samosir.

Batu Guru demikian objek wisata ini diberi nama, dimana Batu Guru memiliki sejarah yang cukup panjang perjalanannya yang mengisahkan kejayaan orang batak toba yang berdomisili di seputaran Kecamatan Nainggolan. Adapun kisah Legenda batu Guru yang menurut penuturan warga setempat adalah batu yang terjadi akibat suatu pertarungan antara Raja-Raja sehingga dari hasil pertarungan terjadilah dua buah batu besar yang bertikai, dimana salah satu batu berada di darat atas perkampungan dan satu lagi berada di daerah tepi pantai Danau Toba dengan ukuran yang cukup besar.

Selain sejarah panjang perjalanan Legenda Batu Guru ini ditambah letaknya yang cukup menarik karena berada di Danau Toba juga terdapat keunikan yang cukup mengagumkan, hal ini kami lakukan sendiri penelitian dengan uraian sebagai berikut:
Batu Guru yang berada di tepi pantai Danau Toba memiliki ukuran berdiameter ± 50m dengan ketinggian dari permukaan air ± 5 m dan kedalam sekitar 3m. Batu ini letaknya tidak mengena secara langsung ke dasar Danau melainkan di topang oleh tiga buah batu berukuran sedang sehingga dengan kekokohan ke tiga buah batu yang menopang Batu Guru tersebut, dipastikan kita dapa menyelam meyeberangi batu dari sisi ke sisi lain batu tersebut dan sesuai dengan beberapa filsafat orang batak, keberadaan serta susunan Batu Guru yang di topang oleh tiga buah batu berukuran sedang, diyakini bahwa Batu Guru menjadi Lambang Nyata Filsafat orang batak yang menyebutkan "Dalihan Na Tolu" yang terdiri dari:

    Somba Mar Hula-hula
    Elek Marboru
    Manat Mardongan tubu

Perobahan cuaca yang tidak menentu tak juga mengobah letak batu tersebut, bahkan Gempa Sunami yang terjadi di daerah Aceh yang efeknya juga sangat kuat hingga ke daerah Samosir pada beberapa tahun silam juga tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadap letak posisi Legenda Batu Guru tersebut. Hingga saat ini, keberadaan Legenda Batu Guru menjadi salah satu Icon wisata paling terkenal dari Kecamatan Nainggolan ditambah beberapa tempat wisata lainnya yang tak kala menarik. Namun selain tempat wisata yang memiliki segundang sejarah ini, warga setempat juga masih memiliki keyakinan tersendiri terkait pelestarian budaya dimana hingga saat ini, kita masih dapat menemukan beberapa sesajian yang dibuat oleh warga setempat karena diyakini Batu Guru tersebut memiliki kekuatan spritual dalam budaya batak toba.

Dulu tempat ini (Batu Guru) menjadi tempat paling populer bagi kalangan pelajar yang berada di kawasan Kecamatan Nainggolan karena tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat berlibur bersama rekan-rekannya. Dengan potensi wisata yang cukup menjanjikan, warga setempat dan pengunjung yang berasal dari dalam atau luar daerah Samosir hanya berharap Pemerintah memberikan sentuhan Penataan kawasan wisata Batu Guru tersebut agar lebih layak dan lebih menarik untuk di kunjungi. Keberadaan situs Batu Guru ini akan menjadi salah satu potensi wisata yang memperkaya Objek Wisata di Kabupaten Samosir.

http://dishubkominfo.samosirkab.go.id/statis-137-legenda-batu-guru.html

DAFTAR ARTIKEL WBC